Candamu Canduku

Candamu Canduku
Bab 50. Cincinnya Kemana?



Ceklek!


Zian keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan sehelai handuk yang di lilitkan di pinggangnya. Di peluknya dari belakang Anja yang sedang berdiri di depan lemari mengambil pakaian ganti untuknya.


"Sayang!" Bisik Zian di telinga istrinya.


"Heeemm!" jawab Anja sambil menikmati hembusan nafas suaminya yang terasa segar, kemudian berbalik menatap suaminya.


"Buatin kopi donk." Pinta Zian dengan puppy eyenya. Sedangkan Anja hanya memutar bola matanya malas.


"Pakai baju dulu." Anja menyodorkan pakaian ganti ke arah suaminya, kemudian berlalu keluar dari kamar untuk membuatkan suaminya kopi.


Ceklek!


Selang beberapa menit kemudian Anja masuk ke dalam kamar dengan membawa secangkir kopi. Nampak Zian yang sedang duduk di sofa yang ada di kamar sambil memainkan ponselnya. Di sodorkannya cangkir kopi ke arah suaminya tersebut. Zian pun dengan senang hati segera menerimanya. Namun saat Zian akan memegang cangkir kopinya, mata Anja tak sengaja terpaku pada jemari kanan suaminya itu.


"Mas, cincinnya mana?" Tanya Anja pias.


"Hah, cincin?" Zian segera menarik tangannya kembali dan tak jadi mengambil cangkir dari tangan istrinya. Diperhatikannya jari manisnya sebelah kanan yang nampak kosong. Zian dan Anja pun saling pandang dengan berjuta tanda tanya yang bersarang di kepalanya.


"Mas taruh dimana? Barangkali lupa? Apa di kamar mandi?" Zian segera bangkit dari duduknya kemudian berlari menuju kamar mandi untuk mencari cincinnya namun nihil.


"Gimana? Ada kah?" Tanya Anja saat melihat Zian keluar dari kamar mandi. Namun hanya gelengan kepala dari suaminya yang ia dapatkan. Tak terasa air matanya tiba-tiba mengalir membasahi pipi. Perasaannya juga tak karuan rasanya saat ini. Entahlah....


"Hey sayang! Kenapa nangis? Sudah ya, besok aku coba cari di mebel. Atau barangkali jatuh di mobil." Zian membawa Anja ke dalam pelukannya serta menciumi puncak kepala Anja berulang kali.


"Perasaan ku gak enak mas, aku takut!" Cicit Anja.


"Stttttt! Jangan ngomong gitu. Kita berdoa saja semoga semuanya baik-baik saja." Zian semakin mengeratkan pelukannya.


Anja merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, Zian pun segera ikut berbaring di samping istrinya. Di peluknya tubuh sang istri yang terasa dingin itu. Di usapnya dengan lembut perut Anja sampai istrinya terlelap.


Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, namun mata Zian seolah-olah enggan untuk terpejam. Dengan di temani secangkir kopi buatan istrinya tadi, Zian menikmati kesunyian malam ini. Sedangkan Anja nampak gelisah dalam tidurnya. Zian pun segera mengelus pelan kepala istrinya agar kembali tenang.


Zian menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Pikirannya benar-benar tak karuan malam ini. Bayangan mimpi buruk Anja yang pernah di ceritakan kepadanya kembali terlintas di kepalanya. Dan sekarang di tambah lagi cincin pernikahannya yang hilang entah kemana. Besok apa lagi?


Zian meraup wajahnya dengan kedua tangannya, kemudian berbaring di samping istrinya. Di peluknya tubuh Anja lalu berusaha memejamkan matanya. Entah jam berapa Zian tertidur, rasanya baru saja Zian terlelap tapi pagi sudah menyapa.


*****


*****


*****


*****


*****


Cari cincinnya di toko Mas aja Zi, pasti ketemu πŸ€­πŸ˜‚πŸ˜‚


Emak jamin dah pokoknya πŸ€­πŸ˜‚πŸ˜‚


Persiapan, sebentar lagi akan ada badai menerjang. Pegangan yang kuat πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸŒͺ️πŸŒͺ️


Jangan lupa Like Komen dan Votenya kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚