
Zian mengantarkan Anja ke rumah Bu Mayang pagi ini, karena pagi-pagi sekali tadi pak Raffi menelfon kalau ada pengiriman mendadak hari ini. Jadwal pengiriman yang harusnya di kirimkan besok Senin di majukan hari ini karena customor akan pergi ke luar kota besok Senin. Padahal rencananya hari ini ia akan menemani istrinya seharian di rumah.
"Pagi Bu." Sapa Zian saat sudah berada di halaman rumah Bu Mayang yang nampak asri itu karena banyak bunga beraneka warna. Terlihat Bu Mayang yang sedang menyiram tanaman itu menoleh.
"Eh, pagi Zi, Nja. Ada apa?" Tanya Bu Mayang keheranan, karena biasanya Zian akan mengantarkan Anja ke warungnya bukan ke rumahnya.
"Gak papa Bu, cuma mau titip Anja saja. Hari ini saya ada pengiriman ke luar kota yang lumayan jauh. Mungkin pulangnya bisa larut malam. Takutnya Anja nanti gak berani sendirian di rumah, jadi saya antar kesini." Jelas Zian. Sebenarnya Zian tadi juga sedikit bingung. Pasalnya, mau minta tolong Riani buat nemenin Anja kan gak mungkin karena Riani kerja. Mau boncengin Anja ke warung juga takut. Alhasil ia memilih mengantar Anja ke warung saja. Di boncengnya Anja hati-hati karena takut menyakiti istri dan calon anaknya itu.
"Oh, ya udah biar disini saja. Ibu juga khawatir kalau Anja sendirian di rumah, malam-malam lagi."
"Ya udah Bu, saya pamit." Zian mencium tangan Bu Mayang kemudian mengecup kening istrinya lalu segera berangkat.
*****
Pukul sembilan pagi rumah makan sudah nampak sepi. Laras segera menggelar karpet bulu di belakang meja kasir. Sedangkan Riani bertugas mengambil bantal di belakang.
"Woy, banyak amat bantalnya, buat apa?" Tanya Laras heran.
"Noh!" Riani menunjuk Anja dengan dagunya. Sedangkan yang di tunjuk hanya meringis.
"Gue sering sesak nafas kalau bantalnya gak tinggi." Akhirnya mereka bertiga rebahan sambil nonton FTV pagi yang menayangkan Kadek Devi dan Ryan Delon tersebut.
*****
Tak.. tak.. tak..
Terdengar bunyi heels yang beradu dengan lantai mengalihkan atensi ketiganya. Nampak Shasa yang berjalan mendekat.
"Nja!" Panggil Shasa yang membuat ketiganya saling pandang. Anja segera bangkit di bantu oleh kedua sahabatnya.
"Mbak Shasa mau apa lagi kesini?"
"Plis Nja, jangan usir gue lagi. Gue pengen temenan sama kalian. Gue pengen punya temen cewek. Selama ini cuma Radit temen gue satu-satunya." Ucap Shasa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Duduk dulu mbak. Ri, tolong buatin minum." Akhirnya mereka berempat duduk dalam satu meja.
"Loe mau kan Nja jadi temen gue? Loe mau kan Nja maafin gue?"
"Yang ini siapa?" Tanya Shasa saat menatap Riani.
"Ini Riani mbak." Jawab Anja memperkenalkan. Riani dan Shasa pun saling berjabat tangan.
"Kalian semua mau kan maafin gue? Kalian mau kan jadi temen gue?" Mohon Shasa sekali lagi yang di angguki oleh Anja. Sedangka Riani dan Laras saling pandang kemudian menatap Anja sebelum akhirnya ikut mengangguk juga.
Setelah mengobrol selama kurang lebih satu jam, Shasa pamit undur diri.
"Gue mau kasih ini buat kalian." Shasa mengeluarkan tiga buah undangan dari dalam tasnya kemudian meletakkannya ke atas meja.
"Apa ini?" Tanya Anja bingung. Sedangkan Laras yang sudah tau hanya diam saja dengan berjuta perasaan yang menyesakkan dada. Entah itu perasaan apa?
"Ini undangan pertunangan gue sama Radit." Jawab Shasa.
"Alhamdulillah, selamat ya mbak." Ucap Anja ikut merasa senang.
"Makasih Nja, jangan lupa datang. Gue balik dulu." Pamit Shasa seraya memeluk ketiga sahabat barunya itu bergantian.
*****
*****
*****
*****
*****
Piye Ras, nyesek to? π€ππ
Baru tau dia, kalau mencintai milik orang itu sesakit ini π€ππ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ