
Tak terasa kandungan Anja sudah menginjak usia tujuh bulan. Zian sengaja libur hari ini karena ingin mengantarkan istrinya untuk periksa kandungan ke rumah sakit. Dan disinilah mereka saat ini, di ruangan dokter Bella yang dulu menangani Anja saat keguguran hingga saat ini ia hamil kembali.
"Pagi Nja, pagi pak Zian." Sapa dokter Bella ramah saat Anja dan Zian masuk ke dalam ruangannya.
"Pagi dok." Balas mereka bersamaan.
"Ada keluhan?" Tanya dokter Bella kepada Anja.
"Tidak ada dok. Hanya sesekali terasa nyeri saat sedang terkejut." Jelas Anja.
"Baik, mari kita periksa dulu." Dokter bela beranjak dari duduknya.
"Apa udah bisa lihat jenis kelaminnya dok?" Tanya Zian antusias.
"Kita lihat saja nanti ya pak, harusnya sih sudah. Tapi tergantung sama babynya malu apa tidak." Anja di bantu oleh seorang perawat untuk naik ke atas bed. Kemudian perawat tersebut mengoleskan gel ke atas permukaan perutnya. Setelah itu dokter Bella mulai menggerakkan alat USGnya.
"Usianya sudah masuk tujuh bulan ya Bu, pak. Wah lihat ini!" Dokter Bella menunjuk ke arah layar monitor.
"Aku cewek papa." Ucap dokter Bella menirukan suara anak kecil.
"Say hello ke mama dan papa sayang." Ucap dokter Bella sekali lagi. Anja nampak sudah berkaca-kaca. Sedangkan Zian matanya nampak berbinar.
Karena tidak ada keluhan, dokter Bella hanya meresepkan vitamin penambah darah kepada Anja.
Setelah menebus obat di apotik yang ada di dalam rumah sakit tersebut, Anja dan Zian segera keluar untuk mencari taksi. Ya, Zian dan Anja tadi berangkat naik taksi. Zian sudah tidak berani lagi membonceng istrinya. Ia merasa tak tega melihat perut Anja yang sudah membuncit. Dan Anja pun melarang Zian untuk meminjam mobil pada pak Raffi karena ia merasa sungkan. Padahal pak Raffi juga tidak masalah sebenarnya. Akhirnya Zian dan Anja memutuskan untuk naik taksi saja.
"Mas, kapan-kapan kita belanja perlengkapan bayi ya."
"Siap nyonya!"
"Ck! Apaan sich."
"Lah, kan memang nyonya Zian Aditama." Ucap Zian sambil mengerling ke arah istrinya. Namun Anja hanya memutar bola matanya malas.
Sesampainya di rumah, Anja segera membersihkan dirinya. Sedangkan Zian nampak sedang menonton TV.
"Mas!" Panggil Anja seraya mendekati suaminya.
"Mas!" Panggil Anja sekali lagi seraya mematikan TVnya. Anja selalu saja merasa ketakutan saat melihat berita kecelakaan di TV. Ia aka langsung teringat dengan mimpi buruknya.
"Apa sayang?"
"Beliin sate kerang donk. Kok aku tiba-tiba pengen makan sate kerang."
"Sekarang?"
"Tahun depan!"
"Hehe.." Zian cengengesan seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ya udah tunggu di rumah." Zian segera bangkit lalu mengecup kening istrinya sekilas. Kemudian ia segera menyambar jaket dan kunci motornya.
Entah Zian akan mencarinya kemana? Namun selang dua jam kemudian, nampak Zian masuk ke dalam rumah dengan menenteng keresek warna hitam di tangannya. Dilihatnya sang istri yang tertidur lelap di sofa depan TV. Bukan Anja yang menonton TV tapi TV lah yang menonton Anja. Ya begitulah yang sering terjadi. Mungkin istrinya itu kelelahan. Di letakkannya keresek tersebut ke atas meja, kemudian diangkatnya tubuh sang istri dengan hati-hati dan pelan-pelan agar tak membangunkan Anja. Lalu Zian segera membawa istrinya ke dalam kamar agar sang istri merasa nyaman. setelah itu Zian segera membersihkan dirinya lalu ikut berbaring dan terlelap di samping istrinya.
*****
*****
*****
*****
*****
Selamat ya Nja Zi π€π€
Hay baby girl ππ
Mama Papa atau Ayah Bunda nich enaknya?
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ