
Pagi-pagi sekali Anja dan Zian sudah berada di makam kedua orang tua Anja. Karena makam di desa tersebut tidak terlalu jauh dari pemukiman warga, Anja memilih jalan kaki saja sekalian jalan-jalan menghirup udara pagi di desa yang terasa segar karena terhindar dari polusi kendaraan bermotor. Padahal Zian tadi ingin membawa mobil saja supaya istrinya itu tidak kelelahan, namun Anja menolaknya.
"Bapak, Ibuk, Anja dan mas Zian datang lagi. Apa kabar kalian? Lihat pak, buk, kami tidak hanya datang berdua, tapi kami datang bersama calon cucu bapak dan ibuk." Ucap Anja seraya mengelus lembut perutnya.
"Doain kami ya pak, buk, agar persalinan nanti di berikan kelancaran. Anja dan dedek bayinya selamat, sehat tanpa kurang suatu apapun. Oh ya, calon cucu bapak dan ibuk cewek lho. Pasti nanti akan secantik Anja." Ucap Anja sedikit berkelakar yang membuat Zian ingin menyemburkan tawanya namun ia tahan agar tak meledak. Setelah di rasa cukup, Anja dan Zian segera kembali ke rumah Riani karena mereka harus segera kembali ke kota.
Nampak Anja berjalan dengan riang menyusuri jalanan pedesaan. Sesekali bibirnya bersenandung seraya mengayunkan tangannya yang ada di genggaman suaminya. Seolah-olah ia meluapkan rasa bahagianya karena baru saja bertemu dengan kedua orang tuanya. Padahal itu hanya mengunjungi sebuah makam. Zian pun juga ikut bahagia melihat kebahagiaan istrinya. Tepat di tikungan jalan ada seorang nenek-nenek tua penjual serabih yang memang biasanya mangkal di sana setiap pagi. Air liur Anja seolah ingin menetes saat mencium bau serabih yang baru saja di angkat dari penggorengan.
"Mas, beliin itu." Pinta Anja sambil menunjuk penjual serabih tersebut.
"Ayo!" Zian segera menggandeng tangan istrinya yang tadi sempat terlepas, kemudian menghampiri penjual serabih.
"Mbah, bungkus enam ya." Pesan Zian kepada penjual serabih.
"Aku mau makan di sini saja?" Anja merajuk.
"Baiklah." Zian mengelus pelan kepala istrinya.
"Bungkus empat saja Mbah, yang dua makan di sini."
"Siap le, tunggu sebentar ya." Ucap penjual serabih tersebut.
Anja dan Zian menikmati serabih hangat yang terasa gurih di lidahnya hingga tak terasa sudah tiga serabih yang masuk kedalam perut Anja, yang membuat Zian menggelengkan kepala keheranan. Sebenarnya istrinya itu kelaparan atau memang doyan? Maklum, sebelum berangkat tadi memang belum sarapan.
*****
Anja dan Zian tiba di rumah Riani sekitar pukul sembilan. Saking asiknya menikmati serabih hingga mereka lupa waktu.
"Dari mana saja Nja, di tungguin dari tadi juga. Lihat ini sudah jam sembilan." Omel Riani.
"Hehe, nih jangan marah-marah entar cepet tua." Anja menyodorkan sekantong kresek kecil serabih kepada Riani kemudian segera masuk ke dalam kamar untuk bersiap.
*****
"Gue langsung balik ya." Pamit Seno.
"Gak mampir dulu mas?"
"Lain kali saja, capek gue Nja." Tolak Seno kemudian segera melajukan mobilnya menuju ke mebel.
*****
"Sayang, mau di pijit?" Zian merasa kasihan saat melihat istrinya duduk di atas ranjang sambil selonjoran. Kaki Anja juga terlihat membengkak.
"Boleh, tapi pijit aja! Awas kalau macam-macam!" Sungut Anja memperingatkan.
"Iya pijit aja gak lebih. Sini kakinya." Zian menaikkan kaki istrinya ke atas pangkuannya kemudian memijatnya pelan.
*****
*****
*****
*****
*****
Emak kok jadi ikutan ngiler π€
Pengen juga makan serabih yang gurih ππ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ