
Laras nampak berjalan menunduk memasuki sebuah kafe karena fokusnya ada pada benda pipih yang ada di genggamannya. Ia tak menyadari ada seseorang yang juga akan keluar dari kafe tersebut hingga ia tak sengaja menabraknya.
Bugh!
"Auuw!" Laras tersungkur ke lantai bersamaan dengan ponselnya yang terjatuh.
Klotak!
"Makanya kalau jalan itu lihat ke depan." Ucap Radit yang masih tegak berdiri seraya mengulurkan tangannya untuk membantu Laras berdiri. Laras yang sudah kenal dengan suara itu pun langsung mendongakkan kepalanya.
"Loe lagi Loe lagi! Bisa gak loe jauh-jauh dari hidup gue!" Ketus Laras seraya mengambil ponselnya yang jatuh tak jauh darinya, untung aja gak pecah tuh ponsel. Kemudian ia berdiri sendiri tanpa menghiraukan tangan Radit yang masih terulur ke arahnya. Radit pun langsung menarik kembali tangannya.
"Gue heran, kenapa setiap kali gue kesini loe selalu ada disini?" Selidik Laras curiga.
"Atau jangan-jangan kafe ini milik nenek moyang loe?" Lanjut Laras menuding ke arah Radit. Radit yang di tuding pun menjadi gelagapan.
"Gu-gue main aja kesini. Ini cafe milik sahabat gue. Noh orangnya!" Radit menunjuk ke arah Erik temannya, sedang yang di tunjuk hanya mengacungkan jempolnya.
"Ooowh." Laras membulatkan mulutnya sambil mengangguk-angguk kemudian berlalu mencari meja yang masih kosong. Sedangkan Radit mengekor di belakangnya.
"Mau minum atau makan?" Tawar Radit kepada Laras.
"Loe ngapain ngikutin gue. Bukannya loe tadi mau pergi?" Laras membalikkan badannya menghadap ke arah Radit.
"Sana ah, gue mau sendiri!" Laras mendorong dada Radit pelan, namun Radit tak bergeser sedikit pun. Radit malah menggenggam tangan Laras yang ada di dadanya.
Deg!
Mata mereka saling bertemu, jantung Laras serasa mau lompat dari tempatnya. Laras pun segera menarik tangannya kembali.
"Gu-gue pengen sendiri, plis jangan ganggu gue!" Namun Radit malah menarik kursi lalu mendudukinya tanpa menghiraukan perkataan Laras.
"Huuuft!" Laras menghembuskan nafasnya kasar. Sepertinya percuma berbicara dengan Radit, hanya akan membuang tenaganya sia-sia. Laras pun menarik sebuah kursi dan langsung mendudukinya dengan perasaan dongkol.
"Loe sebenarnya kenapa? Di putusin cowok loe?" Tanya Radit kepo.
"Sok tau!" Jawab Laras ketus.
"Akhir-akhir ini gue lihat loe sering menyendiri, sering melamun kayak orang lagi patah hati." Rupanya selama ini Radit sering memperhatikan Laras.
"Owh, jadi selama ini loe diam-diam sering merhatiin gue?" Laras mulai tersulut emosi. Namun jauh di dalam lubuk hatinya seperti ada bunga-bunga yang bermekaran. Benarkah selama ini Radit memperhatikannya? Tanpa sadar malah dia senyam-senyum sendiri.
"Kenapa lagi Loe? Tadi marah-marah kayak orang kesetanan, sekarang senyum-senyum sendiri kayak orang kesambet." Radit bergidik ngeri melihat tingkah Laras yang menurutnya aneh.
"Apa loe bilang?" Laras kembali ngegas.
"Kauuuuuu!" Geram Laras sambil melotot tajam ke arah Radit, yang mana membuat Radit semakin merinding.
Setelah sekitar satu jaman mereka mengobrol, akhirnya Laras pulang dengan di antar oleh Radit.
"Gak mampir dulu loe?" Tawar Laras.
"Gak, kapan-kapan aja. Gue langsung balik."
" Terimakasih."
"Heeemm!" Jawab Radit. Laras pun langsung turun, lalu Radit segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah makan Bu Mayang tersebut.
*****
"Akhirnya kesampaian juga loe di antar sama sultan. Tapi sayangnya tunangan orang." Sindir Riani telak saat Laras sudah ada di dekatnya.
Deg!
Jantung Laras serasa di remas saat mengingat siapa Radit. Ya , Radit adalah tunangan Shasa yang mana sahabatnya sendiri.
"Apa sih Ri, gue tadi gak sengaja ketemu dia di kafe. Terus dia nawarin bareng karena ada urusan yang searah, jadi gue ikut aja." Laras mencoba menjelaskan kepada Riani.
"Hati-hati, lama-lama jadi nyaman! Loe gak lupa kan dengan kejadian yang menimpa Anja?" Riani berkata dengan sorot tajam matanya yang membuat Laras gelagapan.
"Ma-mana mungkin gue lupa!"
"Bagus!" Ucap Riani menepuk bahu Laras, kemudian berlalu.
*****
*****
*****
*****
*****
Wes emboh Ras, emak gak melu-melu ππππ
Kepala emak wes pusing mikirin Anja π€ππ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ