
Tok.. Tok.. Tok..
"Ras!"
"Laras sayang, udah bangun belum? Ini udah siang. Kamu gak kuliah nak?" Bu Mayang terus saja memanggil Laras namun tidak ada sahutan dari dalam.
Tok.. Tok.. Tok..
"Laras sayang!"
Tok.. Tok.. Tok..
Riani nampak tergopoh-gopoh berlari dari warung menuju ke rumah sebelah karena mendengar ketukan pintu berulang-ulang dan suara Bu Mayang yang terdengar panik.
"Bu, ada apa?" Tanya Riani saat tiba di depan pintu kamar Laras.
"Laras Ri, dia gak keluar kamar dari semalam sampai sekarang. Ini udah jam delapan." Ucap Bu Mayang terdengar panik.
Tok.. Tok.. Tok..
"Laras woy, loe kenapa? Jangan bikin orang panik dech ah. Gak lucu bercandanya."
Tok.. Tok.. Tok..
"Laras, buka gak pintunya? Gue tendang nie pintu kalau gak loe buka."
Tok.. Tok.. Tok..
"Laras, loe baik-baik aja kan? Jangan kayak gini donk Ras, sumpah becanda loe gak lucu." Riani sudah mulai frustasi, namun tetap tidak ada jawaban dari dalam.
"Bu, ada kunci serep gak?"
"Ah iya, sampe lupa Ri kalau ada kunci serep." Bu Mayang segera mencari kunci cadangan yang biasanya di simpan di laci dekat TV.
"Ini Ri!" Riani segera meraih kunci tersebut lalu membuka pintu kamar Laras.
Ceklek ceklek (bunyi kunci yang di putar dua kali)
Ceklek!
Riani dan Bu Mayang langsung masuk setelah pintu terbuka. Di lihatnya Laras yang masih tertidur di dalam balutan selimut. Bu Mayang segera mendekat ke arah ranjang sedangkan Riani menuju ke arah jendela kamar dan langsung menyingkap tirainya.
"Sayang!" Panggil Bu Mayang seraya menarik selimut yang membungkus tubuh Laras.
"Heeemm." Jawab Laras lemah.
"Hey, kamu kenapa sayang?" Di letakkannya punggung tangan Bu Mayang di kening Laras.
"Astaghfirullah, kamu demam nak?"
"Iya Bu!" Riani pun segera ke warung.
Selang lima belas menit, Riani kembali ke kamar Laras dengan semangkuk bubur dan segelas air hangat.
"Makan dulu Ras." Riani meletakkan nampan di atas meja yang ada di samping tempat tidur Laras, kemudian membantu Laras untuk duduk bersandar di kepala ranjang.
"Biar Laras saya yang suapin Bu."
"Ya udah, ibu carikan obat penurun panasnya dulu."
Setelah Bu Mayang berlalu, Riani segera mencecar Laras.
"Loe habis nangis Ras? Ada apa?" Tanya Riani yang melihat mata Laras sembab dan memerah.
"Gak kok! Siapa yang nangis? Gue cuma lagi pilek aja, demam sama kepala gue pusing. Mungkin masuk angin semalam." Elak Laras.
"Loe gak bisa bohong sama gue. Loe bisa cerita sama gue. Kalau ada apa-apa itu jangan di pendem sendiri. Loe gak percaya sama gue?"
"Bukan begitu Ri, tapi beneran, gue gak papa."
"Ya udah kalau belum mau cerita. Tapi gue siap kapan pun kalau loe mau cerita."
"Terimakasih Ri." Laras langsung berhambur memeluk Riani.
"Sekarang makan dulu." Riani menyodorkan sesendok bubur ke mulut Laras.
"Gue bisa sendiri." Laras segera meraih sendok dan mangkuk bubur tersebut dari tangan Riani.
"Gimana? Udah selesai makan?" Tanya Bu Mayang saat masuk ke dalam kamar kemudian menyodorkan obat penurun panas kepada Laras. Laras pun langsung meraihnya dan meminumnya.
"Ya udah, loe istirahat aja biar cepet sembuh. Gue balik dulu ke depan." Riani merapatkan selimut Laras kemudian berlalu pergi.
*****
*****
*****
*****
*****
Sakit opo to Ras? emak kok penasaran π€ππ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ