
Laras nampak sedang asik menikmati makan siangnya di kantin kampus saat ada seseorang yang tiba-tiba duduk di kursi yang ada di depannya.
Uhuk.. uhuk..
Laras langsung tersedak kuah bakso yang baru saja masuk ke dalam mulutnya akibat kedatangan Radit yang tiba-tiba.
"Minum dulu." Radit menyodorkan minuman yang ada di gelas ke arah Laras. Yang mana minuman tersebut adalah milik Laras sendiri.
"Ngagetin aja! Ngapain duduk disini? Banyak kursi kosong juga." Omel Laras. Namun Radit hanya diam saja menikmati omelan Laras. Sepertinya Radit sudah terbiasa dengan omelan dan kemarahan Laras.
"Pergi sana! Jangan sampe si micin tau kalau loe lagi sama gue. Bisa-bisa entar gue di labrak sama dia." Usir Laras, namun Radit hanya bergeming.
"Tenang saja, Shasa gak masuk hari ini."
"Segitu deketnya ya loe sama dia? Oh ya gue lupa, loe kan calon tunangannya." Cibir Laras.
"Kok loe bisa tahu?"
"Iya lah gue tahu. Kemarin cewek loe datang ke warung nangis-nangis memohon sama Anja untuk bantuin dia ngejelasin ke elo kalau Anja sudah berkeluarga." Jelas Laras.
"Gue jadi bingung sama loe, udah jelas-jelas cewek loe itu cantik, kaya dan yang paling penting, dia punya cinta yang begitu besarnya buat loe. Tapi loe malah sibuk ngejar bini orang. Sebenarnya otak loe itu di mana sich. Ck!" Decak Laras.
"Gue juga gak tau dengan diri gue sendiri. Gue nyaman sama Shasa karena kita sudah bersama sedari kecil. Tapi kalau cinta sepertinya gak!" Jawab Radit meyakinkan.
"Yakin, cuma nyaman sebagai sahabat? Awas! Jangan sampe loe nyesel nanti." Ucapan Laras barusan membuat Radit terdiam. Apakah benar itu hanya perasaan nyaman sebagai sahabat dan bukan cinta? Namun sekali lagi Radit berusaha menampiknya. Radit mensugesti dirinya sendiri bahwa itu bukan cinta, tapi hanya rasa nyaman sebagai sahabat.
Entah kenapa hati Laras terasa nyeri melihat keadaan Radit yang nampak tertekan. Setelah kejadian di kafe saat ia marah kepada Radit, Laras selalu terngiang-ngiang dengan ucapan Radit waktu itu.
"Apa ini?" Tanya Laras saat melihat Radit meletakkan sesuatu ke atas meja kemudian menyodorkan ke arahnya. Seperti sebuah undangan?
"Itu undangan pertunangan gue sama Shasa." Ucap Radit lesu nampak tak bersemangat. Padahal sebentar lagi dirinya akan bertunangan.
Jleb!
Seperti ada benda tajam yang menikam tepat di ulu hati Laras. Sakit tapi tak berdarah. Entah ada apa sebenarnya dengan hatinya ini. Kenapa sesakit ini saat mendengar Radit akan bertunangan. Laras bingung dengan perasaannya sendiri. "Gak mungkin kan dia mencintai cowok yang ada di depannya saat ini? Tidak-tidak, ini tidak boleh terjadi. Dia cowok orang dan sebentar lagi akan bertunangan. Masih banyak cowok single di luaran sana yang bisa ia dapatkan." Laras segera membuang segala pikiran yang memenuhi otaknya.
"Jangan lupa datang." Radit kemudian bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan kantin. Laras baru tersadar dari lamunannya saat Radit sudah tidak ada lagi di hadapannya. Di edarkannya pandangannya ke penjuru kantin namun tak menemukan keberadaan Radit disana. Tak terasa air matanya tiba-tiba mengalir begitu saja.
*****
*****
*****
*****
*****
Nah kan, cinta itu memang rumit Ras π’π’
Menurut emak, cinta itu RUWET seperti benang layangan punya anaknya emak yang mbulet π€πππ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ