Candamu Canduku

Candamu Canduku
SLC 08



Hari pertama Seno kembali bekerja di tempat Pak Raffi. Dengan mengendarai mobilnya, Seno berangkat ke tempat pak Raffi setelah berpamitan dengan anaknya sekalian sarapan di rumah makan Bu Mayang.


Di parkirkannya mobilnya di samping deretan sepeda motor milik pekerja yang lainnya. Ya, hanya Seno sendiri lah yang memakai mobil. Motor Satria yang dulu dimilikinya sudah ditukar dengan motor matic yang sekarang digunakan oleh Pak Lukman bapak mertuanya di desa.


"Assalamualaikum!" Sapa Seno saat masuk ke dalam mebel.


"Waalaikum salam!" Serempak para pekerja yang ada di sana menoleh. Tak terkecuali Pak Raffi yang juga ada di sana ikut menoleh saat mengenali suara yang baru saja menyapa indra pendengarannya. Pak Raffi segera menghampiri Seno yang masih berdiri di ambang pintu.


"Pagi Sen?"


"Pagi pak!" Seno segera meraih tangan Pak Raffi kemudian menciumnya. "Bapak sehat?"


"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat. Sudah siap bekerja kembali?"


"InsyaAllah pak!"


"Baiklah, ayo ke ruangan bapak kalau begitu." Pak Raffi dan Seno berjalan beriringan masuk ke dalam ruangan pak Raffi.


"Bapak turut berduka Sen." Ucap pak Raffi setelah mereka duduk di ruang kerja Pak Raffi. "Maaf, bapak gak tau kalau Riani sudah meninggal." Seno sudah menceritakan semuanya kepada Pak Raffi, semulai dari istrinya yang sudah meninggal hingga ia memutuskan untuk kembali bekerja di tempat Pak Raffi lagi melalui sambungan telepon.


"Iya pak gak papa. Memang saat itu saya sedang kalut, sampai lupa menghubungi bapak."


"Ya sudah, sekarang saatnya berjuang demi anak kamu." Pak Raffi mencoba menyemangati Seno.


"Iya pak!"


"Pa! Eh, maaf, ada tamu ya?" Cici langsung menghentikan langkahnya di ambang pintu saat ada tamu di dalam ruang kerja papanya.


"Ada apa Ci?" Tanya pak Raffi bersamaan dengan Seno yang menoleh ke arah pintu membuat keduanya sedikit terkejut. Seno yang terkejut saat melihat perut Cici yang nampak sedikit membuncit. Sedangkan Cici yang tak menyangka kalau tamu papanya adalah Seno, orang yang dulu pernah singgah di dalam hatinya.


"Mas Seno? Kok ada disini?" Cici masih mematung di ambang pintu.


"Iya!" Seno segera beranjak menghampiri Cici kemudian mengulurkan tangannya. "Apa kabar Ci?"


"Tadi ada apa Ci?" Tanya pak Raffi sekali lagi kepada anaknya.


"Eh iya, papa lihat kunci mobil mas Sandi gak?"


"Owh iya, semalam papa pakai. Kalau gak salah papa taruh di meja di kamar Papa, tanya aja sama mama."


"Oke, mari mas!" Cici segera meninggalkan ruang kerja papanya. Seno kembali mendudukkan tubuhnya di kursi depan meja kerja Pak Raffi.


"Cici sudah menikah pak?"


"Ya, Lima bulan yang lalu. Maaf ya bapak gak ngundang kamu."


"Iya, gak papa pak."


Setelah cukup mengobrol dengan Pak Raffi, Seno segera keluar dari ruang kerja Pak Raffi setelah menerima nota serta alamat tujuan pengirimannya. Di hari pertamanya bekerja ini, Pak Raffi memintanya untuk mengirim barang ke alamat yang dekat-dekat saja dulu. Sedang alamat pengiriman yang jauh akan dikerjakan oleh sopir yang lain. Lebih tepatnya sopir Pak Raffi selama ini yang bekerja setelah Seno dulu memutuskan untuk berhenti bekerja di tempat Pak Raffi. Ya, belakangan ini usaha Pak Raffi semakin berkembang. Sudah ada tiga mobil pickup sebagai sarana pengiriman.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ