
Satu bulan kemudian..
*****
Seharian ini Anja di bikin jengkel dengan ulah suaminya. Pasalnya sejak berangkat tadi pagi hingga sore ini, Zian tak kunjung memberi kabar. Di telepon pun nomornya juga tidak aktif. Istri mana yang tidak khawatir jika suaminya tiba-tiba menghilang tanpa kabar? Seno pun di telepon juga tidak diangkat.
Di tempat lain..
Zian dan Seno seharian ini nampak ada di gudang membantu tukang yang sedang mengerjakan pesanan. Hari ini mereka memang tidak ada jadwal pengiriman. Zian memang sengaja mematikan HPnya sejak tiba di mebel. Dia pikir karena tidak ada pengiriman, pak Raffi pasti akan mencarinya di gudang bila ada perlu. Karena begitulah keseharian Zian dan Seno jika tidak ada jadwal pengiriman pasti mereka akan membantu di gudang.
Kriiing.... kriiing....
HP Seno nampak berdering kembali. Dilihatnya satu nama yang sejak tadi siang tak berhenti menghubunginya. Siapa lagi kalau bukan Anja. Namun ia tidak berani mengangkatnya karena Zian sudah melotot horor di depannya sambil memegang balok kayu. Seolah-olah siap untuk menghantamnya jika ia berani mengangkat panggilan dari istrinya. Seno pun bergidik ngeri sambil menelan salivanya. Kemudian ia segera memasukkan kembali HPnya ke dalam saku bajunya.
*****
Pukul empat sore, nampak Zian dan Seno keluar dari mebel dengan mengendarai mobil pick up. Zian meminta Seno untuk menemaninya mencari kado untuk Anja sekaligus memberi kejutan untuk istrinya. Ya, hari ini Anja ulang tahun. Tepatnya yang ke dua puluh tahun.
Dan disinilah mereka berada, di sebuah toko perhiasan. Zian ingin membelikan sebuah kalung untuk istrinya sebagai kado ulang tahunnya.
"Kira-kira Anja suka yang mana ya?" Tanya Zian kepada Seno.
"Mana gue tahu." Seno cuma mengangkat bahunya.
"Setahu gue Anja gak pernah pake begituan." Sambungnya.
"Iya juga sih, tapi gak papalah." Ucap Zian terdengar ragu karena memang setahunya Anja gak pernah memakai kalung.
*Gi*mana mau pake kalung kalau gak ada yang ngasih Bambang!
"Cari yang simpel aja." Lagi-lagi Seno memberi pendapat.
"Ya udah mbak, bungkus yang ini aja." Putus Zian.
Setelah membeli kado untuk istrinya, Zian berpindah ke sebuah toko kue yang menjual berbagai macam kue tart.
"Gak usah gedhe-gedhe, yang sedang saja." Seno kembali mengingatkan.
"Iya bawel!" Sungut Zian sambil melotot kesal.
Setelah menunggu selama lima belas menit akhirnya pesanan Zian jadi juga. Karena memang hanya tinggal mengukir nama di atas kue tart saja. Sedangkan kuenya sudah ada banyak di dalam etalase.
Setelah mendapatkan apa yang di carinya, mereka memutuskan singgah untuk mengisi perutnya yang terasa keroncongan.
*****
"Sudahlah Nja, jangan terlalu di pikirkan. Mungkin aja Zian lagi kirim ke luar kota terus HPnya ketinggalan kayak dulu." Hibur Riani.
"Iya Nja, doakan saja semoga suami loe baik-baik saja." Sambung Laras.
"Tapi kan dia bisa ngabari gue pake HPnya Seno. Seno juga dari tadi di telepon gak diangkat." Mata Anja sudah berkaca-kaca, sebentar lagi pasti air matanya akan tumpah.
Tiba-tiba lampu mati, dan membuat suasana menjadi hening. Tak lama nampak sebuah cahaya masuk dari arah pintu depan dan terdengar suara seseorang yang di rindukannya seharian ini.
"Happy birthday to you.. happy birthday to you.. happy birthday happy birthday, happy birthday to you." Tiba-tiba lampu menyala lagi. Siapa lagi biang keroknya kalau bukan Seno. Mereka pun menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana. Sedangkan Anja hanya diam membisu, namun air matanya tak berhenti mengalir. Mungkin ia syok dengan kejutan dari suaminya.
"Happy birthday istriku sayang." Ucap Zian sekali lagi. Anja langsung berhambur memeluk suaminya, yang membuat Zian terhuyung ke belakang. Untung kue yang ia pegang sejak tadi tidak jatuh. Tangan kanan Zian memegang kue sedangkan tangan kirinya mengelus punggung istrinya yang nampak sesenggukan dalam pelukannya.
"Tiup lilin dulu sayang." Anja pun segera mengurai pelukannya.
"Eits, berdoa dulu." Zian menjauhkan kue dari depan Anja. Anja pun segera menadahkan kedua tangannya ke atas sambil terpejam seraya memanjatkan segala doa kebaikan dalam hatinya. Kemudian ia membuka matanya dan segera meniup lilinnya.
"Fiuuuhh."
Proookk.... proookk.... proookk....
Terdengar riuh tepuk tangan dari para pengunjung rumah makan yang menyaksikan drama tersebut.
Zian nampak mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya dan membukanya. Mata Anja nampak berkaca-kaca kembali. Zian segera memakaikannya ke leher istrinya. Riuh tepok tangan terdengar sekali lagi.
Proookk.... proookk.... proookk....
Riani dan Laras pun tak kalah hebohnya. Sedangkan Bu Mayang hanya geleng kepala menyaksikan drama kedua anak manusia tersebut. Namun dalam hati ia bersyukur karena Anja di pertemukan dengan jodoh sebaik Zian. Meskipun mereka sama-sama yatim piatu dan dari keluarga sederhana, namun cinta keduanya membuktikan bahwa apalah arti sebuah materi jika sebuah kesederhanaan mampu memberikan kebahagiaan.
*****
*****
*****
*****
*****
Emak terhura gaess ππππππ
Nulis ini sambil sesenggukan. Alhasil mata emak jadi bengkak sak kepel2 ππππ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ