
Sore ini dengan perasaan riang gembira, Laras sudah kembali lagi ikut membantu di rumah makan ibunya. Semangat hidupnya seperti terpompa lagi dengan kehadiran baby Camelia.
Seno dan baby Camelia pun ikut membantu di warung. Seno bertugas sebagai kasir, sedangkan Laras dan baby Camelia sebagai waiters. Baby Camelia setia mengekor di belakang Laras kemanapun Laras melangkah, dengan bersenandung riang menyanyikan lagu anak-anak seperti yang dinyanyikannya tadi saat berada di dalam mobil. Membuat orang-orang yang ada di sana merasa gemas dengan tingkahnya.
"Lihatlah putri kecil kita sayang, dia nampak bahagia bersama Bunanya." Lirih Seno seraya memperhatikan tingkah putrinya.
"Sayang, dedek kalau capek duduk dulu sana sama ayah. Jangan ngintilin Buna terus."
"No! Mel mau bantuin Buna." Tolak baby Camelia menggelengkan kepalanya. Laras yang gemas langsung mencubit kedua pipi baby Camelia.
"Bantuin apa? Dari tadi cuma ngintilin Buna begitu." Sahut Seno.
"Mel kan nemenin Buna ayah." Protes baby Camelia seraya mencebikkan bibirnya yang membuat sang ayah terkekeh.
Sore pun berganti malam, suasana rumah makan semakin ramai karena jamnya makan malam. Mereka semakin di sibukkan dengan banyaknya pengunjung. Bahkan Seno pun merangkap sebagai waiters. Baby Camelia terlihat duduk anteng di belakang meja kasir seraya mewarnai gambarnya yang ia bawa dari rumah.
"Huuuft, udah lama gak hobah capek juga ternyata." Keluh Laras yang membuat Seno terkekeh.
"Makanya jangan jadi Putri tidur mulu." Seno menimpali.
"Yee, siapa yang jadi Putri tidur. Putri cantik yang ada." Laras menjulurkan lidahnya ke arah Seno. Seno hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Laras.
"Buna!" Teriak baby Camelia.
"Ya sayang!" Laras melangkah menghampiri baby Camelia.
"Mel nantuk, mau bobok." Baby Camelia mengucek kedua matanya menggunakan punggung tangannya.
"Ayo, sama ayah saja!" Seno melangkah mendekati anaknya.
"Mel mau tama Buna!" Tolak baby Camelia tegas seraya menggelengkan kepalanya.
"Tapi nanti takut mengganggu kamu." Laras menggeleng.
"Tidak ada seorang ibu yang merasa terganggu dengan kehadiran anaknya." Ucap Laras sendu. "Boleh kan aku menganggapnya sebagai anak ku sendiri?" Seno mengangguk.
"Ya, dia anak kita!" Ucap Seno spontan. Namun sedetik kemudian ia menyadari ucapannya. "Maaf, maksud ku, kamu boleh menganggapnya sebagai anak sendiri." Seno menggaruk kepalanya. Laras segera menggendong baby Camelia dan membawanya ke rumah untuk ditidurkan. Sedangkan Seno memilih tidur di kamar yang dulu ditempati oleh Anja dan Riani. Kamar itu sampe sekarang tidak ada yang berani menempati. Bahkan Mbak Ti dan Mbak Sih serta Mak Rat tidak mau pindah dari kamar nya. Sebenarnya Laras dan Bu Mayang sudah menyuruh Seno untuk tidur di rumah di kamar tamu, namun Seno menolaknya dan memilih tidur di kamar yang ada di warung.
Satu jam kemudian, Laras sudah kembali lagi ke warung yang sudah terlihat agak sepi.
"Sudah tidur?" Tanya Seno saat Laras menarik kursi yang ada di sebelahnya.
"Heemm, mas Seno udah makan?" Saat ini mereka sedang menonton televisi.
"Belum! Ayo makan bareng, kamu juga belum makan dari siang." Seno beranjak dari duduknya kemudian mengulurkan tangannya ke arah Laras. Sedangkan Laras hanya diam saja memperhatikan tangan tersebut. "Ayo!" Ucap Seno sekali lagi. Laras pun segera meraih tangan Seno kemudian mereka berdua berjalan beriringan masuk ke belakang.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ