Candamu Canduku

Candamu Canduku
Bab 41. Tujuh Bulanan



Hujan deras mengguyur kota S pagi ini, membuat kegiatan orang-orang yang ada di kediaman rumah Anja menjadi terhambat. Pasalnya, mereka harus mengerjakan pekerjaannya tepat waktu. Karena sore nanti akan di adakan tasyakuran tujuh bulanan Anja, seperti halnya saat acara empat bulanan yang lalu.


Sekitar pukul sepuluh, Laras dan Riani baru tiba di rumah setelah tadi mereka terjebak hujan deras di pasar selama satu jaman lebih. Laras dan Riani memang di tugaskan untuk membeli aneka buah-buahan segar yang akan di jadikan rujak nanti. Padahal waktu berangkat tadi belum hujan, tapi memang agak mendung.


"Huuuft!" Tau gitu tadi minta anterin cowok loe aja." Gerutu Laras saat turun dari angkot kemudian berjalan masuk ke dalam gang sambil menenteng kresek besar di kedua tangannya, begitu pun Riani. Sedangkan Riani hanya diam saja mengekor di belakang Laras.


Sebenarnya apa saja yang mereka beli, sampe kedua tangan mereka penuh dengan kantong kresek besar dan terlihat berat sepertinya?


"Astaghfirullah, apa saja yang kalian beli itu?" Teriak Anja saat melihat kedua sahabatnya memasuki halaman rumahnya. Sontak membuat orang-orang yang sedang mendirikan tenda yang sempat tertunda karena hujan deras tadi menoleh ke arah Laras dan Riani tak terkecuali Zian dan Seno juga ikut menganga. Namun Zian dan Seno langsung sigap mengambil alih belanjaan mereka berdua kemudian membawanya masuk ke dalam rumah.


"Kenapa sebanyak itu? Buat apa?" Tanya Anja kepada kedua sahabatnya.


"Ya buat rujak lah." Jawab Laras enteng.


"Tapi gak sebanyak itu juga kali Ras." Anja menepuk jidatnya gemas dengan kelakuan sahabatnya ini.


"Nah tu dengerin, gue bilang apa tadi. Loe sih kalau lihat buah segar bawaannya suka kalap." Omel Riani.


"Hehe.." Laras hanya nyengir kuda. Padahal umur Laras lebih tua dari mereka, tapi kelakuannya masih kayak bocah.


"Sudah-sudah sana masuk, bersihkan diri kalian." Lerai Anja. Akhirnya mereka pun masuk kedalam rumah untuk membersihkan diri.


Zian dan Seno kembali membantu mendirikan tenda setelah tadi sempat tertunda karena hujan deras. Namun, acara yang seharusnya di gelar lesehan itu harus kandas karena halamannya yang becek. Terpaksa Zian harus menyewa kursi untuk pengajian nanti sore.


*****


Halaman rumah Anja yang tak begitu luas itu sudah penuh dengan ibu-ibu pengajian dan juga para tetangga sekitar. Sedangkan beberapa anak yatim ada di ruang tamu karena halamannya sudah tidak muat. Tak ketinggalan pak Raffi sekeluarga juga ikut hadir. Ya, halaman yang seharusnya muat jika di buat lesehan itu sekarang mendadak terasa sesak karena adanya banyak kursi.


Berbagai macam acara sudah di laksanakan, mulai dari santunan anak yatim, pengajian, doa bersama, makan-makan, kemudian yang terakhir adalah pembagian bingkisan kepada seluruh undangan yang hadir.


Anja benar-benar kelelahan hari ini. Karena rasa bahagia yang membuncah di hatinya, ia sampe lupa kalau dirinya tidak boleh terlalu lelah. Alhasil kakinya sekarang menjadi bengkak.


Plaaakk!


"Jangan modus dech!" Sungut Anja karena merasa risih dengan tangan suaminya yang merayap kemana-mana.


"Hehe.." Zian hanya nyengir kuda.


"Udah sana, aku mau istirahat!" Usir Anja.


"Ya udah, aku beresin ruang tamu dulu." Zian beranjak lalu mencium kening istrinya kemudian keluar dari kamar.


Rumah sudah kembali sepi. Semua pekerja yang tadi datang membantu juga sudah kembali, begitu pun Laras dan Riani.


*****


*****


*****


*****


*****


Modus terooooss 🀣🀣🀣


Tenang ae Zi, bentar lagi emak bukain pabrik sabun πŸ€­πŸ˜‚πŸ˜‚


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚