
Klunting!
Bunyi notif pesan di Hp Anja membuat sang empunya mengerjap. Anja baru saja bangun ketika mendengar bunyi Hpnya. Kemudian ia meraba meja di sebelah tempat tidurnya.
Anja membuka pesan yang ternyata dari suaminya.
[Sayang, maaf baru ngabari. Ini aku pake Hpnya Seno. Hp ku ketinggalan di ruangan pak Raffi. Hari ini aku kirim ke luar kota. Ini aku lagi istirahat, mau makan siang dulu habis itu lanjut lagi. Jangan lupa makan ya, Love you π] -Seno-
"Oh ya ampun." Anja menepuk jidatnya.
[Hati-hati sayang, Love you too π] -Anja-
Anja segera keluar dari kamar untuk makan siang. Setelah makan siang ia duduk di sofa yang ada di depan TV seraya menyalakannya. Namun ia hanya memindah-mindahkan channel TV. Ia merasa bosan sendirian di rumah tanpa suaminya.
*****
Zian sampai di tempat tujuan saat waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Setelah menurunkan kursi dan lemari, mereka langsung pamit undur diri. Namun saat mobil baru memasuki jalan raya, tiba-tiba Zian merasakan perutnya yang seperti dililit-lilit.
"Stttttt." Desis Zian seraya tangan kirinya mencengkeram perutnya.
"Kenapa loe?" Tanya Seno.
"Mules gue." Jawab Zian.
"Sialan loe, gue pikir apaan." Sungut Seno.
"Cari pom bensin apa rest area sana." Sambung Seno.
Zian pun melesatkan mobilnya lebih cepat. Dan akhirnya menemukan rest area. Tanpa menunggu lama Zian memarkirkan mobilnya serampangan dan langsung melesat mencari toilet umum. Alhasil Seno lah yg harus memarkirkan mobilnya ke tempat parkir.
Selang tiga puluh menit, Zian keluar dari toilet dan langsung menghampiri Seno yang sedang duduk di teras mushola yang ada di rest area.
"Berak apa tidur loe di toilet?" Cibir Seno.
"Main bola." Jawab Zian asal.
"Loe aja yang bawa mobilnya, perut gue masih melilit rasanya."
Akhirnya Seno lah yang mengemudikan mobil saat perjalanan pulang.
*****
Hari sudah beranjak sore, terlihat Anja keluar dari rumah dengan membawa secangkir teh hangat dan cemilan di tangan kanan dan kirinya. Anja mendudukkan diri di kursi yang ada di teras rumah sambil menunggu suaminya pulang. Ia menikmati semilir angin yang berhembus sore itu. Namun hingga terdengar suara adzan Maghrib berkumandang, suaminya belum juga pulang. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
*****
Di tempat lain...
Mobil yang di kendarai Seno nampak sedang mengantri BBM disebuah pom bensin. Terdengar suara adzan Maghrib yang di barengi gerimis rintik-rintik saat mereka keluar dari pom bensin. Mereka memutuskan untuk mencari rumah makan untuk beristirahat sejenak sambil mengisi perutnya.
Setelah dirasa cukup, mereka melanjutkan perjalanan kembali karena nampaknya gerimis jg sudah reda. Namun baru sekitar satu jam mengemudi, tiba-tiba hujan turun sangat lebat di barengi dengan angin kencang yang membuat pandangan Seno mengabur. Akhirnya mereka memutuskan untuk berteduh dulu sambil menunggu hujan reda.
Dilihatnya ada warung kopi dipinggir jalan, Seno memarkirkan mobilnya di depan warung tersebut kemudian mereka turun untuk mencari minuman yang dapat menghangatkan badan.
"Mbak, wedang jahenya satu." Pesen Seno.
"Kopi satu mbak." Sambung Zian.
"Baik Mas, di tunggu sebentar." Ucap mbaknya.
Saat pesanan datang, Seno langsung menyeruput wedang jahenya yang masih terlihat mengepulkan asap. Alhasil ia merasakan lidah dan bibirnya yang terasa terbakar.
"Beehh hah hah." Seno berjingkat-jingkat sambil mengipas-ngipas mulutnya dengan tangan. Sedangkan Zian hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu.
Zian menuangkang kopi kedalam lepek kecil yang dibuat tatakan cangkir agar tidak terlalu panas. Namun saat ia baru akan menyeruputnya, ia teringat akan istrinya. Kemudian ia meletakkan kembali kopinya.
"Bawa cas kagak loe?" Tanya Zian ke Seno.
"Kagak!" Jawab Seno kek orang blo'on.
"Mbak ada cas?" Tanya Zian ke penjaga warung sambil memperlihatkan Hpnya.
"Maaf mas gak ada. Adanya yang kayak gini." Jawab penjaga warung sambil memperlihatkan Casnya. Akhirnya Zian pun hanya bisa pasrah.
*****
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Hujan deras mengguyur malam ini. Tapi Zian tak kunjung pulang. Akhirnya Anja memutuskan menunggu suaminya sambil nonton TV.
Tut.... tut.....
"Nomer yang anda tuju sedang diluar jangkauan." Anja memutuskan untuk menelpon Seno. Namun hanya suara operator yang di dengarnya.
Kemudian Anja beralih menelpon suaminya. Siapa tau mereka sudah sampai di mebel.
Tut.... tut.... tut... tut....
Tersambung tapi tidak diangkat. kemudian Anja mencobanya sekali lagi.
Tut.... tut.....
"Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif." Anja pun akhirnya hanya bisa pasrah dan berdoa agar suaminya baik-baik saja. Ia memutuskan menonton TV sampai ketiduran di sofa.
*****
Hujan sudah mulai reda. Akhirnya Zian dan Seno melanjutkan perjalanannya kembali. Mereka sampai di tempat kerja sekitar pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Zian langsung menuju ruang kerja pak Raffi yang ternyata lampunya masih menyala. Berarti pak Raffi masih ada di dalam dan belum tidur. Zian memutuskan untuk mengetuk pintunya.
Tok.... tok....
"Masuk." Terdengar sahutan dari dalam. Zian pun langsung masuk kedalam.
"Sudah pulang?" Tanya pak Raffi.
"Iya pak, baru saja sampai." Jawab Zian.
"Oh ya pak, tadi tas saya ketinggalan."
"Ya, Kayaknya tadi ada panggilan masuk. Tapi sebentar langsung mati. Mungkin dari istri mu." Jawab pak Raffi sambil menunjuk tas selempang kecil yang ada di meja. Masih ditempat semula saat Zian menaruhnya tanpa bergeser sedikit pun. Akhirnya Zian pamit pulang karena hari sudah larut.
Zian sampai dirumah pukul sepuluh malam. Dilihatnya sang istri yang tertidur di sofa depan TV. Zian pun menggendong istrinya menuju ke kamar lalu membaringkan nya ke atas ranjang dan menyelimutinya. Kemudian ia bergegas membersihkan diri lalu menyusul istrinya tidur.
*****
*****
*****
*****
*****
Pegel jempol emak gaess π
Sembilan ratus kata lebih loch ini ππ
Awas aja kalau gak di like π€
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ