
Riani dan Seno tiba di rumah pukul empat sore dengan menggunakan travel kembali. Tadi mereka berangkat dari Surabaya selepas Dzuhur. Riani menselonjorkan kakinya yang terlihat bengkak itu di atas tempat tidur dan memijatnya pelan. Sedangkan Seno sedang mandi dan belum mengetahui keadaan sang istri saat ini.
Merasa pusing, Riani merebahkan tubuhnya dan tak terasa tertidur. Seno yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya, hanya geleng-geleng kepala melihat istrinya yang sepertinya tertidur lelap. Ia pun meraih selimut untuk menutup tubuh istrinya, namun ekor matanya tak sengaja melihat kaki istrinya yang membengkak. Seno pun menarik kembali selimutnya kemudian duduk di pinggir tempat tidur. Tangannya terulur untuk memijat kaki istrinya tersebut.
Merasa ada yang bergerak-gerak di kakinya, Riani pun terbangun. Di lihatnya sang suami yang sedang memijat kakinya pelan.
"Kenapa gak bilang kalau kakinya bengkak?" Ucap Seno lembut masih sambil memijit.
"Gak papa mas, kan biasanya juga gitu kalau lagi kecapean." Riani tersenyum menenangkan sang suami. "Aku belum siapin baju kamu mas." Riani ingin beranjak dari tempatnya namun di cegah oleh Seno.
"Aku bisa sendiri, kamu istirahat saja." Seno bangkit menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti.
"Mau aku mandiin?" Ucap Seno setelah memakai pakaiannya.
"Jangan modus dech!" Sungut Riani yang mencium bau-bau orang modus.
"Aku serius sayang, aku gak keberatan buat mandiin kamu."
"Gak ah, aku bisa sendiri!" Riani bangkit perlahan dari tempat tidur, Seno pun sigap membantunya lalu menuntun istrinya ke kamar mandi.
"Beneran gak mau di mandiin?"
"Gak! Sana keluar!" Riani mendorong suaminya keluar dari kamar mandi lalu mengunci pintunya.
"Padahal aku ikhlas lho bantunya!" Teriak Seno dari luar kamar mandi seraya terkikik. Bagi Seno hal yang paling menyenangkan adalah menggoda sang istri. Karena ia selalu gemas saat melihat istrinya itu marah-marah. Jika sudah marah-marah begitu biasanya akan berakhir di atas ranjang.
Pagi harinya saat baru terbangun, Riani meringis merasakan denyutan di kepalanya yang semakin menjadi. Ia melirik sampingnya yang biasanya di tempati sang suami ternyata sudah kosong. Riani pun mengernyit, pandangannya beralih menatap jam yang ada di dinding kamarnya, dan ternyata sudah pukul setengah tujuh.
Ya ampuuuuun!!
"Mas Seno!" Teriak Riani memanggil suaminya.
"Mas! Mas Seno!" Teriaknya sekali lagi. Bu Tutik yang ada di belakang sedang mencuci pakaian pun berlari saat mendengar teriakan anaknya.
"Ada apa nduk?" Bu Tutik menghampiri Riani ke kamarnya.
"Tolong panggilkan mas Seno buk." Tanpa bertanya lagi Bu Tutik langsung melesat memanggil menantunya yang saat ini pasti sedang ada di mebel.
Dan benar saja, Seno sedang melihat-lihat lemari dan juga kursi hasil karya beberapa tukangnya yang belum di pelitur. Bu Tutik pun segera memanggilnya. Seno langsung berlari masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.
"Sayang, butuh sesuatu?"
"Bantu aku ke kamar mandi mas, kepala ku pusing banget." Dengan sigap Seno langsung membopong istrinya dan membawa masuk ke dalam kamar mandi. Seno sekaligus membantu istrinya untuk mandi karena ia tak tega melihat istrinya yang nampak kurang sehat. Mungkin akibat kecapean kemarin, pikir Seno.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ