Candamu Canduku

Candamu Canduku
Bab 58. Keterpurukan Anja



Hari-hari pun berlalu, Bu Mayang sudah berusaha menjelaskan kepada Anja tentang kejadian yang sebenarnya. Namun Anja seolah menolak, ia sibuk dengan dunianya sendiri. Setiap hari ia hanya akan duduk termenung di teras rumah Bu Mayang menunggu kedatangan Zian. Kadang tiba-tiba ia menangis sesenggukan kadang juga ia berbicara sendiri seraya mengelus perutnya.


Nara setiap hari juga akan menyempatkan dirinya untuk melihat kondisi Anja. Biasanya siang hari saat jam makan siang, sekalian ia makan siang di rumah makan Bu Mayang. Atau mungkin saat ia mengantarkan pesanan Anja. Ya, selama ini Nara di sibukkan dengan ngidamnya Anja. Karena memang dialah yang meminta kepada Riani untuk memberitahunya apapun yang di inginkan Anja.


Seperti siang ini, ia menyempatkan diri di sela kesibukannya untuk mengantarkan ketoprak ke warung. Tadi Riani memang sempat menghubunginya, katanya Anja pengen makan ketoprak. Akhirnya Nara menyuruh Bima untuk mencarikannya. Sedangkan ia yang akan mengantarkannya langsung kepada Anja.


Nara nampak turun dari mobilnya dengan menenteng kantong kresek berukuran sedang. Ya, begitulah Nara. Setiap Anja menginginkan sesuatu, pasti ia akan membelikannya sesuai dengan jumlah orang yang ada di sana, yaitu tujuh orang.


"Hay Ri, mana Anja?" Tanya Nara saat menghampiri Riani di kasir.


"Ada di rumah sebelah mas." Ucap Riani seraya menunjuk rumah sebelah. Nara pun segera menghampiri Anja yang nampak duduk termenung di teras rumah Bu Mayang dengan pandangan kosong.


"Mas Zian sudah pulang?" Ucap Anja dengan mata berbinar seraya bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Nara lalu mencium tangannya.


Deg!


Jantung Nara serasa di remas kuat saat menyaksikan keterpurukan Anja. Ia hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Sedangkan Riani yang ada di belakang Nara sudah tidak dapat membendung air matanya.


"Tadi katanya pengen makan ketoprak?" Ucap Nara lembut seraya menuntun Anja untuk duduk kembali.


"Ini." Nara menyodorkan satu bungkus ketoprak kepada Anja.


"Ri, tolong ambilkan piring dan sendok. Sekalian ini bagikan ke yang lain." Nara menyodorkan kantong kresek tersebut kepada Riani.


"Aku mau makan di warung aja bareng sama yang lain." Ucap Anja kemudian bangkit dari duduknya.


"Ya udah, ayo!" Nara menggandeng tangan Anja, kemudian mereka melangkah masuk ke warung lewat pintu samping.


"Enak! tapi kurang pedes dikit. Cobain dech mas." Anja menyodorkan sesendok ketoprak ke mulut Nara. Nara yang mendapat perlakuan itu tak langsung membuka mulutnya, tapi ia malah menatap orang-orang di sekelilingnya. Setelah mendapat anggukan dari orang-orang disana baru ia membuka mulutnya.


"Enak kan? Mas Zian kan tau biasanya aku suka agak pedes, Lupa ya?" Nara hanya bisa menggaruk kepalanya kemudian mengangguk.


"Nanti setelah ini kita pulang ya, aku udah kangen sama rumah. Takutnya kalau lama gak di tempati akan banyak sarang laba-labanya." Nara menelan ludahnya yang terasa pahit. Di tatapnya kembali orang-orang satu persatu tapi mereka kompak menggeleng, yang membuat Nara bingung harus menjawab apa.


Sebenarnya Nara sudah beberapa kali membawa Anja ke psikiater dengan di temani Riani. Namun hasilnya nihil, karena Anja hanya diam membisu tanpa mau menjawab setiap pertanyaan yang di lontarkan oleh dokter psikolog. Seringan Anja malah menangis sesenggukan, yang membuat dokter menjadi bingung sendiri. Akhirnya Nara memutuskan untuk sementara Anja di biarkan dulu senyamannya. Takutnya jika di paksakan dapat membahayakan kandungannya.


*****


*****


*****


*****


*****


Emak gak kuat gaess huwaaa 😭😭😭


Nyesek banget dada emak 😒😒🀧🀧


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚