Candamu Canduku

Candamu Canduku
SLC 06



"Ayaaaaaaahh! Mel mau Buna! Mel mau Buna! Hiks.. hiks.." Teriak baby Camelia melempar semua mainannya yang ada di dalam keranjang mainan seraya menangis tersedu-sedu. Ya, sudah seminggu ini Baby Camelia merengek meminta kembali ke Surabaya. Namun Seno selalu saja berhasil membujuknya. Dan kali ini sepertinya baby Camelia sudah benar-benar marah kepada ayahnya itu.


"Sayang, cucu nenek yang cantik." Bu Tutik mencoba menenangkan cucunya. "Ayah lagi sibuk sayang, besok saja ya kalau ayah sudah nggak sibuk. Dengerin nenek, ayah cari duit buat beli bensin. Mobilnya kalau nggak ada bensin nggak bisa jalan. Nanti kalau mobilnya mogok di tengah jalan bagaimana?"


"Tapi lama, Mel udah tanen tama Buna. Hiks.. hiks.." Baby Camelia semakin sesenggukan. Bu Tutik langsung merengkuh cucunya itu ke dalam pelukannya.


"Ada apa ini?" Seno yang baru saja masuk ke dalam rumah terkejut melihat mainan anaknya berserakan ke mana-mana.


"Ayaaahh!" Mendengar suara ayahnya, baby Camelia langsung mengurai pelukannya kemudian berlari memeluk kaki ayahnya. "Mel tanen tama Buna, hiks.. hiks.." Seno langsung mengangkat anaknya ke dalam gendongannya.


"Iya sayang, nanti kita pergi ke rumah buna ya? Tapi tunggu ayah selesaikan dulu pekerjaan ayah. Nanti kalau ayah dimarahin orang gara-gara pekerjaannya nggak selesai gimana? Nanti ayah nggak dapat uang dong."


"Tapi ayah lama!" Baby Camelia memanyunkan bibirnya membuat sang ayah gemes dan langsung mencubit bibirnya.


"Iya, ayah janji nggak akan lama."


"Dandi-dandi telus tapi bo'ong." Bibir baby Camelia mengerucut semakin panjang sepanjang jalan kenangan. Seno hanya bisa meringis dan garuk-garuk kepala. Memang benar, selama ini ia hanya berusaha mengulur-ulur waktu karena merasa sungkan dengan kedua mertuanya.


*****


Tiga hari berlalu......


Setelah melakukan perundingan dengan kedua mertuanya selama dua hari dua malam, akhirnya Seno memutuskan untuk kembali ke Surabaya dan akan kembali bekerja ke tempat Pak Raffi. Seno sudah menghubungi Pak Raffi untuk bekerja kembali ke mebelnya. Dan Pak Raffi pun dengan senang hati menerimanya kembali. Mungkin nanti Seno akan menempati rumah mendiang Zian dan juga Anja, karena ia tidak mungkin tidur di mebel. Hanya rumah itulah harapannya satu-satunya, karena rumah itu yang paling dekat dengan rumah makan Bu Mayang. Agar memudahkannya untuk mengunjungi anaknya yang nantinya pasti tidak akan mau ikut tinggal bersamanya.


Sedangkan mebel yang ada di desa ia serahkan kepada Pak Lukman mertuanya untuk mengelolanya dan ia juga akan sesekali berkunjung untuk memantaunya dan juga mengunjungi kedua mertuanya. Pak Lukman dan Bu Tutik pun mendukung keputusan Seno, karena ia juga ingin yang terbaik buat cucunya meskipun ia harus berjauhan dengan cucu semata wayangnya itu.


Seno tiba di Surabaya tepatnya di rumah makan Bu Mayang pukul sembilan malam. Enam jam lamanya perjalanan yang ia tempuh, karena ia membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia langsung keluar dari mobil dan menggendong anaknya yang sudah terlelap. Seno memasuki rumah makan yang sudah terlihat sepi. Laras yang saat itu sedang duduk manis menonton televisi bersama para pekerja yang lainnya sedikit terkejut, namun tak urung ia langsung menyambut kedatangan Seno dan anaknya.


"Mas, kok nggak ngabari kalau mau datang? Ayo langsung ke belakang saja kasihan Camel pasti capek." Laras langsung melangkah lewat pintu samping menuju ke rumah diikuti oleh Seno yang menggendong baby Camelia di belakangnya.


Rumah sudah dalam keadaan sepi, mungkin Bu Mayang juga sudah beristirahat. Laras langsung menuju kamarnya dan menyuruh Seno membaringkan baby Camelia ke atas tempat tidur. Seno pun langsung membaringkan anaknya ke atas tempat tidur Laras.


"Kok gak bilang mau kesini?" Laras ikut mendudukkan tubuhnya di samping Seno yang terduduk di pinggir ranjang.


"Iya maaf!" Tangan Seno terulur merapikan anak rambut Laras dan menyelipkannya ke belakang telinga. Membuat Laras salah tingkah, begitupun Seno yang menyadari apa yang dilakukannya. "Dia nangis terus kangen sama bunanya."


"Sama ayahnya gak kangen?" Ucap Seno tiba-tiba.


"Maksudnya?"


"Eh, lupakan saja! Oh ya, mungkin aku akan kembali bekerja di tempat Pak Raffi."


"Iya kah?"


"Iya, aku titip Camel. Aku akan datang ke sini setiap pagi sebelum berangkat kerja, dan juga sore sepulang kerja. Kalau siangnya, mungkin kalau nggak lagi kirim barang ke luar kota akan aku sempatkan untuk datang ke sini. Maaf jika lagi-lagi aku merepotkan mu." Ucap Seno menatap Laras dengan tatapan sendu.


"Sama sekali tidak merepotkan Mas, justru aku malah senang."


"Terimakasih!" Seno meraih tangan kanan Laras kemudian menggenggamnya erat. Laras mengangguk seraya mengulas senyum. "Aku mungkin akan menempati rumah Zian, tapi untuk malam ini aku mau izin untuk tidur di sini dulu."


"Kenapa harus menempati rumah almarhum Mas Zian? Kenapa nggak tinggal di sini saja? Di warung kan ada kamar kosong yang biasa mas Seno tempati."


"Takut terjadi fitnah! Ya sudah aku kembali ke depan, istirahatlah." Seno mengacak rambut Laras kemudian segera keluar dari kamar.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ