
Kriiing.... kriiing....
Bunyi alarm dari HP Anja tidak mampu membangunkan sang empunya. Anja malah semakin mendekap erat gulingnya. Sedangkan Zian mulai terusik dari tidurnya.
"Hoooooam!" Zian menguap lebar seraya tangannya meraba-raba meja yang ada di sebelah tempat tidurnya untuk mencari HP yang tadi sudah mengganggu tidur lelapnya.
Kriiing.... kriiing....
"Berisik!" Zian pun segera mematikan alarm HP Anja yang tadi berbunyi kembali.
Waktu baru menunjukkan pukul lima pagi. Zian memutuskan untuk tidur kembali. Zian memiringkan tubuhnya dan mendekap istrinya dari belakang.
"Sayang." Zian menciumi tengkuk istrinya. Tangan nakalnya mulai menyusup ke dalam piyama Anja. Mencari-cari kedua benda kesukaannya.
"Dapat! pegang dikit gak masalah kan ya?"
"Empuk sekali." Gumam Zian sambil merem*s gunung kembar Anja sebelah kanan.
Plaaakk!
"Waduh sayang." Zian merasakan panas ditangannya akibat geplakan dari istrinya.
"Mas sedang apa? kenapa grep*-grep* begitu tangannya. Gangguin orang tidur saja." Omel Anja yang rupanya kesal dengan ulah suaminya.
"Hehe.. pengen." Ucap Zian memelas.
"Astaga, tapi masih belum boleh." Anja menepuk jidatnya gemas sendiri dengan kelakuan suaminya.
"Huft.. biasanya berapa lama?" Tanya Zian seraya mendekap istrinya dari belakang.
"Biasanya kalau habis lahiran itu sekitar empat puluh harian. Tapi kemarin kan habis di kuret, jadi udah bersih. Tinggal sisa-sisanya dikit aja. paling bentar lagi juga selesai." Anja mencoba menjelaskan kepada suaminya.
"Bantuin ya, ya, ya." Mohon Zian seraya mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. Kelakuan Zian membuat Anja geleng-geleng kepala.
"Tapi gimana caranya?" Tanya Anja yang benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.
"Pakai tangan mu sayang." Zian mengecup bibir istrinya. Akhirnya Anja hanya bisa pasrah. Mau gak mau dia harus tetap melakukannya demi kesejahteraan junior suaminya.
Zian langsung melepas seluruh pakaiannya kemudian membimbing tangan istrinya untuk menggenggam juniornya.
"Aaaahh sayang, pelan-pelan! jangan di rem*s begitu." Ringis Zian yang membuat Anja melotot horor. Anja kemudian menyamankan posisinya sebelum tangannya kembali bergerak memulai ritualnya.
*****
Ingat ya cuma mandi doang gak lebih!
Akhirnya mereka berdua keluar dari kamar untuk segera berangkat bekerja. Mereka memutuskan untuk sarapan di warung saja, karena jika menunggu Anja membuat sarapan maka mereka akan kesiangan.
*****
Pagi ini warung nampak ramai. Zian memarkirkan motornya kemudian mereka masuk ke dalam lewat pintu samping. Di lihatnya Riani dan Laras yang nampak sedang melayani pengunjung. Anja segera mengambilkan sarapan untuk suaminya.
Zian nampak terburu-buru karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih. Ia segera melesatkan motornya menuju mebel. Di lihatnya Seno yang akan masuk kedalam mobil pak Raffi.
"Mau kemana loe?" Tanya Zian memicing curiga.
"Di suruh pak Raffi nganterin anaknya kuliah." Jawab Seno malas.
"Tumben? biasanya juga dia bawa mobil sendiri."
"Ya mana gue tahu. Tanya aja noh ama orangnya sendiri." Seno menunjuk Cici yang sudah ada di jok samping kemudi dengan dagunya.
"Gue cabut dulu." Pamit Seno kepada Zian yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.
*****
*****
*****
*****
*****
Kira2 babang Zian perlu di bukain pabrik sabun gak ya? π€
Kalo perlu emak siap dech buka cabang π€ wkwkwk canda bang ππ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ