Candamu Canduku

Candamu Canduku
Bab 37. Kepanikan Anja



Suasana di kediaman Anja dan Zian nampak terlihat ramai oleh suara jeritan Zian yang menggema di seantero ruang tamu. Terlihat Bu Mayang yang duduk di sofa ruang tamu bersama seorang perempuan tua yang sedang memijat tangan Zian. Ya, ketika bangun tidur tadi pagi Zian meringis kesakitan akibat lengan kirinya yang tiba-tiba membengkak. Padahal kemarin ia merasa baik-baik saja. Anja yang melihatnya pun juga ikutan panik sehingga membuat perutnya terasa nyeri. Untunglah tidak berlangsung lama karena Anja langsung bisa menguasai dirinya. Di tariknya nafas kemudian di hembuskannya perlahan secara berulang-ulang hingga perutnya terasa membaik. Setelah itu Anja bergegas menghubungi Seno dan memintanya segera datang ke rumah dengan menggunakan mobil untuk membawa Zian ke rumah sakit. Namun saat tiba di rumah sakit, dokter hanya mengatakan kalau itu hanya efek yang di timbulkan oleh luka kecil yang ada di siku suaminya. Merasa tidak puas dengan penjelasan dokter, akhirnya setelah sampai di rumah Anja langsung menghubungi Bu Mayang untuk di carikan tukang urut. Dan benar saja, ternyata bengkak itu bukan hanya di sebabkan oleh luka yang ada di siku tetapi juga karena tangan Zian yang memang terkilir.


"Aaa! Aduh Mbah! Ampun Mbah! Sudah Mbah! Aaahh!" Begitulah jeritan Zian yang terdengar memekakkan telinga. Anja dan Seno hanya bisa meringis ngilu memandangi Zian serta sesekali menyumpal telinganya dengan tangannya. Sedangkan Bu Mayang hanya menggelengkan kepalanya.


"Harusnya dari kemarin setelah jatuh langsung di urut biar gak sampe bengkak begini." Ucap tukang urut tersebut.


"Kemarin baik-baik saja Mbah gak bengkak, cuma sedikit nyeri saja." Jelas Zian.


"Kalau terkilir gak langsung di pijat itu ya kayak gini, sakitnya jadi dobel." Ucap tukang urut lagi.


Setelah selesai memijat Zian, Tukang urut tersebut pamit undur diri bersama Bu Mayang.


"Terimakasih Mbah, terimakasih Bu." Ucap Zian dan Anja kepada tukang urut tersebut juga kepada Bu Mayang yang sudah mau bersusah payah mencarikan tukang urut dan mengantarkannya pula ke rumah.


Tak berselang lama Seno pun juga pamit ingin kembali ke mebel. Namun saat hendak ke luar rumah ia melihat Riani dan Laras yang nampak memasuki halaman rumah. Di urungkannya niatnya untuk pergi kemudian duduk kembali. Membuat Zian dan Anja keheranan melihat tingkahnya. Namun keheranan itu tak berselang lama saat mereka melihat kedatangan Riani dan Laras.


"Gimana mas, udah baikan?" Tanya Riani seraya mendudukkan dirinya di samping Seno di ikuti Laras yang duduk di samping Riani.


"Udah mendingan ini, gak sesakit tadi." Jawab Zian.


"Jalan kaki aja tadi kesininya?" Tanya Anja kepada sahabatnya.


"Iyalah, yang punya gebetan aja jalan kaki. Apalagi gue yang gak punya gebetan." Nampaknya ada yang merasa tersindir dengan ucapan Riani.


"Kenapa tadi gak minta jemput?" Seno menoleh ke arah Riani yang duduk di sampingnya.


"Gak usah dengerin dia, nih orang emang minta di sekolahin mulutnya." Sungut Riani yang membuat Laras tergelak.


Tin.... Tin....


Terdengar bunyi klakson mobil dari arah depan. Anja segera bangkit dari duduknya kemudian mengintip lewat jendela. Di lihatnya pak Raffi turun dari mobil pickUp yang biasa di bawa suaminya itu. Tak berselang lama Cici turun dari pintu samping kemudi kemudian mereka masuk ke dalam rumah yang memang pintunya di biarkan terbuka.


"Siang!" Sapa pak Raffi ketika memasuki rumah tersebut.


"Siang pak!" Jawab mereka kompak.


"Mari pak silahkan duduk." Ucap Anja ramah kemudian ia segera berlalu pergi ke belakang menyusul kedua sahabatnya untuk membuat minuman.


"Gimana keadaan mu Zi?" Tanya pak Raffi setelah mendudukkan dirinya di sofa.


"Udah mendingan pak." Jawab Zian sungkan.


"Tumben ikut kesini Ci, gak kuliah?" Tanya Zian kepada Cici.


"Iya kak, pengen ikut papa nengokin kak Zian sekalian mau berangkat kuliah."


"Oh ya Sen, tolong anterin Cici kuliah sebentar. Dia ada jam kuliah sebentar lagi." Ucap pak Raffi seraya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Tapi pak, kalau bapak mau pakai mobil buat anterin Cici gak papa. Biar nanti saya yang bawa mobil pickUpnya." Nego Seno. Padahal rencananya ia ingin bolos kerja saja hari ini demi bisa bersama Riani lebih lama. Tapi alam seolah tak merestuinya. Ada saja rintangannya. huuuft!


"Saya masih mau disini!" Jawab pak Raffi tegas. Seno hanya bisa menghela nafasnya pelan kemudian ia segera bangkit.


"Ayo Ci, nanti keburu telat." Cici pun langsung bangkit dan mencium tangan pak Raffi.


"Cici berangkat dulu pa." Pamit Cici pada pak Raffi kemudian mengejar Seno yang sudah melenggang pergi.


*****


*****


*****


*****


*****


Lebay amat Zi, di pijit gitu aja teriak-teriak bikin orang sekampung panik πŸ€­πŸ˜‚πŸ˜‚


Entar emak sumpal itu mulut pake dot πŸ€­πŸ˜‚πŸ˜‚


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚