
"Aaaaargh!" Zian mengerang untuk yang ke dua kalinya saat mencapai pelepasannya pagi ini. Entah mengapa akhir-akhir ini istrinya itu rasanya menggigit dan ia merasa ketagihan setiap kali menyentuhnya.
"Su-sudah mas!" Ucap Anja tersengal karena nafasnya yang masih memburu.
"Ini sudah pagi, nanti bisa kesiangan." Kesal Anja karena suaminya benar-benar membuatnya kelelahan pagi ini. Padahal kemarin seharian sudah, dan semalam pun juga sudah. Bisa-bisanya pagi ini ia meminta lagi. Apa dia gak kasihan dengan istrinya. Bagaimana kalau Anja gak bisa jalan hari ini? Zian segera mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi, karena waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi.
Tepat pukul tujuh pagi Anja tiba di rumah makan. Nampak Riani yang sedang membuka pintu depan rumah makan tersebut.
"Pagi Ri." Sapa Anja.
"Pagi Nja." Balas Riani.
"Gimana kemarin?" Tanya Anja to the point seraya mengekor di belakang Riani.
"Gagal total!" Jawab Riani nampak kesal.
"Kok bisa?" Tanya Anja lagi yang nampak kaget.
"Bannya kempes!" Jawaban Riani sontak membuat Anja terbahak.
"Udah dech gak usah ngetawain gue. Ngeledek loe."
"Ahaha.. santai aja kali Ri. Mungkin memang Allah belum merestui kalian untuk dekat saat ini."
"Entahlah." Riani malas membahasnya lagi.
Tak berselang lama Laras muncul dari arah belakang kemudian mendekat ke arah kedua sahabatnya.
"Nja, maafin gue." Ucap Laras dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Stttttt! sudah jangan di bahas lagi. Gue udah maafin loe. Gue juga minta maaf karena gak mau dengerin penjelasan loe dulu." Seketika itu Laras langsung berhambur memeluk Anja. Riani pun tak mau ketinggalan, ia segera ikut merengkuh kedua sahabatnya itu. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sudah mendekat ke arahnya.
"Anja!" Sontak mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat Shasa si micin yang sudah berdiri di dekat mereka.
"Berani-beraninya loe datang kesini lagi." Imbuh Laras seraya menuding ke arah Shasa.
"Maaf, gue cuma mau minta maaf sama loe Nja. Maafin gue, gue benar-benar gak tau kalau loe lagi hamil waktu itu." Ucap Shasa tercekat.
"Per-"
"Ras," Sergah Anja seraya menggelengkan kepalanya kemudian maju ke depan tepat di hadapan Shasa.
"Mbak Shasa sebaiknya pergi. Saya sudah memaafkan embak, dan tolong jangan pernah datang kesini lagi. Kasih tau sama mas Radit kalau saya sudah berkeluarga. Jadi tolong jangan pernah mengusik kebahagiaan kami lagi." Ucap Anja tenang tanpa beban. Akhirnya Shasa dengan gontai pergi meninggalkan rumah makan tersebut.
"Loe serius Nja, maafin dia gitu aja?" Tanya Laras bingung.
"Mungkin luka hati memang sulit untuk di sembuhkan. Tapi apa salahnya untuk memaafkan. Karena obat hati yang paling mujarab adalah memaafkan dan mengikhlaskan." Riani dan Laras langsung berhambur memeluk sahabatnya itu yang terlihat tegar.
Ya begitulah hidup, terkadang kita hanya terfokus pada sebuah luka hingga lupa caranya untuk bahagia. Memaafkan dan mengikhlaskan itu memang tak semudah mengucapkannya. Namun percayalah, ketika kita mencoba belajar untuk melakukannya maka akan ada suatu kepuasan tersendiri di dalam hati. Seolah-olah beban berat yang selama ini ada di pundak kita hilang dan melangkah pun terasa ringan.
*****
*****
*****
*****
*****
Dalem banget kata-katanya π€
Emak berasa jadi Motivator π€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ