
Zian memarkirkan motornya di depan rumah makan Bu Mayang, kemudian ia masuk ke dalam untuk mencari istrinya.
"Sayang." Zian menghampiri istrinya yang ada di kasir.
"Sudah pulang?" Anja melihat jam yang melingkar di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.
"Sebentar aku ambil tas dulu." Ucapnya kemudian berlalu.
"Ras, Ri, gue pulang dulu. Suami gue udah jemput. Sampaikan ke Bu Mayang ya." Pamit Anja kepada kedua sahabatnya yang sedang menyiangi kemangi yang akan dijadikan lalapan.
"Siap hati-hati." Balas Laras.
Semenjak menikah, Anja hanya bekerja pada siang hari saja. Beda saat dulu sebelum ia menikah, Anja dan Riani akan bekerja siang malam full dan hanya akan istirahat saat warung sedang tutup atau belum buka. Sedangkan Laras akan membantu jika ia tidak ada jam kuliah.
Pagi Anja akan berangkat bareng suaminya. Sedangkan pulangnya ia menunggu sang suami menjemputnya. Kadang jika suaminya lembur maka ia juga akan ikutan lembur. Dari pada menunggu dirumah sendirian, Anja lebih memilih menunggu suaminya di warung.
*****
"Sayang cape gak?" Tanya Zian seraya mendekap istrinya dari belakang.
"Lumayan." Jawab Anja kemudian membalikkan badannya menghadap sang suami. Pandangan mereka pun bertemu kemudian saling tersenyum.
"Mau aku pijitin?" Tawar Zian modus.
"Tidak terima kasih!" Jawab Anja cepat.
"Aku udah lapar, sebaiknya kita makan dulu." Anja secepat kilat melesat keluar dari kamar yang membuat Zian merengut. Kemudian menyusul istrinya ke dapur.
Anja menata makanan yang dibawanya dari warung ke atas meja yang ada di dapur. Anja selalu membawa makanan dari warung untuk makan malam mereka. Anja hanya masak di pagi hari saja, untuk membuatkan suaminya sarapan.
"Sayang, mau aku suapi?" Tanya Zian saat udah duduk di sofa depan TV.
"Aku bisa sendiri sayang." Tolak Anja. Namun Zian tetap menyodorkan sesendok nasi ke depan mulut istrinya. Mau tak mau akhirnya Anja pun membuka mulutnya menerima suapan dari sang suami.
"Sayang, besok aku mau pergi dengan pak Raffi."
"Kemana?"
"Entahlah, aku juga belum tahu. Kata pak Raffi, orang yang biasa stok kayu ke mebel lagi kehabisan kayu. Jadi pak Raffi mau cari stok cadangan agar kalau pas lagi banyak pesanan kayak gini gak bingung cari kayu." Ucap Zian menjelaskan kepada istrinya.
"Terus pulangnya jam berapa?"
"Belum tahu juga." Zian menggaruk tengkuknya.
"Terus aku gimana?"
"Terserah kamu aja. Mau pulang dulu atau nunggu di warung aja sampai aku datang seperti biasa."
"Aku tunggu kamu aja kalau begitu. Di rumah sepi, enakan juga di warung ada Riani sama Laras."
"Ya udah, yuk tidur." Zian beranjak dari duduknya kemudian tanpa aba-aba langsung menggendong Anja ke pundaknya seperti karung beras. Sontak Anja menjerit karena kaget.
"Aaaaaa, mas turunin aku." Ucap Anja sambil memukul-mukul punggung suaminya.
Bruukk!
Zian membanting pelan tubuh istrinya ke atas ranjang kemudian menindihnya.
"Mas!" Seru Anja ingin memukul suaminya kembali, namun tangannya sudah di cekal oleh Zian. Zian lanjut menggelitiki pinggang istrinya yang membuat Anja berteriak minta ampun.
"Ampun mas, ampun sudah."
"Aaaaaaa ampun mas." Zian pun melepaskan tangan istrinya dan berganti memagut bibir istrinya. Anja pun menyambut pagutan dari suaminya. Dan malam itu mereka lalui dengan saling memuaskan pasangan mereka.
*****
Pagi sekali Anja sudah datang ke rumah makan, karena pagi ini suaminya berangkat lebih pagi. Tampak Riani yang sedang menyapu halaman depan rumah makan.
"Eh Nja, tumben jam segini sudah datang?" Ucap Riani seraya melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Waktu baru menunjukkan pukul setengah tujuh.
"Loe jalan kaki tadi?" Tanyanya lagi.
"Gak lah, tadinya mau jalan kaki aja tapi sama mas Zian gak di bolehin."
"Mas Zian hari ini berangkat pagi. Katanya mau diajak pergi sama bossnya." Jawab Anja seraya duduk di bangku panjang yang ada di bawah pohon mangga.
Tin.... tin.....
Terdengar suara mobil masuk ke halaman dan berhenti di tempat parkir. Kemudian keluarlah Radit dari pintu kemudi. Namun yang membuat Anja heran. Mengapa Radit datang sepagi ini? padahal sudah jelas kalau warung bukanya jam tujuh. Aneh!
Terlihat Radit yang berjalan menghampiri Anja dan Riani.
"Pagi." Sapanya yang membuat Anja dan Riani saling pandang.
"Pagi." Jawab Anja dan Riani barengan.
"Maaf mas, warungnya belum buka. Bukanya nanti jam tujuh." jelas Anja.
"Ya udah gue tungguin." Ucap Radit seraya mendudukkan dirinya di samping Anja. Sontak Anja dan Riani kembali saling berpandangan.
"Ya udah loe bukain aja pintunya biar gue lanjutin nyapunya." Ucap Riani kepada Anja. Anja pun mau tak mau beranjak dari duduknya kemudian melangkah masuk lewat pintu samping dan kemudian membuka pintu dari dalam.
Anja dan Riani memang hanya bertugas menjadi pelayan dan tukang bersih-bersih saja. Sedangkan masak dan cuci piring sudah ada yang mengerjakan sendiri.
Ceklek!
Anja terlonjak saat wajah Radit berada tepat di depannya.
"Astaghfirullah." Ucapnya sambil mengelus dada kemudian berlalu. Radit pun mengekor di belakang Anja yang membuat Anja berhenti melangkah kemudian berbalik dan mendapati Radit yang juga berhenti di belakangnya.
"Mas duduk aja dulu. Ngapain ngikutin saya. Saya mau naruh tas di belakang dulu." Ucap Anja kemudian berlalu. Radit pun akhirnya duduk di kursi dekat kasir.
"Mau pesen apa?" Tanya Anja saat menghampiri Radit yang sedang memainkan ponselnya.
"Kopi saja!" Jawab Radit singkat.
"Hah, kopi saja?" Beo Anja.
"Gak mau yang lain?" Lanjutnya tanpa sadar.
"Yang lain apa maksudnya?" Tanya Radit balik yang membuat Anja gelagapan.
"Anu eh, maksud saya apa gak pesen makan? Masnya sudah sarapan?"
"Panggil Radit saja!" Ucap Radit tegas.
"Maaf mas, kita gak seakrab itu."
"Mulai sekarang kita akan mencoba untuk akrab." Radit menatap Anja dalam.
"Baiklah terserah." Ucap Anja berlalu.
*****
*****
*****
*****
*****
Itu si Radit ngapain yaa, istri orang di pepet terus π€π€
Ngidam bogemnya babang Zian keknya π€ππ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ