Candamu Canduku

Candamu Canduku
SLC 03



Sudah tiga hari lamanya Seno dan baby Camelia berada di Surabaya. Namun baby Camelia tak kunjung mau diajak untuk pulang ke desa. Akhirnya, dengan berat hati Seno memutuskan untuk pulang sendiri ke desa dan meninggalkan anaknya itu di Surabaya, lebih tepatnya di rumah Bu Mayang.


"Telfon aku kalau Camel rewel dan minta pulang." Ucap Seno kepada Laras yang tengah menggendong baby Camelia. Laras pun mengangguk. "Aku akan langsung datang menjemputnya." Laras kembali mengangguk seraya tersenyum.


"Mas Seno tenang saja, Camel aman bersama ku."


"Ayah pulang sayang, jangan rewel sama Buna dan Oma. Jadi anak yang pintar ya." Seno mengacak rambut putrinya. Baby Camelia mengangguk-anggukkan kepalanya.


Seno langsung masuk ke dalam mobil travel yang sudah dipesannya sejak semalam setelah berpamitan kepada Bu Mayang, Laras dan juga anaknya. Pagi ini Seno memutuskan untuk kembali ke desa karena pekerjaannya tidak bisa ditinggal terlalu lama.


"Dada ayah." Laras melambaikan tangan kecil baby Camelia saat mobil travel yang ditumpangi oleh Seno perlahan meninggalkan halaman rumah makan Bu Mayang.


"Sekarang kita kembali bekerja, let's go!" Laras berlari kecil memasuki rumah makan hingga membuat baby Camelia tertawa di gendongannya.


"Buna, nanti Mel datuh takit." Rengek baby Camelia. Laras yang gemas langsung menghujaninya dengan banyak kecupan.


"Kan di gendong Buna, gak bakalan jatuh."


"No, nanti Buna datuh." Baby Camelia menggelengkan kepalanya.


"Baiklah anak Buna yang cantik, kita jalan pelan-pelan saja biar tidak jatuh."


Sesampainya di meja kasir, Laras segera mendudukkan baby Camelia ke atas kursi yang ada di belakang meja kasir.


"Camel duduk di sini ya, Buna mau kerja dulu." Laras mengeluarkan buku bergambar dari dalam tas kecil baby Camelia beserta krayonnya. Baby Camelia pun mengangguk kemudian meraih buku dan krayon tersebut, lalu membuka bukunya dan mulai mewarnainya. Laras segera meninggalkan baby Camelia setelah dirasa anteng.


*****


"Loh Sen, Camel mana?" Tanya pak Lukman saat melihat Seno turun dari mobil travel seorang diri tanpa anaknya.


"Mungkin dia merindukan sosok seorang ibu Sen." Ucap Pak Lukman. Seno hanya mengulas senyum menanggapi ucapan mertuanya.


"Seno masuk dulu pak." Seno langsung masuk ke dalam rumah setelah mendapat anggukan dari mertuanya.


*****


Malam harinya.....


"Pak, buk, gimana kalau Seno beli mobil bekas?" Tanya Seno di sela makannya. Ya, saat ini mereka bertiga sedang makan malam bersama. Pak Lukman dan Bu Tutik menoleh.


"Bapak rasa kamu memang perlu itu Sen, biar bisa kamu buat pulang pergi Surabaya. Sepertinya setelah ini Camel bakalan lebih sering minta diantar ke Surabaya untuk menemui bunanya. Lagian nggak mungkin kan kamu ke Surabaya naik mobil pick-up?" Ya, Seno sudah bisa membeli mobil pick-up satu tahun yang lalu sebagai kendaraan untuk mengirim barang pesanan customernya. Meskipun itu cuma mobil bekas, tapi masih terlihat baru. Karena saat itu ada seseorang yang sedang membutuhkan uang dan ingin menjual mobil pick up nya tersebut. Seno yang mengetahui itu langsung membelinya dengan harga yang lumayan murah dari harga di sorum.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ