
Sudah seminggu ini Radit bolak-balik ke warung guna mencari tahu keadaan Anja. Namun semua orang bungkam, seolah-olah enggan memberitahu keadaan Anja kepadanya.
Pagi ini Radit sengaja menghentikan mobilnya di seberang jalan depan rumah makan Bu Mayang. Namun ia enggan keluar dari mobilnya. Begitulah keseharian Radit selama beberapa hari ini.
"Apakah kamu baik-baik saja Nja?" Batinnya.
Tak lama kemudian nampak sebuah motor matic berhenti di halaman rumah makan. Anja turun dari jok belakang. Di lihatnya Anja yang mencium tangan seorang pria yang tak lain adalah Zian suaminya dan di balasnya dengan kecupan di kening oleh pria tersebut. Hatinya terasa nyeri menyaksikan itu semua.
Setelah pria tadi pergi, Radit segera turun dari mobilnya dan mengejar Anja.
"Nja!" Panggilnya saat sudah di dekat Anja. Sontak Anja menoleh dan terlihat ketakutan.
"Ak-aku mohon mas, jangan dekati aku lagi." Ucap Anja sambil mundur ke belakang.
"Maafkan aku Nja." Radit mencoba meminta maaf kepada Anja.
"Aku tidak mau lagi berurusan dengan mu mas, ku mohon jangan ganggu aku dan jangan datang kesini lagi." Kemudian Anja segera berlari masuk kedalam.
Radit berjalan gontai meninggalkan pelataran rumah makan menuju mobilnya yang terparkir di seberang jalan.
"Sadar Radit, dia itu istri orang! Buang jauh perasaan mu!"Batinnya. Ia pun segera melajukan mobilnya menuju kampus.
*****
Anja nampak duduk di kursi panjang di bawah pohon mangga yang ada di depan rumah makan. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, namun suaminya belum juga menjemputnya. Tadi memang Zian menelponnya, katanya sedang mengirim barang ke luar kota. Rumah makan juga tidak terlalu ramai. Akhirnya ia putuskan untuk keluar mencari angin. Dan disinilah ia berada.
Di pandanginya langit malam ini yang kelam tanpa bintang. Semilir angin bertiup cukup kencang. Hawa dingin terasa merasuk kulit meski sudah memakai jaket. Tak terasa air matanya mengalir. Entah mengapa ia teringat akan ibunya yang meninggal setahun yang lalu. Sehingga ia memutuskan pergi ke kota untuk mencari pekerjaan bersama Riani, sahabat sekaligus tetangga dekatnya.
Ya, ibunya Anja meninggal setahun yang lalu akibat penyakit kencing manis yang di deritanya selama ini. Saat itu Anja baru lulus dari SMA. Sedangkan bapaknya sudah meninggal saat ia baru duduk di kelas satu SMP.
Dulu ibunya Anja menjadi buruh cuci panggilan di rumah-rumah tetangganya. Sedangkan Anja setiap pulang sekolah pasti akan menyusul ibunya untuk membantu menyetrika baju yang sudah kering.
Flashback Off
*****
Anja tersentak kaget saat ada seseorang yang menepuk pundaknya.
"Nunggu di dalam aja, di luar dingin." Ucap Riani. Anja mengusap air matanya seraya beranjak masuk ke dalam bersama Riani.
Tak berselang lama, Zian datang dengan membawa dua kotak roti bakar kesukaan Anja.
"Yuhuu.. roti bakar kesukaan neng Anja siap dinikmati." Canda Zian seraya membuka kotaknya. Anja hanya geleng kepala melihat tingkah suaminya. Akhirnya mereka menikmatinya bersama Riani dan Laras. Setelah itu mereka memutuskan untuk segera pulang karena waktu sudah semakin larut.
*****
Pagi sekali Seno sudah datang ke rumah makan Bu Mayang.
Katanya sih belum sarapan. Entahlah.... Palingan juga modus. Kemarin Radit, sekarang Seno. Besok siapa lagi? Masak iya spanduk segedhe gaban yang ada di depan gak kelihatan kalau ini warung bukanya jam tujuh.
"Udah sarapan Ri?" Tanyanya kepada Riani yang duduk di depannya. Ya, Riani di minta Seno untuk menemaninya. Karena warung masih sepi, akhirnya Riani pun duduk sambil memperhatikan Seno yang makan dengan lahapnya.
"Belum, nanti saja mas, Ini masih terlalu pagi. Aku gak terbiasa makan sepagi ini."
"Yuhuuuuu" Tiba-tiba Laras muncul dari belakang.
"Cie-cie yang lagi nemenin doi sarapan."
"Apa sih, gak ya!" Sanggah Riani cepat.
" Mau kemana loe udah rapi aja?" Tanya Riani sambil memperhatikan Laras dari atas sampe ke bawah.
"Biasa, ada kelas jam sembilan." Jawab Laras.
"Lah, ini baru jam tujuh Oneng." Riani melihat jam di pergelangan tangannya.
"Sekalian mau TP-TP dulu."
"Heleh." Riani memutar bola matanya malas.
"Mau bareng Ras?" Tawar Seno.
"Gak usah mas terimakasih, naik angkot aja. Siapa tau entar nemu cowok di angkot." Candanya.
"Katanya mau cari sultan? mana ada sultan di angkot." Cibir Riani.
"Yah siapa tau aja sultannya lagi nyamar jadi supir angkot."
"Mana ada ogeb." Riani menonyor kepala Laras.
"Dah lah gue berangkat dulu." Ucap Laras ngacir.
*****
*****
*****
*****
*****
Dahlah Dit, yang lajang kan banyak. Ngapain bini orang mau loe embat π€ππ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ