
Mobil yang di kemudikan Radit tiba di sebuah rumah sakit. Radit langsung turun dan berteriak kepada para petugas yang ada di pintu masuk.
"Tolong!" Terlihat beberapa perawat yang tergopoh-gopoh mendekat sambil mendorong brankar. Radit mengangkat tubuh Anja lalu meletakkannya ke atas brankar kemudian mereka mendorongnya menuju UGD.
Anja langsung ditangani beberapa dokter dan perawat. Riani berjalan mondar-mandir di depan pintu UGD. Sedangkan Radit duduk di kursi tunggu dan matanya sesekali melirik pintu UGD.
Riani baru teringat kalau dia belum mengabari Zian suami Anja. Ia pun merogoh sakunya guna mencari HPnya.
Tut.... tut.... tut.... tut....
"Hallo." Jawab Zian di seberang. Mungkin Zian masih istirahat karena baru jam satu siang.
"Hal-hallo mas." Jawab Riani takut-takut.
"Ada apa Ri?"
"An-Anja di rumah sakit mas."
"Apa?" Teriak Zian di seberang yang membuat Riani menjauhkan HP dari telinganya.
"Anja di rumah sakit, tadi Anja jatuh dan berdarah." Jelas Riani kepada Zian. Zian langsung mematikan sambungan teleponnya kemudian bergegas mencari rumah sakit terdekat.
*****
"Mbak, pasien atas nama Anjani Pramesti yang baru saja masuk?" Tanya Zian kepada resepsionis saat ia baru tiba di rumah sakit.
"Masih di UGD pak, masih dalam penanganan dokter." Ucap petugas resepsionis. Zian langsung melesat ke UGD tanpa menunggu lama.
Terdengar suara sepatu berlarian. Riani menoleh mencari sumber suara dan mendapati Zian yang berlari mendekat.
"Apa yang terjadi?" Tanya Zian kepada Riani. Riani pun menceritakan semuanya kepada Zian. Tepat saat Riani selesai bercerita, pintu ruangan UGD di buka dari dalam. Nampak seorang dokter yang ber tag nama Bella itu keluar.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Pertanyaan Zian sontak membuat seorang cowok yang sejak tadi duduk di kursi tunggu terpaku di tempatnya.
"Maaf pak, janin yang ada di kandungan istri bapak tidak dapat di selamatkan." Ucapan dokter terdengar seperti sambaran petir di telinga Zian. Begitu pun dengan Riani dan Radit.
"Ja-janin?" Tanya Zian tergagap.
"Ya, usianya baru lima Minggu. Kami butuh persetujuan bapak untuk melakukan kuretas. Untuk membersihkan sisa-sisa jaringan dan darah yang ada di perut istri bapak."
"Lakukan saja yang terbaik buat istri saya dok!" Jawab Zian mantap. Setelah mendapatkan persetujuan dari Zian, dokter pun segera melakukan kuretas.
"Sebelumnya saya minta maaf. Saya tidak bermaksud membuat Anja seperti ini. Ini hanya salah pa-".
Belum sempat Radit menyelesaikan perkataannya, bogem mentah sudah mendarat cantik di wajahnya yang membuat sudut bibirnya nampak berdarah.
"Pergi kamu dari sini dan jangan pernah ganggu istri saya lagi."
"Pergi!" Teriak Zian. Akhirnya Radit pun berlalu pergi setelah meminta maaf sekali lagi.
Zian mendudukkan dirinya di kursi tunggu sambil menunduk. Riani tahu kalau lelaki itu sedang menangis dalam diamnya.
*****
Setelah dua jam berlalu, pintu ruangan akhirnya terbuka. Zian langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?"
"Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Namun pasien masih belum sadarkan diri. Setelah ini pasien akan di pindahkan ke ruang perawatan."
"Alhamdulillah." Ucap Zian dan Riani bersamaan.
"Saya permisi dulu." Ucap dokter Bella kemudian berlalu.
"Kalau begitu aku kembali dulu mas. Jangan lupa kabari kalau Anja sudah siuman." Pamit Riani.
"Makasih Ri." Riani berlalu meninggalkan Zian yang masih terduduk di kursi tunggu.
*****
*****
*****
*****
*****
Ngetik ini sambil ngelus dada gaess π’
Dada emak rasanya nyesek ππ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ