Candamu Canduku

Candamu Canduku
Riani & Seno 12



"Hey sayang, ada apa? Kenapa nangis?" Seno seketika panik saat melihat istrinya yang sudah berlinang air mata ketika ia masuk ke dalam kamar. Takutnya, istrinya itu merasakan kesakitan lagi pada kepalanya. Tadinya ia ingin mengajak istrinya itu untuk makan siang bersama di ruang makan. Kesehatan Riani yang berangsur-angsur membaik membuatnya sudah bisa berkumpul lagi di meja makan untuk sekedar makan bersama.


"Mana yang sakit?" Seno meraba-raba tubuh Riani dengan tangan yang sudah bergetar.


"Hiks.. hiks.. tadi Bu Mayang telpon, katanya Laras saat ini ada di rumah sakit. Tadi habis jatuh di kamar mandi dan pendarahan." Mendengar kabar tentang keguguran Laras, Riani ikut sedih. Mengingat kondisinya sendiri yang juga tidak baik-baik saja, sehingga ia tidak bisa mengunjungi sahabatnya itu ke Surabaya.


"Huuuuuft!" Seno bernafas lega meskipun ia juga merasa kasihan dengan Laras. Seenggaknya ketakutannya tadi tidak terbukti.


"Terus bagaimana? Kondisi kamu sendiri juga belum sembuh total, jadi aku gak bakal izinin kamu buat ke Surabaya." Riani mengangguk.


"Aku tau mas, nanti aku bisa telpon Laras saja kalau Laras sudah tenang." Sekarang giliran Seno yang mengangguk.


"Ayo sekarang makan siang dulu, habis itu minum obat baru istirahat."


"Perasaan istirahat mulu gak ngapa-ngapain. kalau kurang gerak badan lemes bestie!" Seno terkekeh mendengar ucapan istrinya. Tangannya terulur mengacak rambut sang istri.


Seno ingin menggendong Riani namun gerakan tangannya terhenti saat tangannya di tepis oleh istrinya.


"Aku bisa jalan sendiri mas, aku udah sehat." Riani melenggang keluar kamar dengan santainya membuat Seno kembali terkekeh. Sekarang Seno percaya kalau istrinya itu memang sudah semakin membaik. Seno pun segera mengejar istrinya keluar dari kamar.


*****


Setelah makan siang bersama, Laras langsung kembali ke dalam kamarnya bersama suaminya. Biasanya setelah makan siang, Seno akan menemani istrinya itu untuk istirahat sejenak hingga istrinya tersebut terlelap, baru setelah itu ia akan kembali lagi ke mebel. Namun saat baru saja Riani akan merebahkan tubuhnya, tiba-tiba ponsel yang tadi ia letakkan di atas meja setelah bertelepon dengan Bu Mayang kembali berdering. Riani pun segera meraihnya, takutnya itu dari Bu Mayang lagi, tapi bukan nama Bu Mayang yang tertera di layar ponselnya melainkan Anja.


Ya, setelah Anja siuman tiga bulan yang lalu, Anja langsung menghubungi kedua sahabatnya saat ia sudah pulang dari rumah sakit. Kecuali Shasa, karena Anja tidak tau nomor ponsel baru Shasa, nomor telepon yang lama sudah tidak aktif lagi.


Riani langsung menggeser tombol hijau tersebut ke atas dan panggilan langsung terhubung dengan Anja. Suara Anja terdengar serak dan sengau di ujung telepon menandakan ia baru saja menangis.


"Nja!"


"Iya sudah, tapi gue gak bisa jengukin. Kondisi gue sendiri belum pulih seratus persen, takutnya nanti gue ngedrop lagi."


"Gue baru besok pagi bisa terbang ke Surabaya sama mas Nara. Mas Nara hari ini jadwalnya padat. Nanti gue sempetin buat pulang, gue udah kangen sama kalian semua. Apalagi sama bapak dan ibuk, udah lama gue gak berkunjung ke makam mereka."


"Iya, kami juga udah kangen sama loe dan baby Radha."


"Ya udah gitu aja, sehat-sehat ya bumil."


Riani kembali meletakkan ponselnya ke atas meja saat panggilan sudah terputus, kemudian ia segera merebahkan tubuhnya ke samping suaminya yang sejak tadi sudah berbaring dengan posisi miring menghadap ke arahnya.


*****


*****


*****


*****


*****


Nyambung di novel "I Love You My Baby" Bab ILYMB 18 πŸ€—


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚