
Pernikahan Riani dan Seno
Pesta pernikahan Riani dan Seno yang di selenggarakan di kediaman orang tua Riani itu tampak meriah. Bukan pesta mewah, hanya pesta sederhana yang menggunakan tema adat Jawa. Karena orang tua Riani adalah keturunan Jawa tulen, maka ia meminta menggunakan adat Jawa saja seperti kebanyakan pesta pernikahan yang ada di desa tersebut. Sedangkan orang tua Seno yang tinggal bapaknya saja hanya bisa pasrah mengikuti kemauan besannya. Hanya sesekali saja ia menyampaikan pendapatnya.
Setelah kepergian Anja dan babynya ke kota J dua bulan yang lalu, Riani dan Seno memutuskan untuk melangsungkan pernikahannya hari ini. Tadi pagi sekitar pukul sembilan prosesi ijab kabulnya dan langsung berlanjut ke resepsinya sekalian.
Nampak Laras, Radit, Bu Mayang dan semua pekerjanya yaitu Mak Rat, mbak Sih dan mbak Ti juga ada disana. Mereka tiba disana sejak kemarin dan menempati rumah kosong Anja yang ada di sebelah rumah Riani. Sedangkan Radit baru tiba jam sembilan tadi tepat saat ijab kabul baru akan di mulai.
Pak Raffi sekeluarga pun juga hadir disana menyaksikan serta menikmati pesta tersebut. Cici menatap sendu ke arah pelaminan dimana kedua mempelai saat ini sedang menjalani sesi pemotretan.
"Harusnya saat ini aku yang jadi mempelai wanitanya."
"Harusnya aku yang bahagia bersama mu saat ini kak."
Tak terasa air matanya merembes membasahi pipi cantiknya, namun ia segera memalingkan wajahnya kemudian mengambil tissu dari dalam tasnya untuk mengelap air matanya. Pak Raffi yang menyadari itu langsung meraih anaknya untuk menjauh dari pelaminan bersama istrinya. Ia membawa anaknya ke arah stand makanan yang berjajar rapi.
Setelah acara foto-foto selesai, kini tiba saatnya pemberian ucapan selamat untuk kedua mempelai. Laras berada di garda terdepan dan langsung memeluk sahabatnya itu dengan erat.
"Selamat ya Ri, semoga kebahagiaan selalu menyertai mu." Ucap Laras seraya menitikkan air matanya.
"Heemm, moga cepet nyusul." Canda Riani.
"Apaan sich!" Laras mengurai pelukannya kemudian ingin menonyor kepala sahabatnya itu namun Seno dengan sigap menahan tangannya seraya melotot.
"Ah elah, ia yang sudah punya bodyguard sekarang ada yang ngelindungi."
"Selamat ya mas, pelan-pelan jangan main sruduk aja kayak banteng." Ucap Laras santai. Seno yang sejak tadi sudah menahan geram pun langsung menjitak kepala Laras yang membuat sang empunya mengaduh. Seketika itu Seno langsung melihat tatapan tajam dari Bu Mayang yang ada di belakang Laras.
"Hehe.. maaf Bu!" Ringis Seno seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Woy, gantian!" Teriak Cici yang ada di belakang Radit membuat semua orang menoleh ke arahnya. Saat ini posisi Laras ada di urutan terdepan, kemudian Bu Mayang di belakangnya disusul oleh Radit kemudian Cici serta pak Raffi dan istrinya.
"Sudah dulu ya, sepertinya macan betina bakalan ngamuk karena cintanya yang tak terbalas." Ucap Laras pelan namun masih bisa di dengar oleh orang yang ada di sekitarnya. Cici yang mendengarnya pun seketika amarahnya membuncah namun berusaha ia tahan agar tak menimbulkan keributan. Kalau ia tak ingat disini banyak orang dan sedang dalam keadaan hajatan sudah ia tampar mulut lancang Laras tersebut. Akhirnya dengan perasaan dongkol bercampur sakit hatinya ia segera memeluk Seno saat tiba gilirannya. Seno pun yang tanpa persiapan hanya bisa berdiri mematung saat tubuhnya di peluk oleh Cici. Sedangkan Riani yang menyaksikan itu hanya bisa menunduk seraya meremas kedua tangannya.
*****
*****
*****
*****
*****
Yuhuuuuuu emak mulai ngetik pelan-pelan kisah Riani dan Seno yah, karena harus menyesuaikan timingnya dengan cerita Radit dan Shasa.
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ