Candamu Canduku

Candamu Canduku
Bab 19. Jengkel Setengah Mati



Sore ini Seno berencana mengajak Riani jalan. Ia sengaja meminjam mobil pak Raffi karena ia takut membuat Riani tak nyaman bila di ajak naik motor. Sepertinya Seno lupa kalau Riani dan Anja itu sebelas dua belas. Mereka sama-sama menyukai kesederhanaan. Namun saat kunci mobil sudah ada di tangan, perkataan pak Raffi membuatnya jengkel setengah mati.


"Tolong jemput Cici sekalian, katanya jam empat udah selesai kelasnya." Mau tak mau akhirnya Seno mengiyakan perintah pak Raffi. Sepanjang perjalanan ia hanya bisa menggerutu.


"Kalau kayak gini berasa jadi Supri gue." Gerutunya.


Lah, emang loe Supri bang. Supir pribadi maksudnya.


*****


Riani sudah bersiap dengan setelan celana jeans yang di padukan dengan cardigan warna abu-abunya. Tak lupa tas selempang kecil yang tersampir di pundaknya. Ia bergegas keluar saat mendengar bunyi klakson mobil dari arah depan.


Tin.. tin..


"Nja, gue pergi dulu ya. Nanti tolong sampaikan ke Bu Mayang. Tadi sih gue udah minta izin."


"Siap, sana cepetan pergi." Anja mendorong pundak sahabatnya pelan.


Riani segera masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Seno. Seno segera melajukan mobilnya membelah jalanan sore.


Kagak ada romantis-romantisnya bang, mbok ya di bukain pintu kek.


"Kenapa pakai mobil? kenapa gak motor aja?" Tanya Riani.


"Sebenarnya tadi pengen pake motor aja, tapi takut kamunya gak nyaman. Jadi aku pinjam mobil aja sama pak Raffi." Jelas Seno seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Padahal naik motor lebih asik." Ucap Riani lagi.


"Besok-besok deh kalau ada waktu kita jalan pake motor." Seno mencoba memberi pengertian pada Riani.


"Soalnya ini sekalian mau jemput Cici." Ucapan Seno barusan sontak membuat Riani mengalihkan pandangannya dari jalanan kemudian menatap Seno.


"Sebenarnya kamu serius gak sich ngajak aku jalan?" Riani terdengar jengkel.


"Ya serius lah Ri." Jawab Seno mantap.


"Kenapa harus ada orang lain?" Riani nampak kecewa dengan Seno.


"Maaf, aku gak bisa menolak permintaan pak Raffi."


"Terus kalau besok kamu di minta buat nikahin anaknya kamu juga mau?" Tanya Riani berapi-api.


"Eh, kok gitu sih Ri. Ya gak lah, aku sayangnya cuma sama kamu."


"Heleh!" Riani memutar bola matanya malas.


Tak lama kemudian mobil pun sampai di depan kampusnya Cici yang ternyata itu kampusnya Laras juga. Nampak Cici yang sudah menunggu di depan gerbang. Rupanya pak Raffi sudah memberi tahunya kalau Seno akan menjemputnya. Cici pun segera menghampiri mobilnya. Namun saat membuka pintu samping kemudi, ia menemukan Riani disana. Cici pun nampak kaget.


"Aku mau duduk di depan kak." Ucap Cici ke Seno.


"Tapi Ci," Seno menggaruk tengkuknya.


"Gak papa, aku pindah ke belakang saja." Riani kemudian turun dan pindah ke belakang.


"Tunggu sebentar." Ucap Riani saat Seno akan melajukan mobilnya. Riani kemudian menelpon Laras.


"Masih di kampus, ini mau pulang." Jawab Laras di seberang.


"Gue tunggu di depan."


"Haahh, maksudnya?"


"Cepetan gue di depan!"


"Oke!" Laras segera berlari ke luar dari kampus dan mendapati Riani yang bersandar di sebuah mobil.


"Kuy masuk." Ajak Riani seraya menarik tangan Laras untuk masuk ke dalam mobil.


"Eh." Laras tersentak kaget namun tetap mengikuti sahabatnya masuk kedalam mobi.


"Mau kemana kita?" Tanya Seno seraya melajukan mobilnya.


"Ke mall aja kak." Jawab Cici cepat. Sedangkan Riani dan Laras hanya diam membisu di belakang. Akhirnya mau tak mau Seno melajukan mobilnya menuju ke sebuah mall.


Saat turun dari mobil, Cici segera menarik tangan Seno dan mengajaknya masuk menuju ke foodcourt untuk memesan makanan. Sedangkan Seno sedari tadi celingak-celinguk mencari keberadaan Riani dan Laras yang entah kemana.


*****


Riani dan Laras nampak berjalan keluar dari parkiran mall. Mereka menyetop sebuah angkot dan langsung menaikinya. Mereka memilih untuk pulang dari pada harus menyaksikan drama antara Seno dan anak bossnya. Riani merasa Seno tidak benar-benar serius dengannya. Selama perjalanan pulang ia hanya melamun dan menyenderkan kepalanya di badan angkot.


"Udahlah Ri, kalau mas Seno bener-bener serius sama kamu pasti dia akan memperjuangkan mu." Ucap Laras namun tidak ditanggapi oleh Riani.


Tak lama kemudian angkot berhenti di depan rumah makan. Riani langsung berlari masuk ke dalam lewat pintu samping kemudian masuk ke dalam kamar. Anja hanya terbengong melihat sahabatnya.


Laras muncul dari pintu samping kemudian langsung menghampiri Anja.


"Kok loe bisa bareng sama Riani Ras?" Tanya Anja merasa heran.


"Mas Seno mana?" Sambungnya.


"Seno lagi jalan sama anak bossnya." Jawab Laras yang juga ikutan jengkel dengan Seno.


"Hah kok bisa?" Akhirnya Laras menceritakan semuanya yang sempat diceritakan Riani kepadanya saat keluar dari parkiran mall.


*****


*****


*****


*****


*****


Ini mah namanya jengkel berjamaah 🀣🀣🀣🀣


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚