Candamu Canduku

Candamu Canduku
Seno & Baby Camelia



Dua setengah tahun kemudian.....


Camelia kecil nampak berlari-lari menghampiri ayahnya yang sedang berada di mebel depan rumah. Saat ini usia baby Camelia sudah menginjak dua setengah tahun.


"Ayah!" Teriak baby Camelia memanggil sang ayah. Mendengar teriakan putrinya yang semakin hari wajahnya semakin mirip dengan mendiang istrinya itu, Seno segera menoleh dan mendapati sang anak yang berlari ke arahnya.


"Hey sayang, jangan lari-lari!" Seno segera mengangkat tubuh kecil putrinya saat sudah berada di dekatnya. "Ada apa heem?" Seno mencubit gemas hidung kecil baby Camelia.


"Poto Buna datuh di kamal, pyal!" Baby Camelia menirukan suara dari pecahan kaca foto yang terjatuh.


"Kok bisa jatuh? Apa tadi tersenggol?" Tanya sang ayah yang langsung di jawab gelengan oleh baby Camelia.


"Ayo ke tempat Buna cekalang yah, Mel tanen tama Buna. Hiks.. hiks.."


"Eh, kok nangis anak ayah yang cantik dan imut-imut ini." Seno mengusap air mata di wajah putrinya.


"Mel tanen cama Buna, huwaaaaaa." Tangisan baby Camelia semakin kencang hingga terdengar sampai ke telinga Bu Tutik yang sedang menyiapkan makan siang. Bu Tutik langsung keluar dari rumah menghampiri cucunya.


"Cucu nenek yang cantik kok nangis, ada apa sayang?" Bu Tutik meraih baby Camelia dari gendongan menantunya. Saat ini hanya Bu Tutik dan Pak Lukman lah keluarga yang di miliki Seno. Bapak Seno sudah meninggal dua bulan yang lalu karena penyakit paru-paru yang di deritanya selama ini. Sengaja Seno tidak memberitahukan kematian bapaknya kepada teman-temannya, karena tak ingin membuat mereka repot.


Setelah kepergiannya enam bulan yang lalu bersama anaknya ke Surabaya dan Jakarta untuk menghadiri resepsi pernikahan Nara dan Anja, Seno belum pernah lagi datang ke Surabaya. Sebenarnya hampir setiap hari anaknya itu meminta untuk menemui Laras yang sudah di anggap bundanya. Namun Seno merasa sungkan dengan Radit. Mungkin Radit terlihat tidak mempermasalahkan itu, tapi siapa tahu kedalaman hati seseorang?


"Ayo ikut nenek masak di dapur saja ya?"


"Mau Buna huwaaaaaa."


"Mau Buna ayah, huwaaaa."


"Iya sayang, besok kita pergi ke rumah Buna." Seno mengusap kepala anaknya dalam gendongan ibu mertuanya. "Ya udah, sekarang bantuin nenek masak dulu ya, ayah sudah lapar." Bohong Seno agar anaknya itu tak lagi menangis. Baby Camelia pun langsung mengangguk. Bu Tutik segera membawa cucunya itu masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan masaknya tadi yang sempat tertunda.


Seno juga melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah guna mengecek foto mendingan istrinya dan kedua sahabat istrinya yang kata anaknya tadi terjatuh. Dan benar saja, foto itu sudah tergeletak di lantai dengan kacanya yang sudah ambyar. Seno segera memungut foto tersebut kemudian mengambil sapu dan serok untuk membersihkannya agar pecahan kacanya tak mengenai kaki sang anak. Setelah membersihkan pecahan kaca tersebut, Seno mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur Seraya memandangi foto mendiang istrinya dan juga kedua sahabatnya.


"Hey sayang, apa kabar? Pasti kamu sudah bahagia di sana. Anak kita sudah besar, dia sangat cantik seperti mu." Seno mengelus foto mendiang istrinya yang ada di samping kanan Anja. Ya, posisi Anja ada di tengah-tengah diapit oleh Riani di sebelah kanan dan Laras di sebelah kiri. Foto itu di ambil jauh sebelum mengenal Shasa. "Kamu tidak marah kan, putri kita memanggil Laras dengan sebutan bunda? Ah tidak, bahkan kalian bertiga adalah bundanya. Begitupun anak Anja dan juga anak Laras nantinya juga akan menjadi anak kita. Kita semua bersaudara." Seno tak kuasa menahan air matanya. Didekapnya erat foto tersebut seolah ia sedang memeluk istrinya.


*****


*****


*****


*****


*****


Ini timingnya bersamaan dengan ketok palu 🀭 di novel "Luka Hati Luka Diri" Episode 67 πŸ€—


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚