
Pyooooookk!
Air ketuban langsung jatuh saat Laras beranjak dari duduknya, membuat semua orang semakin panik.
"Langsung gendong aja Sen!" Teriak Bu Tutik. Seno langsung menggendong sang istri dan berlari menuju ke mobilnya dengan tubuh yang sedikit gemetar. Bu Mayang pun ikut berlari mengejar menantunya. Laras dimasukkan ke dalam jok belakang disusul oleh Bu Mayang yang juga ikut masuk ke dalam mobil. Seno langsung masuk dan duduk di balik kemudi, kemudian melesatkan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Keadaan rumah makan yang tadinya kacau kembali tenang setelah ustadzah memberikan pengarahan kepada anak-anak untuk kembali tenang dan duduk di tempatnya masing-masing untuk melanjutkan makannya yang tadi belum selesai.
"Nenek, Kakak mau ikut Buna. Buna kesakitan huwaaaa." Pecah sudah tangisan Camelia yang sejak tadi ditahannya saat melihat Bunanya kesakitan.
"Ssssttt! Camel tenang dulu ya. Buna nggak papa sayang. Itu tandanya adik mau lahir. Nanti setelah acara ini selesai, kita ke rumah sakit sama-sama. Oke!" Bu Tutik mencoba menenangkan sang cucu. Camelia akhirnya mengangguk.
Setelah acara makan bersama selesai, tiba saatnya pembagian bingkisan kepada semua anak yatim yang datang sebelum mereka pulang. Dengan dibantu oleh Bu Tutik, Mbak Sih dan mbak Ti serta Mak Rat membagikan bingkisan tersebut satu persatu.
*****
Setibanya di rumah sakit, Seno langsung menggendong istrinya seraya berlari masuk ke dalam rumah sakit diikuti oleh Bu Mayang di belakangnya. Beberapa perawat yang melihat itu langsung mendorong sebuah brankar mendekati Seno. Seno perlahan merebahkan tubuh sang istri ke atas brankar kemudian mereka bersama-sama mendorong brankar tersebut menuju ke ruang persalinan.
Dokter Bella yang kebetulan berada di dalam ruang persalinan karena dia baru saja membantu persalinan pasiennya yang lain, langsung sigap. Seno ikut masuk ke dalam ruangan tersebut untuk menemani dan menguatkan sang istri. Sedangkan Bu Mayang nampak mondar-mandir di depan ruang persalinan.
"Pembukaannya sudah lengkap!" Ujar dokter Bella setelah memeriksa jalan lahir. Dua orang perawat yang membantunya pun langsung sigap dengan tugasnya masing-masing dan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh dokter Bella.
"Dengarkan instruksi saya ya Bu. Jangan mengejan sebelum saya menyuruh ibu mengejan." Ucap dokter Bella seraya tersenyum agar pasiennya tidak merasa tegang.
"Kamu kuat sayang, kamu wanita hebat!" Seno menggenggam erat tangan sang istri seraya mengecupi puncak kepala istrinya. Laras hanya mengangguk.
"Kita mulai, tarik nafas dulu Bu, kemudian buang." Dokter Bella memberi instruksi. Laras pun mengikuti instruksi yang disampaikan oleh dokter Bella. "Tarik nafas lagi, kemudian dorong!"
Laras mengejan dengan sekuat tenaga hingga bulir-bulir keringat membasahi wajahnya dan juga daerah sekitar lehernya.
"Sekali lagi Bu, tarik nafas buang dulu. Tarik nafas, dorong!"
Oweeeeeekk!!
Tepat pada dorongan yang kedua lahirlah seorang bayi laki-laki yang nampak gembul.
"Alhamdulillah...." Ucap dokter Bella dan Seno serta kedua perawat yang ada di dalam ruangan tersebut. Tak terkecuali Bu Mayang yang sejak tadi mondar-mandir di depan ruang persalinan akhirnya bisa bernafas lega setelah mendengar tangisan dari cucunya.
Dokter Bella segera menyerahkan bayi tersebut kepada seorang perawat untuk dibersihkan terlebih dahulu.
Satu jam kemudian, Laras sudah dipindahkan ke ruang perawatan bersama dengan bayinya yang memiliki berat badan 3800 gram. Wow, hampir mencapai 4 kg dan Laras berhasil melahirkannya dengan cara normal. Suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang perempuan yang bisa melahirkan secara normal.
Tak berselang lama pintu ruang perawatan Laras dibuka dan masuklah Camelia beserta Bu Tutik dan Pak Lukman.
"Buna!" Camelia langsung berlari ke arah ranjang dan langsung memeluk Bunanya yang terbaring di atas bed perawatan. "Hiks.. hiks.."
"Loh, kok nangis? Kakak kenapa sayang?" Laras membelai kepala anaknya.
"Kakak takut Buna kenapa-kenapa." Camelia mengangkat kepalanya menatap Bunanya.
"Hey, Buna baik-baik saja sayang. Itu lihat dedeknya Camel udah lahir." Laras menunjuk bayi laki-lakinya yang sejak tadi berada di pangkuan Bu Mayang sudah berpindah ke pangkuan Bu Tutik. Camel pun segera mendekati adiknya, kemudian mengecup pipi gembul sang adik.
"Adek namanya siapa?" Tanya Camelia menatap kedua orang tuanya bergantian. Mewakili Bu Mayang dan Bu Tutik serta Pak Lukman yang juga ikut penasaran dengan nama bayi yang baru saja dilahirkan oleh Laras.
"WISNU SETYAWAN dan CAMELIA SETYAWAN!" Jawab Seno tegas dan mantab.
...~END~...
*****
*****
*****
*****
*****
Alhamdulillah akhirnya emak bisa menyelesaikan novel pertama emak ini π€²π€
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ