
Pagi ini setelah sarapan, Seno pergi ke rumah almarhum Zian yang berada tak jauh dari rumah makan Bu Mayang. Tadi Seno sudah meminta izin kepada bu Mayang dan juga meminta kunci rumah almarhum Zian yang dipegang oleh Bu Mayang. Sebenarnya tadi Bu Mayang sempat keberatan saat Seno mengatakan ingin tinggal di rumah almarhum Zian. Bu Mayang meminta Seno untuk tinggal di warung saja. Namun setelah dipikir-pikir daripada rumah almarhum Zian kosong, lebih baik ada yang menempati. Akhirnya bu Mayang mengizinkan Seno untuk tinggal di rumah almarhum Zian.
Ceklek..! ceklek..! (Suara kunci pintu yang di putar dua kali)
Ceklek!!
Akhirnya pintu berhasil di buka. Aroma pengap langsung menyeruak menyerbu indra penciuman Seno. Seno mengedarkan pandangannya ke penjuru ruang tamu yang nampak dipenuhi banyak sarang laba-laba. Hampir empat tahun lamanya rumah itu di biarkan kosong tanpa penghuni. Seno tak jadi masuk ke dalam, namun Seno melebarkan pintunya agar udara luar bisa masuk ke dalam rumah dan juga udara pengap yang ada di dalam rumah bisa keluar sehingga terjadinya pertukaran udara.
Seno mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di teras setelah meniup debu yang menempel di kursi tersebut. Tak berselang lama ada bapak-bapak yang lewat di depan rumah almarhum Zian dan seketika itu berhenti saat melihat pintu rumah Zian terbuka. Melihat ada orang yang berhenti di depan pagar, Seno pun segera menghampiri orang tersebut.
"Pak!" Teriak Seno seraya berjalan menuju pagar.
"Iya mas, ada yang bisa saya bantu?" Tawar orang tersebut.
"Kebetulan pak, perkenalkan saya Seno temannya almarhum Zian yang punya rumah ini."
"Owh, mas Zian?" Bapak tersebut nampak manggut-manggut.
"Iya, rencananya saya mau menempati rumah ini. Bisa minta tolong carikan orang yang mau membersihkan rumah ini pak?"
"Wah, kalau begitu saya siap bantu Mas. Saya tetangganya Mas Zian dulu. Rumah saya ada di ujung sana." Bapak tersebut menunjuk arah di ujung gang.
"Terimakasih pak, nanti bapak bisa ajak dua atau tiga orang buat membantu bapak. Usahakan nanti sore sudah selesai, soalnya nanti malam mau saya tempati."
"Beres mas!" Seno menyerahkan lima lembar uang seratus ribuan kepada bapak tersebut. Bapak tersebut pun segera menerima uang pemberian dari Seno.
"Boleh pinjam ponselnya pak?" Tanpa bertanya bapak tersebut segera menyerahkan ponselnya kepada Seno. Seno langsung mengetikkan nomornya ke dalam ponsel bapak tersebut kemudian menyerahkan kembali ponsel bapak tersebut.
"Ini nomor handphone saya Pak, nanti kalau sudah selesai bapak bisa menghubungi saya."
"Siap mas!"
"Ya sudah, ini kunci rumahnya. Sementara saya di tempat bu Mayang dulu."
*****
"Ayah dalimana?" Tanya baby Camelia saat melihat ayahnya baru saja memasuki rumah makan.
"Tadi ayah jalan-jalan sebentar sayang." Seno langsung mengangkat sang anak ke dalam gendongannya. "Anak ayah udah bangun? Udah cantik gini." Seno menciumi wajah putrinya.
"Kok Mel gak di ajak?" Baby Camelia mengerucutkan bibirnya seraya melipat kedua tangannya ke dada.
"Tadi kan Camel belum bangun sayang."
"Kan jalan-jalanna bisa tundu Mel banun!" Baby Camelia nampak kesal dengan sang ayah.
"Iya deh iya, nanti sore kita jalan-jalan sama buna. Oke!"
"Ote!" Baby Camelia mengacungkan kedua jempolnya. Baby Camelia segera turun dari gendongan sang ayah kemudian berlari menghampiri Laras yang berdiri di balik meja kasir. "Buna, nanti sore kita jalan-jalan ya?" Baby Camelia menarik rok panjang yang digunakan oleh Laras. Laras mengalihkan pandangannya ke arah baby Camelia dan Seno secara bergantian. Setelah mendapatkan anggukan dari Seno, ia baru bisa menjawab ajakan baby Camelia.
"Iya sayang! Ayo Camel makan dulu, tadi buna udah minta mak Rat buat siapin sarapan Camel." Laras menggandeng tangan mungil baby Camelia menuju salah satu kursi yang ada di sana kemudian segera menyuapi baby Camelia.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ