Candamu Canduku

Candamu Canduku
Bab 44. Meminta Restu



Hari ini Seno dan Riani berencana pulang kampung untuk meminta restu kepada orang tua Riani. Anja pun tak mau ketinggalan, ia bersikeras ingin ikut bersama mereka karena sudah lama rasanya ia tidak pulang kampung. Ia juga sudah rindu dengan kedua orang tuanya. Terakhir ia mengunjungi makam kedua orang tuanya dulu sebulan setelah ia mengalami keguguran. Dan disinilah mereka berempat berada, di sebuah mobil yang di pinjamnya dari pak Raffi. Mereka saat ini dalam perjalanan menuju ke desa tempat asal Anja dan Riani.


*****


Setelah menempuh perjalanan sekitar enam jam, akhirnya tiba juga mereka di desa tersebut. Jika menggunakan bus atau kendaraan umum biasanya membutuhkan waktu sekitar delapan jam. Di parkirkannya mobil tersebut tepat di pekarangan rumah Riani. Nampak kedua orang tua Riani tergopoh-gopoh keluar saat mendengar deru mesin mobil yang berhenti di depan rumahnya.


"Ibuuuukk!" Riani turun duluan dan langsung berlari memeluk ibunya di susul Seno di belakangnya. Sedangkan Zian masih membantu Anja turun dari mobil. Anja nampak kepayahan karena memang perutnya yang sudah membuncit.


"Nduk, kok gak bilang kalau mau pulang?" Bu Tutik ibunya Riani mengelus kepala anaknya.


"Hehe, kan mau kasih kejutan." Riani kemudian beralih memeluk bapaknya.


"Bapak sehat?" Tanya Riani dalam pelukan bapaknya.


"Alhamdulillah sehat nduk. Ini siapa?" Tanya pak Lukman seraya menunjuk Seno dengan dagunya.


"Kenalin ini mas Seno pak, buk." Jawab Riani. Seno segera mencium tangan kedua orang tua Riani.


Nampak Anja berjalan tertatih dengan di gandeng suaminya mendekat ke teras rumah. Sepertinya kakinya kembali bengkak. Padahal tadi Zian ingin menggendongnya tapi Anja menolaknya.


"Nduk!" Bu Tutik segera memeluk Anja. Tak terasa air mata Anja jatuh membasahi pipinya. Pelukan seperti inilah yang di rindukan oleh Anja dari ibunya.


"Gimana cucu ibu, sehat?" Tanya Bu Tutik seraya mengelus perut buncit Anja.


"Sehat Bu." Jawab Anja seraya mengangguk.


"Pak, Bu, sehat?" Zian segera mencium tangan kedua orang tua Riani. Ya, Zian memang sudah akrab dengan kedua orang tua Riani karena sudah dua kali datang kesini. Pertama saat dulu ia akan menikah dengan Anja, Zian dan Anja pergi ke makam kedua orang tua Anja untuk meminta restu. Dan kedua, sebulan setelah Anja mengalami keguguran.


"Ayo masuk dulu." Ucap pak Lukman bapaknya Riani.


"Zi, bawa istri mu ke kamar biar istirahat. Lihat itu, kakinya sampe bengkak begitu." Ucap Bu Tutik seraya menunjuk ke arah kaki Anja yang memang terlihat membengkak.


*****


Setelah meletakkan minuman di atas meja, Riani langsung duduk di sebelah Seno. Sedangkan Bu Tutik duduk di samping suaminya.


"Pak, Bu, sebenarnya kedatangan saya kesini ingin meminta restu kepada bapak dan ibu untuk meminang Riani." Seno mengutarakan niatnya datang kesini kepada kedua orang tua Riani. Pak Lukman dan Bu Tutik saling pandang kemudian beralih menatap Riani.


"Kami terserah pada Riani saja nak. Kalau Riani merasa nak Seno adalah lelaki yang baik untuk mendampinginya, maka kami akan memberikan restu." Ucap pak Lukman bijak.


"Gimana nduk?" Tanya pak Lukman kepada Riani yang di jawab anggukan oleh Riani.


"Kalau memang nak Seno serius sama Riani, bawalah orang tua nak Seno kemari." Ucap pak Lukman.


"Baik pak, saya akan secepatnya membawa orang tua saya kesini." Ucap Seno seraya menggenggam erat tangan Riani yang ada di sampingnya seolah meluapkan rasa bahagianya, yang di balas Riani dengan genggaman yang erat pula.


*****


*****


*****


*****


*****


Alhamdulillah Sen, emak ikut seneng πŸ˜…


Kawal sampe halal pokoknya πŸ˜‚πŸ˜‚


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚