Candamu Canduku

Candamu Canduku
Riani & Seno 17



Rencana perayaan ulang tahun pertama baby Radha yang harusnya di gelar hari ini di kediaman Wijaya gagal sudah. Pasalnya selepas subuh ini mereka semua harus secepatnya pergi ke desa asal Riani agar bisa menghadiri acara pemakaman Riani yang rencananya akan di kebumikan pagi ini.


Dua mobil meluncur beriringan dari Surabaya menuju ke desa asal Anja dan Riani. Satu mobil kantor yang berisikan supir kantor, Nara, Anja, mama Rosi serta baby Radha meluncur di belakang mengikuti mobil Radit yang ada di depan sebagai penunjuk arah. Ada Radit sebagai pengemudinya, Laras sang istri duduk di sampingnya. Sedangkan di jok bagian belakang ada Bu Mayang dan juga mbak Tini. Ya, meskipun sopir kantor pernah mengantarkan majikannya itu ke desa tersebut dua bulan yang lalu, tapi ia masih belum hafal jalannya atau bisa jadi lupa jalannya.


Rencananya semalam Bu Mayang ingin mengabari para pekerja warungnya yang tak lain adalah Mak Rat, mbak Sih dan mbak Ti, barang kali ada yang mau ikut. Namun karena mereka harus berangkat subuh, jadi setelah menimbang-nimbangnya, Bu Mayang mengurungkan niatnya tersebut. Bu Mayang hanya mengirimkan pesan kalau besok mereka akan pergi, jadi kalau para pekerjanya datang, kunci rumah makan sudah di taruh di tempat biasa.


Rencana pembukaan warung besok pun sepertinya harus di undur, karena mungkin esok mereka baru akan kembali ke Surabaya lagi.


"Happy birthday baby, anak Daddy yang cantik." Nara menciumi baby Radha yang masih tertidur lelap di pangkuannya. "Maaf ya, kalau perayaan ulang tahunnya harus gagal. Tapi Daddy janji, setelah pulang nanti Daddy akan rayain ulang tahun baby."


"Sepertinya gak usah dech mas, kan dedek juga belum ngerti. Tahun depan aja kalau dedek umur dua tahun gimana?" Anja menyahut dari jok belakang. "Nanti kita cukup tiup lilin saja, gimana ma?"


"Terserah kamu saja sayang." Balas mama Rosi.


"Baiklah, terserah kamu saja." Ucap Nara pasrah mengikuti kedua ratu hatinya.


Lima jam lebih lamanya perjalanan yang di tempuh akhirnya mereka sampai. Jenazah Riani sudah siap untuk diberangkatkan, hanya tinggal menunggu kedatangan mereka saja. Nara, Anja, Laras dan Radit ikut mengantarkan jenazah Riani ke tempat pemakaman umum yang ada di desa tersebut. Tepatnya di pemakaman kedua orang tua Anja juga. Sedangkan Bu Mayang, mama Rossi dan Mbak Tini serta baby Radha, memilih tinggal di rumah Pak Lukman untuk menemani Bu Tutik dan juga baby Camelia yang sejak tadi terus menangis seolah ia tidak rela melepas kepergian ibundanya.


TPU desa setempat.....


Dua jam lamanya prosesi pemakaman Riani akhirnya selesai. Orang-orang yang tadi ikut mengantarkan kepergian Riani satu persatu meninggalkan pemakaman tersebut. Tertinggal Seno, Anja, Laras, Radit, dan juga Nara.


"Ayo mas kita pulang, matahari udah terik." Anja menepuk bahu Seno yang bersimpuh di sebelah pusara istrinya.


"Kalian pulanglah dulu." Tolak Seno dengan suara seraknya.


"Ingat mas, masih ada baby Camelia yang membutuhkan ayahnya." Laras ikut berjongkok di samping Seno. Perlahan Seno mengangkat kepalanya guna memandang Laras di sampingnya. Tangan Laras terulur ingin membantu Seno berdiri. Seno yang masih linglung hanya memandangi antara tangan Laras dan juga sang pemilik tangan. Setelah sang pemilik tangan mengangguk, Seno pun akhirnya meraih tangan Laras tersebut, kemudian mereka berlima perlahan meninggalkan area pemakaman.


"Sebentar," Ucap Anja tiba-tiba. "Mumpung lagi disini aku mau mampir dulu ke makam kedua orang tua ku. Kalian pulanglah dulu." Akhirnya mereka pulang meninggalkan Anja.


"Mas Nara gak ikut pulang? Nanti dedek nyariin kamu." Nara tersenyum.


Bluuss!


Tiba-tiba pipi Anja rasanya menghangat. Kalau saja siang ini gak terik, sudah pasti ia akan malu karena pipinya sudah memerah. Beruntung panasnya matahari bisa ia jadikan tameng kalau ia sedang kepanasan.


"Ayo!" Nara meraih tangan Anja dan menggenggamnya erat.


"Eh," Anja tersentak karena tangannya di tarik oleh Nara. "Bukan kesitu mas, tapi kesana." Anja menunjuk arah makam kedua orang tuanya.


"Owh iya lupa, ayo!" Nara menggaruk kepalanya yang tak gatal. Nara dan Anja pun berjalan beriringan seraya bergandengan tangan.


Anja berjongkok di tengah-tengah makam kedua orang tuanya diikuti oleh Nara. Disisi sebelah kanan Anja ada makam bapaknya, dan di sisi sebelah kiri Anja ada makam ibunya. Anja terlihat menunduk melantunkan doa untuk almarhum bapaknya dan juga almarhumah ibunya. Nara pun demikian ikut melantunkan doa untuk kedua orang tua Anja.


"Assalamualaikum Bapak, ibu, saya Nara, saya datang kesini ingin meminta izin dan juga restu dari kalian untuk membahagiakan anak dan cucu kalian. Jika saatnya tiba nanti, izinkan saya menikahi Anja, putri bapak dan ibu. Semoga bapak dan ibu nanti merestui niat tulus saya." Lantunan doa yang di panjatkan Nara di dalam hati.


*****


*****


*****


*****


*****


Kisah Riani emak tutup sampe disini ya gaess. Tapi tenang aja, nanti emak bakalan kasih bonchap 🀭 tapi gak sekarang. Setelah ini emak mau fokus ke kisah Shasa-Radit-Laras di novel "Luka Hati Luka Diri" dan juga kisah Anja-Nara di novel "I Love You My Baby" see you there πŸ€—πŸ€—


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚