Candamu Canduku

Candamu Canduku
Seno-Laras-Camelia



Sesuai dengan permintaan baby Camelia kemarin, pagi-pagi sekali Seno dan baby Camelia berangkat dengan menggunakan travel menuju ke Surabaya.


Sepanjang perjalanan, baby Camelia terlihat riang gembira. Mulut mungilnya selalu bersenandung menyanyikan lagu anak-anak yang biasa diputarkan oleh ayahnya di YouTube saat di rumah.


"Apa dedek senang mau ketemu sama Buna?" Baby Camelia mengangguk-anggukan kepalanya.


"Cenang ayah, Mel udah tanen tama Buna banak-banak." Baby Camelia merentangkan kedua tangannya mengekspresikan kata banyak. Seno langsung mengacak gemas rambut putrinya.


Seno mendekap erat putrinya saat putrinya tersebut tertidur karena kelelahan. Ia menghujani banyak kecupan di puncak kepala putrinya.


"Mau kemana mas?" Tanya wanita paruh baya yang duduk di sebelah Seno. Sejak tadi wanita itu hanya memperhatikan interaksi antara ayah dan putrinya tersebut.


"Surabaya Bu." Jawab Seno sopan.


"Mamanya gak ikut?"


"Bundanya sudah tiada sejak melahirkan putri kami Bu." Jawab Seno sendu.


"Owh, maaf mas. Saya turut berduka." Wanita paruh baya itu nampak menyesali ucapannya. "Mau ke rumah neneknya?" Seno pun mengangguk. Setelah itu tidak ada percakapan lagi di antara mereka karena Seno terlihat memejamkan matanya. Ibu-ibu itu pun segan untuk bertanya kembali.


Sekitar lima jam lamanya perjalanan, akhirnya Seno dan baby Camelia tiba di depan rumah makan Bu Mayang. Dengan menggendong baby Camelia yang sudah terbangun dari tidurnya, Seno langsung memasuki rumah makan tersebut lewat pintu depan.


Saat baru saja kaki Seno melangkah memasuki pintu, putrinya itu langsung melorot kemudian berlari seraya berteriak memanggil Laras.


"Bunaaaaa!" Baby Camelia berlari menghampiri kasir dimana ia dulu melihat Bunanya di sana. Namun baby Camelia tidak menemukan Laras disana. Baby Camelia pun langsung menunduk, perlahan air matanya menetes.


"Hey sayang, kenapa?" Seno langsung meraih putrinya untuk digendong.


"Buna tidak ada ayah, huwaaaaa." Pecah sudah tangisan baby Camelia hingga menjadi pusat perhatian para pengunjung rumah makan.


"Eh, Seno, kapan datang?" Mbak Ti yang baru saja dari belakang menghampiri Seno.


"Barusan mbak, Laras kemana?"


"Sejak pulang dari Jakarta dulu, Laras gak pernah lagi ikut nunggu di warung." Seno nampak mengernyitkan alisnya.


"Memangnya Laras kenapa Mbak? Apa dia masih sakit?"


"Mbak gak tau Sen, lebih baik kamu ke belakang saja. Takutnya nanti Mbak salah ngomong."


"Baiklah mbak, aku ke belakang dulu." Seno langsung menuju ke belakang lewat pintu samping.


Nampak rumah dalam keadaan tertutup rapat. Mungkin Laras dan Bu Mayang sedang istirahat siang. Seno mengetuk perlahan pintu rumah tersebut. Dua kali ketukan, pintu rumah langsung dibuka dari dalam. Laras yang berada di balik pintu terlihat terkejut dengan kedatangan Seno dan baby Camelia yang tanpa mengabarinya terlebih dahulu.


"Bunaaaa!" Baby Camelia langsung menjulurkan kedua tangannya meminta gendong kepada Laras.


"Sayangnya Buna." Laras pun segera meraih baby Camelia ke dalam gendongannya kemudian menciumi wajah baby Camelia. "Kok gak bilang sama Buna mau kesini?"


"Siapa Ras?" Teriak bu Mayang dari dalam.


Laras membawa baby Camelia menghampiri ibunya yang sedang menonton televisi.


"Loh, cucu Oma datang kok nggak bilang-bilang? Sini nak?" Bu Mayang merentangkan kedua tangannya ingin menggendong baby Camelia. Namun baby Camelia menggelengkan kepalanya seraya mengeratkan tangan mungilnya di leher Laras.


Seno terlebih dahulu meraih tangan bu Mayang untuk diciumnya, kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi yang berbeda dengan Bu Mayang.


"Dari kemarin nangis, katanya kangen sama Buna."


"Uluh-uluh, kangen sama Buna ya nak?" Laras mencubit gemas hidung kecil baby Camelia.


"Kemarin tak sengaja foto kalian bertiga yang ada di atas meja kamar tiba-tiba jatuh dan kacanya pecah."


Deg!


"Camel yang melihat itu langsung nangis minta ketemu sama kamu." Lanjut Seno. "Maaf kalau membuat mu tak nyaman, apalagi Radit suami kamu. Pasti dia merasa terganggu dengan kedekatan kamu dan Camel."


Tes!


Setetes air mata jatuh membasahi pipi Laras. Seno pun menjadi panik takut ucapannya menyinggung perasaan Laras.


"Hey maaf, kalau ucapan ku menyinggung perasaan mu." Laras menggeleng.


"Aku sama mas Radit sudah resmi bercerai kemarin mas."


"Ber-bercerai?" Seno nampak syok mendengar penuturan Laras.


"Iya, kami bukan suami istri lagi."


"Tap-tapi kenapa?"


"Mungkin kami memang tidak berjodoh." Seno langsung diam dan sudah tidak berani lagi bertanya. Takutnya akan semakin melukai hati Laras.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚