Candamu Canduku

Candamu Canduku
Bab 07. Semangat 45



Bukan Agustusan loh yaa tapi Septemberan 🀭


***


***


***


Anja mengeliat dalam balutan selimutnya. Sepasang matanya masih terpejam karena masih di kuasai kantuk. Tangannya meraba ke samping demi mencari sosok suami yang semalam menyerangnya dengan brutal. Di lihatnya suaminya masih tertidur lelap.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Hari ini suaminya akan kembali bekerja, Anja mencoba turun pelan-pelan agar tidak membangunkan sang suami. Ia ingin segera mandi dan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Namun saat melangkah, ia merasakan perih di pangkal p*h*nya.


"Sttttt." ia pun mendesis sambil berjalan pelan-pelan".


"Sayang." Zian segera bangun dan menggendong istrinya menuju ke kamar mandi. Mereka pun akhirnya mandi bersama.


*****


Sepiring nasi goreng dan secangkir kopi menyambutnya di pagi hari. Zian tampak mengembangkan senyumnya. Kebiasaan Zian memang selalu minum kopi di pagi hari. Di lihatnya jam yang melingkar di tangan sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Mereka pun bergegas menyelesaikan sarapannya. Sepiring berdua!


Hari ini Zian nampak semangat 45, terlihat dari raut wajahnya yang memancarkan aura kemenangan karena semalam ia berhasil menjebol gawang istrinya sebanyak dua ronde. Bukan wedang ronde loh ya!


"Sayang, apa kamu juga akan masuk kerja hari ini?" Tanya Zian pada sang istri.


"Kayaknya besok aja deh mas, badan ku rasanya sakit semua. Aku mau tiduran aja dirumah."


"Ya udah kalau begitu aku berangkat dulu ya, baik-baik dirumah." Pamit Zian kepada istrinya.


"Iya mas, hati-hati ya." Tak lupa Anja mencium tangan suaminya dan di balas Zian dengan kecupan di keningnya. Setelah berpamitan kepada istrinya, Zian langsung melesat menggunakan motor matic kesayangannya menuju "RAFFI MEBEL" tempatnya bekerja.


Zian akhirnya sampai di tempat kerja setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit. Nampaknya Seno sudah mulai memasukkan barang-barang yang akan di kirim hari ini ke atas mobil pick up bersama pekerja yang lain. Ada satu set kursi sudut dari kayu jati dan sebuah lemari gandeng yang sudah nangkring cantik di atas mobil. Zian langsung memarkirkan motornya dan segera menghampiri Seno dan yang lainnya.


"Pagi." Sapa Zian kepada semuanya.


"Woaahh, ini dia kita sambut pengantin baru kita, Zian Aditama." Ucap Seno lebay yang membuat teman-temannya tertawa.


Taakk!


Zian menjitak kepala Seno yang membuat sang empunya mengaduh.


"Aduh, wooy ini kepala keluar duluan jangan asal jitak. Emak gue aja gak pernah jitak." Seno mengusap kepalanya sambil bersungut-sungut.


"Zian." Sapaan dari pak Raffi yang membuat Zian menoleh.


"Selamat pagi pak." Jawab Zian sopan.


"Seger amat pagi ini?" Canda pak Raffi.


"Ah bapak bisa aja." Zian jadi malu dengan candaan pak Raffi.


"Siap tempur?" Tanya pak Raffi.


"Siap pak!" Jawab Zian dengan semangat 45 nya.


"Ayo masuk ambil notanya." Ajak pak Raffi.


"Baik pak." Zian mengekor dibelakang pak Raffi.


Zian masuk kedalam ruang kerja pak Raffi, lalu mendudukkan diri di kursi depan meja kerja pak Raffi. Ia melepaskan tas selempang kecilnya dan meletakkannya di atas meja.


"Ini notanya, alamatnya sudah ada disitu."


"Baik pak." Zian menerima selembar kertas yang diberikan pak Raffi.


"Seperti biasa saja pak." Jawab Zian.


"Ok kalau begitu hati-hati."


"Siap pak, saya berangkat dulu." Pamit Zian seraya melangkah meninggalkan ruangan pak Raffi.


"Siap berangkat?" Tanya Zian saat menghampiri Seno yang sudah ada di samping mobil.


"Siap boss!" Ucap Seno sambil hormat.


"Let's go." Zian dan Seno akhirnya masuk ke dalam mobil dan berangkat untuk mengantar pesanan keluar kota.


Hari ini nampak cerah, secerah suasana hati Zian saat ini.


"Wooy ngapain senyam-senyum sendiri? kesambet loe?" Seno menyenggol bahu Zian yang sedang mengemudi sambil sesekali tersenyum. Gak jelas! Sedang yang di senggol hanya merespon dengan senyuman.


"Habis nikah bukannya waras, ini tambah stres." Seno bergidik ngeri.


"Diem gak loe. Gangguin orang lagi fokus aja." Bentak Zian yang merasa fokusnya terganggu.


"Fokus apaan, dari tadi senyam-senyum sendiri kayak orang gendheng begitu." Sungut Seno.


Tak terasa sudah setengah perjalanan mereka lalui. Matahari juga semakin terik. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Akhirnya mereka putuskan untuk singgah ke sebuah rumah makan dulu untuk istirahat dan makan siang.


Saat turun dari mobil, Zian merogoh sakunya dan hanya menemukan selembaran kertas nota di dalamnya.


"Eh, Hp gue mana?" Zian pun meraba kedua saku celananya, namun juga tak menemukan benda yang di carinya.


"Kenapa?" Tanya Seno seraya menghampiri Zian.


"Ya ampun." Zian menepuk jidatnya.


"Hp gue ketinggalan." Sambungnya.


"Ketinggalan dimana?" Tanya Seno.


"Seinget gue tadi gue bawa tas selempang kecil, dan Hp gue ada di dalamnya." Zian mencoba mengingatnya.


"Tapi sejak tadi loe gak bawa apa-apa." Seno ikut bingung.


"Tadi pas gue ambil nota di ruang kerjanya pak Raffi, itu tas gue taruh di meja. Dan saat keluar gue lupa." Jelas Zian.


"Ya udah, ini pake Hp gue kalau loe mau ngabarin bini loe." Seno menyodorkan Hpnya kepada Zian.


Akhirnya Zian mengabari Anja menggunakan Hpnya Seno. Setelah dirasa cukup memberi kabar kepada istrinya, Zian pun mengembalikannya kepada Seno. Setelah itu mereka bergegas masuk kedalam untuk makan siang.


*****


*****


*****


*****


*****


Haay gaess.. maaf ya kalau emak Up-nya bolong-bolong πŸ™


Soalnya emak nulisnya kalau lagi senggang. hehe πŸ˜…πŸ˜…


Jangan lupa Like Komen dan Votenya kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚