
Suasana kediaman pak Lukman nampak ramai malam itu, pasalnya sejak tadi baby Radha tak mau diam. Sedikit-sedikit ia menangis, entah itu karena apa? Mungkin baby Radha merasa tidak nyaman berada di sana. Baby Radha hanya akan diam saat berada di gendongan daddy-nya. Ya, Anja dan Nara serta baby Radha tiba siang tadi di rumah Riani.
Dengan menggelar tikar di depan ruang televisi, mereka semua menikmati makan malam hasil kerja keras Anja dan Bu Tutik. Anja memaksa ingin membantu Bu Tutik memasak di dapur. Anja merasa kangen dengan peralatan dapur. Pasalnya selama berada di kediaman Wijaya, Mama Rosi melarang keras Anja untuk melakukan pekerjaan dapur.
Setelah makan malam bersama, Anja segera masuk ke dalam kamar tamu yang dulu pernah ditempatinya bersama almarhum Zian suaminya. Sedangkan Nara nanti bisa tidur di sofa depan televisi. Pak sopir nanti akan tidur bersama Pak Lukman dan bapaknya Seno di mebel.
Sebenarnya Anja ingin tidur di rumahnya sendiri, namun Bu Tutik melarangnya karena rumah tersebut dalam keadaan kotor dan belum dibersihkan. Takutnya nanti baby Radha semakin tidak nyaman jika harus tidur di sana.
Riani dan Seno juga langsung masuk ke dalam kamar. Seno akan menemani istrinya tersebut hingga terlelap terlebih dahulu, baru setelah itu ia akan keluar menemani Nara untuk sekedar ngobrol.
"Sayang, kaki kamu bengkak lagi ya? Padahal kemarin udah kempes." Ucap Seno saat memijat kaki istrinya.
"Iya dikit! Tapi nggak sakit kok."
"Pusing lagi gak?" Riani menggeleng. Meskipun ia kadang-kadang masih merasa pusing, tapi ia merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Riani tidak ingin membuat orang-orang yang ada di sekitarnya menjadi khawatir. Sudah cukup rasanya ia melihat suami serta kedua orang tuanya menangis karena mengkhawatirkan dirinya.
"Sayang!" Seno menghentikan sejenak gerakannya memijat kaki sang istri saat mendengar panggilan sayang dari istrinya tersebut. Pasalnya, jika sang istri sudah mengeluarkan kata-kata sayang, itu tandanya akan ada sesuatu yang diminta olehnya.
"Heeemm, mau apa? Ngidam apa lagi kali ini?" Tanya Seno sedikit was-was. Karena istrinya itu selalu meminta sesuatu yang tidak ada. Riani terkekeh saat mendengar ucapan suaminya yang terdengar waspada.
"Aku nggak lagi pengen apa-apa sayang, aku cuma mau minta-" Riani sengaja menjeda ucapannya sejenak untuk melihat ekspresi suaminya. Dan benar saja, raut wajah suaminya itu terlihat sedikit pias. Seketika itu tawa Riani meledak memenuhi kamar mereka.
"Apa sich sayang, jangan membuatku penasaran."
"Aku hanya minta, nanti setelah anak kita lahir, aku ingin memberikannya nama Camelia. Gimana menurut kamu mas?" Ya, bayi yang ada di dalam kandungan Riani berjenis kelamin perempuan.
"Semoga saja nanti persalinannya berjalan lancar, kamu dan juga anak kita selamat, sehat tidak kekurangan suatu apapun." Harap Seno seraya menciumi puncak kepala istrinya.
"Aamiin!" Riani mengaminkan doa yang baru saja dipanjatkan oleh suaminya. Riani langsung memeluk suaminya dengan erat seraya memejamkan matanya bersiap menjemput mimpi indahnya.
Setelah dirasa istrinya sudah terlelap, Seno segera keluar dari kamar untuk menemani Nara. Dicarinya Nara di dalam rumah namun tidak ada, ia pun bergegas keluar dari rumah. Namun amben yang ada di teras juga nampak kosong. Akhirnya Seno mencarinya ke mebel. Dan benar saja, Nara ada di sana bersama bapaknya dan juga bapak mertuanya serta Pak sopir. Nara sedang melihat-lihat hasil kerajinan tangan yang ada di dalam mebel tersebut.
*****
*****
*****
*****
*****
Masih sambungan novel "I Love You My Baby" Bab ILYMB 18 π€
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ