Candamu Canduku

Candamu Canduku
Bab 26. Gagal Maning Son!



Tepat pukul sepuluh pagi Seno tiba di rumah makan Bu Mayang untuk menjemput Riani. Ya, hari ini Seno berencana mengajak Riani jalan. Semenjak acara kencan pertama mereka yang gagal, baru hari ini mereka ada waktu kembali.


Seno datang dengan mengendarai motor Satria kesayangannya. Sengaja Seno tidak meminjam mobil pada pak Raffi karena takut kejadian yang lalu terulang kembali. Tapi ini kan hari Minggu, Cici gak mungkin ada kuliah kan? Riani pun lebih suka naik motor dari pada mobil yang Made in pinjaman itu.


Nampak Riani yang sedang duduk di teras rumah Bu Mayang sambil memainkan HPnya. Sedangkan Laras sedang menyiram tanaman yang ada dihalaman dengan bersenandung riang.


"Pagi?" Sapa Seno seraya memberikan senyuman termanisnya pagi ini.


"Pagi." Balas Riani dan Laras kompak.


"Bunga aja yang di siram Ras, yang nyiram udah mandi belum?" Canda Seno.


"Woy pak, sekate-kate yee, gak lihat apa bibir aye udah menor begini." Sungut Laras seraya berkacak pinggang dengan sebelah tangannya yang membuat Riani dan Seno tergelak.


"Lama-lama bapak entar yang aye mandi'in." Sambung Laras seraya mengarahkan selang air ke arah Seno dan siap menyemprotnya.


"Eeits, canda doank neng. Entar kalau Abang basah gagal maning kencannya." Sergah Seno seraya berlindung di balik punggung Riani.


"Bodo amat!" Ucap Laras cemberut.


"Udah siap Ri?" Seno beralih menatap Riani.


"Udah dari subuh!" Jawab Riani kesal. Pasalnya ia sudah menunggu sejak satu jam yang lalu. Karena memang mereka janjian pukul sembilan pagi.


"Maaf." Ucap Seno seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Seno dan Riani pun akhirnya pergi. Mereka berencana mengunjungi tempat wisata yang baru saja di buka seminggu yang lalu di kota tersebut. Namun saat baru berkendara sekitar lima belas menit, tiba-tiba Seno menghentikan laju motornya.


"Ada apa mas?" Tanya Riani bingung karena berhenti di pinggir jalan.


"Turun dulu dech Ri, kayaknya bannya kempes." Mau tak mau akhirnya Riani turun dari atas motor. Dan benar saja, ternyata ban motor bagian belakangnya kempes. Merekapun spontan menepuk jidatnya bersamaan.


Duukk!


Seno menendang ban motornya yang kempes.


"Sial banget! Selalu saja ada gangguan. Aaaargh!" Teriak Seno sambil mengacak rambutnya.


"Pertanda apa?" Tanya Seno bingung.


"Tanda kalau kita gak boleh bersama." Jelas Riani.


"Eh, ngomong apa kamu. Gak ada begitu-begituan! ini murni lagi apes. Ini tuh ujian buat cinta kita."


"Heleh." Riani memutar bola matanya malas.


"Ya udah sana dorong." Imbuh Riani. Akhirnya Seno pun mendorong motornya untuk mencari bengkel atau pun tambal ban terdekat. Sedang Riani mengekor dibelakangnya.


Sudah sekitar dua puluh menitan mereka jalan kaki namun belum juga menemukan bengkel. Keringat tampak mengucur membasahi tubuh mereka karena matahari yang sudah terik. Tepat saat adzan Dzuhur berkumandang, mereka tiba di depan sebuah bengkel yang ada di sebelah kafe. Setelah berbicara dengan pemilik bengkel, akhirnya Seno membawa Riani masuk ke dalam kafe yang ada di sebelah bengkel sambil menunggu ban motornya selesai di tambal.


"Maaf Ri." Ucap Seno setelah duduk menunggu pesanan mereka.


"Sudahlah mas, lagian ini juga bukan salah kamu." Jawab Riani lemas. Entah lemas karena kencannya yang gagal lagi atau karena kelelahan jalan kaki.


Gagal maning son!


*****


*****


*****


*****


*****


Seno : Tega amat lu Mak 😒😒


Emak : Biarin, emang enak πŸ€ͺπŸ€ͺ kabur ahh πŸƒπŸƒπŸ˜‚πŸ˜‚


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚