
BRAAAAAAKK!!
Sebuah mobil Box berlawanan arah melaju dengan kencang dan menghantam sisi kanan mobil Zian tepat di bagian pengemudi.
"Aaaaaaaaaaa." Teriak Anja menggema di dalam mobil sebelum ia tak sadarkan diri. Lalu lintas pun menjadi macet total.
Suara sirine ambulan dan teriakan orang-orang yang ada di sekitar tempat kejadian menyadarkan seseorang yang ada di dalam mobil yang tadi berhenti mendadak di depan mobil Zian dari keterkejutannya. Nara yang tadi sempat blank karena syok, akhirnya bergegas keluar dari dalam mobilnya dan berlari menuju mobil Zian yang terseret beberapa meter karena hantaman mobil Box tadi. Mobil bagian kanannya ringsek parah, dan kacanya hancur berkeping-keping.
Ya, orang tersebut adalah Narayan Hadi Wijaya, pria yang tadi di jumpai Anja di Mall sebanyak dua kali. Tadi memang Nara sedang berbicara dengan mamanya lewat sambungan telepon. Ia yang terkejut oleh teriakan mamanya reflek menginjak pedal rem. Alhasil mobilnya berhenti mendadak di depan mobil Zian.
Para petugas dengan hati-hati mengeluarkan Zian dari dalam mobil pickUp tersebut, kemudian di letakkannya ke atas brankar ambulan. Kepala Zian nampak mengeluarkan banyak darah, dan tubuhnya penuh dengan serpihan kaca. Zian menarik tangan seseorang yang sejak tadi ikut menolongnya.
"To-tolong se-selamatkan is-istri dan a-anak sa-saya." Ucap Zian lirih dan terbata-bata sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Deg!
Jantung Nara serasa di pompa, pikirannya mendadak buntu. Setelah genggaman tangan Zian terlepas dari tangannya, jenazah Zian segera di masukkan ke dalam ambulan untuk di bawa ke rumah sakit. Sedangkan Nara segera mencari korban yang lain, yang di yakininya adalah seorang perempuan dan seorang anak balita. Karena kata pria yang memohon kepadanya tadi adalah istri dan anaknya, namun saat bertanya kepada salah satu orang yang ada di sana ternyata seorang perempuan hamil dan sudah di bawa oleh ambulan ke rumah sakit karena tak sadarkan diri dan terdapat darah di sela kakinya. Nara pun bergegas menuju ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Nara langsung menuju bagian resepsionis untuk menanyakan keberadaan wanita hamil tersebut.
"Sus, korban kecelakaan yang barusan masuk, wanita hamil ada di ruangan mana?"
"Sebentar pak, saya cek dulu."
"Atas nama ibu Anjani Pramesti?" Pertanyaan suster membuat Nara bingung haru menjawab apa, karena memang ia tidak tahu namanya. Akhirnya ia hanya mengangguk saja.
"Masih di ruang UGD pak, masih dalam penanganan dokter. Ini tasnya Bu Anja pak." Suster itu menyodorkan sebuah tas kepada Nara.
"Biarkan di sini saja. Nanti akan ada yang mengambilnya. Tolong hubungi keluarganya." Ucap Nara kemudian berlalu menuju ke UGD. Suster tersebut pun saling pandang namun segera menghubungi nama yang tertera di panggilan terakhir dalam ponsel Anja.
Nara mendudukkan dirinya di kursi tunggu depan UGD. Kepalanya ia sandarkan pada tembok rumah sakit. Sesekali matanya menatap ke arah pintu UGD. Ia baru tersadar kalau belum menghubungi Bima asistennya sekaligus sahabatnya. Di rogohnya ponsel yang ada di sakunya kemudian segera menghubungi asistennya tersebut.
*****
*****
*****
*****
*****
Emak kok merasa jadi pembunuh ya π€
Maapin emak ya Zi π perjuangan mu cukup sampai disini π€§π€§
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ