Candamu Canduku

Candamu Canduku
Riani & Seno 11



Hari berlalu bulan berganti, tak terasa kandungan Riani saat ini sudah memasuki usia ke tujuh bulan. Dan selama itu pula Riani sudah sering keluar masuk rumah sakit, karena tekanan darahnya yang selalu tinggi. Sakit kepala yang dirasakannya, di tambah bengkak di kakinya hingga membuatnya tidak bisa melakukan apapun selain tiduran. Bahkan di buat untuk duduk pun ia tidak kuat.


Sudah bolak-balik Riani di rawat di rumah sakit. Setiap kondisinya membaik Riani diperbolehkan pulang oleh dokter. Namun selang beberapa minggu kemudian, kondisi Riani akan memburuk lagi dan akan dilarikan ke rumah sakit lagi. Begitulah seterusnya, kondisi Riani hanya akan membaik saat ia di rawat di rumah sakit saja.


Sebenarnya Seno dan Bu Tutik serta Pak Lukman, ingin agar Riani di rawat di rumah sakit saja sampai benar-benar sembuh total. Namun Riani tidak mau, Riani akan meminta pulang ketika ia merasa sudah membaik. Mungkin Riani takut jika nantinya suami dan orang tuanya tidak mampu membayar biaya rumah sakit jika ia terlalu lama di sana.


"Mas!" Teriak Riani memanggil suaminya. Saat ini ia duduk di amben (ranjang bambu) yang ada di teras rumah. Jarak mebel dan rumah yang tidak jauh, membuat orang-orang yang ada disana menoleh serempak. Seno yang melihat istrinya duduk di luar rumah segera berlari menghampiri, pasalnya Riani tadi sedang tiduran di karpet depan televisi saat ia meninggalkannya.


"Kok keluar, ada apa? Butuh sesuatu?" Seno mendudukkan dirinya di sebelah sang istri.


"Ibuk kemana? Kok aku panggil-panggil dari tadi nggak nyaut?"


"Ibuk tadi keluar, katanya mau ke rumah Bu kades."


"Ke rumah Bu kades? Mau apa memangnya?"


"Ya mana aku tahu sayang? Mungkin lagi ada urusan sama Bu kades. Kamu butuh sesuatu?"


"Aku mau minta dibuatin wedang jahe. Tapi nggak papa lah, aku coba bikin sendiri. Aku udah nggak pusing kok." Riani beranjak dari duduknya.


"Hey-." Belum sempat Seno berucap, namun Riani sudah kembali terduduk karena rasa pusing yang tiba-tiba datang lagi.


"Sssstt!" Desis Riani memegangi kepalanya yang membuat Seno panik.


"Sayang!" Seno segera menggendong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar lalu membaringkannya ke atas tempat tidur.


"Istirahat saja, jangan banyak gerak. Aku yang akan membuatkan wedang jahe untuk kamu." Seno segera menuju ke dapur untuk membuatkan wedang jahe.


Selang sepuluh menit kemudian, Seno sudah kembali dengan satu gelas besar wedang jahe yang masih mengepulkan asap. Dituangkannya wedang tersebut ke dalam lepek (piring kecil) lalu ia segera membantu istrinya untuk duduk. Setelah itu ia meniup terlebih dahulu wedang jahe tersebut sebelum memberikannya kepada sang istri.


"Masa sich?" Seno mencicipi wedang buatannya. Alis Seno terlihat mengernyit. "Udah pas kok ini."


"Apa lidah ku yang pahit ya? Udah nggak papa, enak kok anget-anget seger. Di badan juga rasanya anget."


"Habiskan kalau begitu." Seno kembali menuangnya ke dalam lepek.


Setelah menghabiskan wedang jahenya, Riani kembali merebahkan tubuhnya. Sedangkan Seno kembali lagi ke mebel karena ia harus segera mengerjakan pesanan meja dan kursi Laras.


Ya, Laras memesan meja dan kursi kepada Seno dua hari yang lalu untuk rumah makan ibunya yang saat ini masih dalam tahap renovasi. Sebenarnya bisa saja Laras memesan di mebel Pak Raffi yang letaknya lebih dekat, namun ia memilih memesan kepada Seno agar uangnya bisa dipakai untuk biaya berobat Riani.


Rencananya rumah makan Bu Mayang akan diperbesar hingga halaman depan rumah Bu Mayang. Jadi posisi rumah Bu Mayang nantinya ada di belakang rumah makan. Taman bunga yang ada di depan rumah Bu Mayang pun digusur untuk pelebaran rumah makan.


*****


*****


*****


*****


*****


Ini timingnya loncat 3 bulan ya, dari usia kandungan 4bln-7bln πŸ€—


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚