
Laras yang saat itu sedang duduk di depan kelas Camelia bersama ibu-ibu yang lainnya terlihat syok setelah membaca chat dari Erik yang mengabarkan tentang meninggalnya Radit. Laras segera meminta izin kepada wali kelas Camelia untuk pulang.
"Loh, cucu Oma tumben jam segini sudah pulang? Apa bu guru ada rapat?" Bu Mayang yang saat itu berada di warung sedikit kaget karena tak biasanya cucunya itu pulang pagi. Padahal waktu baru menunjukkan pukul sembilan pagi.
"Ma, tolong gantikan baju Camel aku mau telepon mas Seno dulu."
"Ada apa Ras?" Bu Mayang memperhatikan gerak-gerik anaknya yang nampak gelisah.
"Tadi aku dapat chat dari Erik ma, katanya Radit meninggal."
"Innalillahi wainnailaihi rojiuun!" Ucap serempak Bu Mayang dan para pekerja rumah makan yang mendengarnya.
"Kok tiba-tiba, memangnya Radit sakit apa? Apa sudah kamu pastikan kalau itu benar-benar Radit? Takutnya penipuan, sekarang kan banyak modus penipuan."
"Sudah ma, kata Erik Radit sakit k@nk3r 0t@k."
"Ya sudah, suruh suami mu pulang secepatnya. Kita akan pergi ke Bandung sekarang juga." Putus Bu Mayang yang tak menyadari ucapannya.
"Suami?" Beo Laras. Sedang para pekerja yang mendengar itu hanya mengulum senyumnya.
"Eh, maksud Mama Seno. Cepetan telpon Seno." Ucap Bu Mayang salah tingkah. "Ayo sayang ganti baju sama oma." Bu Mayang segera menggandeng tangan cucunya dan membawanya ke rumah. Laras pun segera menghubungi Seno. Beruntung Seno belum berangkat mengirim barang. Seno segera meminta izin kepada Pak Raffi untuk pergi takziah ke Bandung.
Tak berselang lama Seno tiba di kediaman Bu Mayang. Seno langsung masuk ke dalam rumah, namun rumah terlihat sepi. Seno melangkah ke arah kamar Laras kemudian mengetuknya. Tanpa menunggu lama, pintu kamar Laras dibuka dari dalam oleh anaknya.
"Buna mana sayang?"
"Buna lagi mandi." Jawab Camel singkat kemudian kembali naik ke atas ranjang menonton YouTube di ponsel Bunanya. Seno pun mendudukkan diri di pinggir ranjang tersebut.
Ceklek!
Laras yang tidak menyadari kalau saat itu ada Seno di dalam kamarnya, dengan santainya keluar dari kamar mandi hanya menggunakan sehelai handuk yang dililitkan ke tubuhnya. Handuk kecil tersebut hanya mampu menutupi dadanya hingga setengah pahanya.
Seno yang mendengar pintu kamar mandi dibuka langsung menoleh dan mendapati Laras yang keluar dari kamar mandi hanya menggunakan sehelai handuk.
Gleg!
Susah payah Seno menelan salivanya menyaksikan pemandangan di depan matanya. Laras yang baru menyadari kalau di dalam kamarnya ada Seno spontan menjerit seraya masuk ke dalam kamar mandi lagi.
"Aaaaaaaa!"
Braakk!!
Seno yang tadi sempat terpana seketika terlonjak dan tersadar. Ia segera keluar dari kamar Laras.
"Sayang, kasih tahu Buna kalau ayah sudah keluar dari kamar." Camelia mengangguk kemudian segera turun dari ranjang.
"Buna! Ayah sudah keluar!" Teriak Camelia seraya mengetuk pintu. Laras pun segera keluar dari kamar mandi setelah berhasil menenangkan degup jantungnya.
"Buna kenapa teriak?"
"Eng-enggak sayang, tadi Buna kaget karena ada kecoa."
"Mana kecoanya?" Camelia ingin masuk ke dalam kamar mandi namun dihalangi oleh Laras.
"Eh, anu, kecoanya udah pergi. Camel keluar dulu ya, Buna mau ganti baju." Camelia pun mengangguk kemudian segera keluar dari kamar.
Tak berselang lama Laras keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi.
"Sudah pesan tiket?" Tanya Seno menghampiri Laras yang baru saja keluar dari kamar.
"Su-sudah!" Jawab Laras tergagap seraya menunduk karena merasa malu dengan kejadian tadi.
"Jam berapa?" Tanya Seno lagi. Sebenarnya Seno juga merasa sungkan, namun ia berusaha untuk tetap biasa saja seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
"Jam sebelas!" Jawab Laras singkat.
"Ya sudah, aku pulang dulu sebentar mau ganti baju."
"Ya!"
Seno segera meninggalkan rumah Bu Mayang menuju ke rumah almarhum Zian yang ditempatinya dengan berjalan kaki setengah berlari.
Pukul Sepuluh lebih lima menit mereka berempat meninggalkan kediaman Bu Mayang menuju ke bandara Surabaya untuk terbang ke Bandung.
*****
*****
*****
*****
*****
Nyambung di novel "Luka Hati Luka Diri" Episode 98 π€
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ