Candamu Canduku

Candamu Canduku
Bab 24. Kecewa



"N-Nja.." Ucap Laras tergagap.


"Kenapa?" Tanya Anja kepada Laras yang masih terpaku di tempatnya.


"Ke-kenapa?" Laras merasa mulutnya terkunci. Tulang-tulangnya seperti lolos dari persendiannya.


"Kenapa loe lakuin ini ke gue?" Tanya Anja sekali lagi dengan suara lirihnya.


"Ma-maafin gue Nja, gue gak bermaksud-" Ucap Laras yang juga sudah berlinang air mata. Kakinya ia seret untuk menghampiri Anja. Ingin rasanya ia memeluk sahabatnya itu, namun saat ia ingin merengkuhnya Anja mundur kebelakang yang membuat hatinya terasa nyeri karena mendapatkan penolakan dari sahabatnya.


Anja segera berlari masuk ke dalam kamar Riani dan mengunci pintunya dari dalam. Membuat Riani yang sedang menyisir rambutnya mengernyit heran.


"Loe kenapa Nja?" Tanya Riani masih di posisi awal.


"Ada apa?" Riani meletakkan sisirnya kemudian menghampiri Anja yang sedang bersandar di pintu dengan berlinang air mata. Namun Anja hanya menggelengkan kepalanya.


"Gu-gue mau pulang." Ucap Anja yang masih sesenggukan.


Doorr.... doorr.... doorr....


"Nja, buka pintunya. Gue minta maaf." Ucap Laras serak sambil menggedor pintu kamar Riani. Rupanya Laras juga tak berhenti menangis.


"Gue tau gue salah, loe pasti kecewa banget sama gue. Tapi gue bisa jelasin, gue cuma ngasih tau Radit tentang kabar loe. Gue gak ada maksud apa-apa Nja, plis buka pintunya." Mohon Laras namun tidak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar. Hening..


"Baiklah, mungkin loe butuh waktu. Semoga saja setelah gue pulang nanti loe udah baikan. Gue berangkat dulu." Laras kemudian berlalu untuk bersiap-siap karena dia ada kuliah pagi ini. Ia akan memberi waktu pada Anja untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Nanti setelah Anja tenang, ia akan mencoba menjelaskan semuanya pelan-pelan.


*****


Braakk!


"Brengs*k loe!" Laras menggebrak meja yang ada di depan Radit sambil memakinya. Sontak saja membuat Radit dan Shasa yang sedang menikmati makanannya terlonjak kaget. Begitu pula dengan pengunjung kantin lainnya yang juga ikut kaget. Mereka pun kini menjadi pusat perhatian orang-orang seantero kantin.


"Gara-gara loe persahabatan gue hancur." Laras menuding Radit tepat di depan mukanya.


"Loe gak usah ikut campur." Laras gantian menuding Shasa si micin.


"Loe bilangin sama laki loe ini. Jangan pernah lagi gangguin bini orang kalau iya masih ingin hidup." Ucap Laras berapi-api sambil menunjuk mereka berdua kemudian berlalu pergi.


*****


"Gue pulang dulu Ri." Pamit Anja pada Riani yang masih merasa bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Tolong sampaikan ke Bu Mayang kalau gue lagi gak enak badan." Ucap Anja sekali lagi dengan mata sembabnya yang masih menghiasi wajahnya. Kemudian berlalu keluar dari rumah makan. Sedangkan Riani hanya bisa memandangi Anja yang sudah berlalu dengan tatapan nanar.


Anja berjalan gontai menyusuri jalanan kota pagi ini. Jarak antara rumah makan dan rumahnya yang hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja jika berjalan kaki, membuatnya memutuskan untuk berjalan kaki saja. Itung- itung olah raga, padahal tiap malam juga sudah olahraga. Olahraga ranjang maksudnya. Hehe..


Cahaya matahari terasa menghangatkan tubuhnya pagi ini. Sudah lama rasanya ia tak pernah berjalan kaki seperti ini. Dulu saat ibunya masih hidup, ia sering berjalan kaki bersama ibunya dari tetangga yang satu ke tetangga yang lainnya untuk bekerja.


*****


*****


*****


*****


*****


Puncak dari kekecewaan seseorang itu adalah "DIAM"


Emak juga begitu, kalau anak-anak susah dinasehati apalagi sampe mulut emak berbusa tapi gak di gubris. Emak memilih diam, ngurung diri di kamar nulis Novel sambil ngemil πŸ€­πŸ˜‚πŸ˜‚


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚