
Pukul satu siang acara resepsi pernikahan Riani dan Seno telah usai. Pak Raffi sekeluarga sudah pamit pulang terlebih dahulu sebelum pesta usai. Begitu pula dengan Bu Mayang, mak Rat, mbak Sih dan mbak Ti yang juga langsung pamit pulang saat pesta telah usai. Tertinggal Laras dan Radit yang nampak sedang ngobrol asyik dengan kedua mempelai.
Bu Mayang memilih pulang naik travel bersama para pekerjanya. Padahal tadi Radit sudah menawarinya untuk pulang bareng bersama Laras dan dirinya, namun Bu Mayang menolaknya.
"Loe gak nginep lagi aja Ras? Perjalanan jauh Loch." Ucap Riani mengingatkan.
"Gak ah, takut ganggu pengantin baru!"
Tak!
Riani menjitak kepala Laras, kesempatan mumpung lagi gak ada Bu Mayang disana.
"Ini kepala woy! Tadi lakinya sekarang bininya." Geram Laras.
"Makanya punya mulut jangan asal mangap!" Sungut Riani namun sedetik kemudian matanya berkaca-kaca.
"Loe kenapa?" Tanya Laras keheranan.
"Sayang, ada apa?" Seno nampak khawatir melihat istrinya menangis.
"Gue keinget sama Anja, hiks.. hiks.."
"Sudah, gue juga sedih sebenarnya. Harusnya di hari bahagia loe ini kita ngumpul bersama. Tapi mau bagaimana lagi, takdir berkata lain. Kita doakan saja Anja cepet sadar." Laras memeluk erat sahabatnya itu.
"Shasa gimana kabarnya Dit?" Riani beralih menatap Radit.
Deg!
Radit memilih bungkam seraya menggelengkan kepalanya karena memang ia sama sekali tidak tau kabar Shasa saat ini.
"Gue masih heran sama Shasa, kenapa tiba-tiba dia pergi menghilang tanpa kabar. Apa terjadi sesuatu sama dia?" Lanjut Riani.
Deg!
Lagi-lagi jantung Radit bergemuruh saat mendengar nama Shasa.
"Shasa itu orangnya tertutup, jadi kita gak bisa nebak apa isi kepalanya." Laras menyampaikan pendapatnya.
"Ayo balik, nanti kemaleman." Ucap Radit menyela.
"Halah bro, masak gak berani." Canda Seno.
"Ya udah Ri, gue balik dulu. Jangan lupa bagi tutor dan pengalamannya besok, oke!"
Tak!
Sekali lagi Laras mendapatkan jitakan yang lebih keras dari Riani yang membuatnya bersungut-sungut seraya mengusap-usap dahinya.
Akhirnya Laras dan Radit pulang sore itu juga karena Radit ada pertemuan penting dengan salah satu rekan bisnisnya besok pagi. Ya, rekan bisnis pemasok bahan baku tetap ke restorannya. Radit hanya ingin tau siapa saja rekan bisnisnya sekarang itu.
Selepas kepergian Radit dan Laras, Riani dan Seno langsung masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.
"Capek mas!" Keluh Riani.
"Nanti malam aku pijitin." Balas Seno tersenyum manis.
"Heleh modus!" Riani memutar bola matanya malas. "Mau mandi dulu?"
"Mandi bareng boleh?" Bisik Seno di telinga istrinya.
"Gak usah macem-macem!" Riani melotot tajam ke arah suaminya. Sedang yang di pelototi hanya cengengesan. "Cepetan, di luar masih banyak tamu itu."
"Iya sayang, muuuaach!" Seno mengecup sekilas pipi istrinya kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri, mereka bergegas keluar dari kamar untuk kembali menemui para sanak saudara serta kerabat yang seperti tiada habisnya itu. Acara dilanjutkan dengan makan malam bersama sebagai penutup kegiatan hari ini. Dengan menggelar tikar di ruang tamu, mereka semua menikmati makan malam yang penuh suka cita tersebut. Kebahagiaan sedang menyelimuti keluarga besar pak Lukman dan Bu Tutik.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ