Candamu Canduku

Candamu Canduku
SLC 11



Setelah dari Bandung menghadiri pemakaman Radit dan berlanjut ke Jakarta mengunjungi Anja, akhirnya siang ini mereka berempat tiba kembali di Surabaya.


Seno langsung membawa masuk anaknya yang sejak tadi tertidur di pangkuannya ke dalam kamar Laras. Laras pun mengekor di belakang Seno. Seno merebahkan anaknya ke atas ranjang lalu melangkah pergi tanpa sepatah kata pun, membuat Laras sedikit bingung dengan sikapnya. Namun bukannya keluar dari kamar, Seno malah menutup pintu kamar Laras yang sejak tadi dibiarkan terbuka lebar.


Seno kembali menghampiri Laras yang sejak tadi berdiri mematung di dekat meja rias.


"Terimakasih sudah mau memberikan ku kesempatan." Seno meraih kedua tangan Laras dan menggenggamnya, membuat Laras tersadar.


"Ya! Terimakasih juga karena mau menerima ku yang tidak sempurna ini." Laras menunduk menyadari kekurangannya.


"Sssssstttt!" Seno meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir Laras. "Aku tidak akan pernah menuntut itu. Kita sudah punya Camelia. Mari kita rawat dan kita besarkan anak kita bersama-sama." Setitik air mata Laras lolos saat mendengar ucapan Seno. Laras mengangguk kemudian berhambur ke pelukan Seno. Seno pun langsung merengkuh tubuh Laras dan membenamkan ciuman dalam di puncak kepala Laras.


"Terimakasih!" Laras semakin terisak dan semakin mengeratkan pelukannya, begitupun Seno.


"Aku tidak ingin berjanji apapun, tapi aku akan berusaha untuk membahagiakan kalian." Laras mengangguk dalam pelukan Seno.


Setelah Laras tenang, Seno segera pamit untuk kembali ke rumah yang ditempatinya. Tak lupa Seno membenamkan sekali lagi kecupannya di dahi Laras dengan durasi yang lebih lama. Mereka berdua sama-sama memejamkan mata menikmati kecupan tersebut.


"Apa nggak sebaiknya makan dulu mas sebelum pulang?"


"Baiklah, ayo kita ke depan. Kamu juga belum makan kan?" Laras mengangguk. Kemudian mereka berdua keluar dari kamar dan langsung menuju ke warung untuk makan siang bersama.


Setelah makan siang, Seno segera pamit pulang. Tertinggal Laras yang membereskan piring bekas makan mereka berdua.


"Ciyeeeee makin hari makin mesra aja." Goda mbak Ti yang sejak tadi menyaksikan mereka berdua bersama Mbak Sih dan juga Mak Rat. Mereka semua selalu mendukung hubungan Laras dan Seno.


"Apa sih Mbak! Kan biasanya juga begitu." Protes Laras.


"Tapi ini lain Ras! Kalau mbak perhatikan, tatapan kalian berdua sama-sama memancarkan aura cinta. Nah kalau biasanya, Seno saja yang menatap mu dengan penuh cinta."


"Apa udah kasih lampu hijau?" Lanjut mbak Ti yang di angguki malu-malu oleh Laras.


"Alhamdulillah!" Ucap mereka bertiga serempak.


"Kapan?" Ucap mereka bertiga serempak lagi membuat Laras terkekeh.


"Tunggu aja tanggal mainnya!" Laras melenggang masuk ke belakang membawa piring dan gelas kotor, membuat mereka bertiga melongo.


"Dasar anak durhakim, bisa-bisanya gantung orang tua. Emang dia pikir Emak jemuran pake digantung?" Sungut Mak Rat kemudian ikut melenggang masuk ke belakang.


"Ras!" Panggil Bu Mayang yang baru saja keluar dari kamar saat melihat anaknya membuka pintu kamar. Laras menoleh dan langsung menghampiri mamanya.


"Iya ma!"


"Kamu serius dengan keputusan mu nak?"


"Iya ma, insyaallah."


"Alhamdulillah, Mama senang akhirnya kamu mau membuka diri dan membuka hati lagi. Semoga kamu selalu diberikan kebahagiaan."


Laras langsung berhambur memeluk mamanya. "Terimakasih ma, terima kasih! Doain Laras selalu."


"Pasti nak! Mama akan selalu berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaan anak mama." Bu Mayang mengelus pelan punggung anaknya.


"Seno sudah balik?" Tanya Bu Mayang saat mengurai pelukannya.


"Sudah ma, tadi habis makan siang langsung balik."


"Ya sudah, istirahat sana. Mama mau ke depan dulu." Laras mengangguk dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Bu Mayang melangkah keluar rumah menuju ke warungnya yang sudah ditinggalkan selama dua hari ini.


*****


*****


*****


*****


*****


Baca juga novel "Luka Hati Luka Diri" dan novel "I Love You My Baby" biar gak bingung πŸ€—


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ