
Hari ini Anja ingin di antarkan ke warung oleh suaminya, karena semalam ia meminta sahabatnya menyiapkan bahan-bahan untuk membuat rujak. Anja di perbolehkan ke warung oleh suaminya tapi dengan syarat tidak boleh kecapean. Hanya boleh duduk manis di belakang meja kasir atau tiduran di kamar belakang.
"Mak Rat, tolong buatin sambalnya donk biar aku yang kupas buahnya."
"Ok Nja." Mak Rat pun segera membuat sambal rujak di belakang. Siang-siang begini memang paling cocok buat rujak an.
"Eh Ri, kira-kira pohon mangga di depan ada buahnya gak ya?" Tanya Anja kepada Riani. Karena Riani lah yang hampir setiap pagi membersihkan daunnya yang berguguran.
"Kayaknya ada Nja, tapi masih kecil-kecil." Jawab Riani.
"Coba gue lihat." Laras segera keluar di ikuti Anja yang mengekor di belakangnya. Sedangkan Riani melanjutkan mengupas buah.
"Lihat dech Nja, ada dua itu yang agak besar." Ucap Laras seraya menunjuk ke atas. Anja pun mengikuti arah tunjuk Laras.
"Panas amat Ras, baru juga jam sepuluh tapi matahari udah terik. Bisa manjat gak loe?" Anja menyeka keringat yang ada di keningnya dengan punggung tangannya. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan mereka. Terutama perut Anja yang terlihat membuncit tak luput dari perhatiannya. Ya, saat ini Radit sedang berada di dalam mobil yang terparkir di seberang jalan. Radit segera turun dan menghampiri mereka saat melihat Laras berusaha untuk memanjat pohon mangga.
"Butuh bantuan?" Ucapan Radit sontak membuat mereka berdua terkejut. Apalagi Anja yang kenal betul dengan suara tersebut. Anja sontak beringsut mundur dengan tubuh yang sudah gemetar ketakutan.
"Aah!" Jerit Anja seraya memegangi perutnya bagian bawah.
"Pergi kamu, pergi!" Teriak Anja yang membuat Riani berlari tergopoh-gopoh dari dalam. Untung saja warung lagi sepi.
"Anja!" Laras segera menghampiri Anja yang berjalan mundur. Hampir saja Anja terjengkang ke belakang, beruntung Riani sigap menahannya dari belakang.
"Nja, gue cuma mau bantuin loe buat ambilin mangga. Gue gak ada maksud apa-apa. Plis Nja, jangan kayak gini." Mohon Radit memelas.
"Pergi!" Teriak Anja sekali lagi.
"Mending loe pergi sekarang dari pada bikin Anja tambah sakit." Gertak Laras. Akhirnya Radit pun pergi meninggalkan rumah makan tersebut. Sesekali ia menoleh ke belakang melihat Anja yang di papah masuk oleh kedua sahabatnya.
"Duduk dulu di sini." Riani menarik sebuah kursi namun Anja menggeleng.
"Gue mau tiduran aja di kamar, perut gue kram rasanya."
"Apa gak ke rumah sakit aja sebaiknya Nja?" Laras nampak panik.
"Gak usah gak papa, cuma kram dikit aja tadi. Di bawa tiduran juga nanti ilang sakitnya. Tolong jangan kasih tau mas Zian tentang ini, aku takut dia marah terus gak ngebolehin aku datang kesini lagi." Mohon Anja yang di angguki oleh kedua sahabatnya. Akhirnya Laras dan Riani mengantarkan Anja ke kamar untuk beristirahat.
"Ya udah kita ke depan dulu ya Nja. Entar kalau rujaknya sudah jadi aku bawain ke kamar aja." Ucap Riani.
"Gak usah, nanti biar aku aja yang keluar."
*****
Riani segera memanggil Anja yang terlihat sedang berkirim pesan, mungkin dengan suaminya.
"Perut loe masih sakit Nja?" Tanya Riani.
"Udah baikan kok Ri, ayo!" Anja segera beranjak dari atas ranjang kemudian keluar untuk menikmati rujaknya.
"Loh, kok ada mangganya? Bukannya tadi gak jadi ambil Ras?"
"Tadi gue balik lagi ke depan."
"Terus siapa yang manjat?"
"Gue lah, siapa lagi!"
"Serius loe yang manjat?"
"Iya, cepetan di makan. Entar pacar gue ileran."
"Heleh." Riani memutar bola matanya malas. Mereka pun akhirnya menikmati rujak bersama-sama. Tak ketinggalan Mak Rat, mbak Sih dan mbak Ti juga ikut menikmatinya.
*****
*****
*****
*****
*****
Hadeeehh Radit-Radit π€¦π€¦ ngapain muncul lagi π€¬
Hidup Anja udah tenang tanpa kehadiran mu π€ππ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ