
Siang berganti malam, cahaya matahari pun tergantikan oleh cahaya rembulan yang menerangi gelapnya malam.
"Camel bobok sama Oma ya malam ini?" Ucap Bu Mayang setelah mereka selesai makan malam. Namun cucunya itu menggeleng.
"Camel pengen bobok sama ayah sama Buna." Ucap Camel dengan polosnya. Inilah yang selama ini diinginkan olehnya. Bu Mayang, Laras dan Seno saling tatap.
"Tidak papa ma, biar Camel tidur bersama kami saja." Ucap Laras seraya menatap suaminya, sedang yang ditatap hanya mengangguk. Dia tidak boleh egois hanya mementingkan dirinya saja. Dia juga harus memikirkan perasaan putrinya. Lagian masih ada hari esok untuknya bersenang-senang dengan sang istri.
Setelah makan malam, mereka langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Camel langsung naik ke atas tempat tidur setelah menggosok gigi terlebih dahulu. Camel memposisikan dirinya di tengah-tengah tempat tidur, pertanda bahwa ia meminta diapit oleh kedua orang tuanya. Laras dan Seno pun dengan senang hati langsung memeluk buah hatinya itu. Mereka bersama-sama memejamkan mata bersiap menjemput mimpi.
*****
Dua tahun berlalu, Laras benar-benar membuktikan ucapannya bahwa ia pasti akan bahagia. Dan benar saja, ia sangat bahagia karena mendapatkan cinta yang begitu besar dari suami dan anaknya. Meskipun dia tidak bisa memberikan keturunan kepada suaminya, sang suami tidak pernah mengungkit masalah itu sekalipun.
Seno sudah tidak lagi bekerja di tempat Pak Raffi. Seno memutuskan untuk berhenti atas permintaan istrinya serta Bu Mayang mertuanya. Laras merasa kasihan melihat suaminya yang harus pontang-panting membagi waktunya antara bekerja di tempat Pak Raffi dan juga harus pergi ke desa untuk mengecek mebelnya yang dipegang oleh Pak Lukman mertuanya. Apalagi mebelnya semakin berkembang setelah sang istri membuat iklan di sosial media. Tentu saja semua itu membutuhkan dirinya sebagai pemiliknya.
Sesekali Seno akan datang ke desa. Entah itu untuk mengecek pekerjaan para tukangnya, atau saat persediaan kayu menipis. Maka ia harus segera mencari pemasok kayu. Biasanya jika anaknya libur sekolah, mereka akan pergi ke desa bertiga sekalian mengunjungi pak Lukman dan Bu Tutik.
Setiap hari Seno selalu membantu di rumah makan mertuanya itu, meskipun hanya menjadi kasir. Saat ini Camel sudah masuk ke sekolah dasar, lebih tepatnya kelas satu. Laras sudah tidak lagi menunggui Camel. Tugasnya sudah digantikan oleh suaminya yang setiap hari mengantar jemput anaknya itu. Dan Camel juga tidak lagi tidur bersama mereka, melainkan tidur bersama Bu Mayang.
"Sayang, aku perhatiin kamu kok gendutan?" Ucap Seno yang duduk bersandar di atas tempat tidur seraya memperhatikan istrinya yang duduk di depan meja rias. Seketika itu Laras menoleh ke arah suaminya.
"Aku rasa juga begitu Mas, lihat pipi ku ini." Laras mencubit sendiri kedua pipinya.
"Ya sudahlah, tambah empuk tambah enak." Ujar Seno seraya terkekeh. "Itu artinya kamu bahagia hidup bersama ku." Lanjut Seno. Laras hanya tersenyum, namun dalam hati ia membenarkan perkataan suaminya itu. Perlahan Laras melangkah menghampiri suaminya.
"Apa kamu akan tetap mencintai ku kalau nantinya aku berubah menjadi gemuk dan jelek?" Laras mencondongkan wajahnya tepat di hadapan wajah sang suami.
"Ya! Aku percaya itu." Laras terkekeh, padahal ia hanya ingin menggoda suaminya itu. Seno langsung mengangkat tubuh istrinya ke atas ranjang, kemudian menindihnya dan kembali m31um@t bibir sang istri.
"Bibir ini hanya boleh mengatakan kebaikan saja. Daripada mengucapkan sesuatu yang buruk, lebih baik gunakan untuk berdoa agar Tuhan memberikan kamu kesempatan untuk hamil." Ucap Seno tanpa sadar.
Deg!
"Ha-hamil?" Beo Laras terbata.
"Eh, maaf! Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggung kamu." Seno benar-benar menyesali ucapannya.
*****
*****
*****
*****
*****
Langsung loncat aja biar cepet tamat π€ Emak udah gak sabar pengen garap novel yang lainnya π
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ