
Bruukk!
"Sayang!" Teriak Seno seraya membalikkan badannya dan langsung mengangkat Riani masuk ke dalam rumah membuat orang-orang yang ada di mebel ikut kaget tak terkecuali pak Lukman dan besannya yang langsung berlarian menuju ke rumah.
"Loh Sen, Riani kenapa? Sini-sini langsung masukkan saja ke dalam kamar. Kamu panggil bidan sekarang cepat." Karena khawatir dengan anaknya, tanpa sadar Bu Tutik berteriak kepada Seno. Namun Seno menyadari kepanikan ibu mertuanya itu. Ia segera melesat keluar rumah. Dengan mengendarai motornya ia pergi ke klinik yang ada di depan gang sana.
Bu Tutik mengoleskan minyak kayu putih ke pangkal hidung dan juga pelipis Riani berharap anaknya itu segera sadar. Ia juga memberi pijatan lembut di kaki Riani.
Tak berselang lama, Seno datang dengan Bu bidang yang saat itu sedang bertugas di klinik. Bu Nuning namanya, Bu Nuning segera memeriksa Riani yang masih belum sadarkan diri. Namun saat Bu Nuning meletakkan stetoskop ke atas dada Riani, Riani perlahan membuka matanya kemudian mengerjap beberapa kali.
"Alhamdulillah!" Semua orang yang ada di dalam kamar tersebut serempak berucap syukur saat melihat Riani tersadar.
"Mbak Ri, apa yang mbak Ri rasakan saat ini?" Orang-orang disana biasa memanggil Riani dengan sebutan Ri.
"Pusing dok! Tadi tiba-tiba pandangan saya mengabur dan setelah itu saya gak ingat lagi."
"Apa mbak Ri gak merasakan mual muntah?" Tanya dokter memastikan apa yang ia dapatkan dari pemeriksaannya. Namun Riani menggeleng.
"Bagaimana dengan nafsu makan mbak Ri akhir-akhir ini?"
"Biasa aja dok!"
"Baiklah, kapan terakhir mbak Ri datang bulan?" Sejenak ruangan kamar tersebut menjadi hening. Sepertinya saat ini mereka semua sedang sibuk menerka-nerka ucapan dokter Nuning.
"Lupa dok, pastinya kapan. Tapi selama hampir sebulan ini saya menikah belum pernah datang bulan."
"Sekarang untuk memastikan dugaan saya, lebih baik mbak Ri tes dulu."
Beberapa menit kemudian, Riani dan Seno keluar dari dalam kamar mandi dengan senyum sumringah yang nampak jelas menghiasi wajah Seno. Sedangkan Riani hanya tersenyum tipis.
"Yess!" Teriak Seno saat keluar dari kamar mandi membuat orang-orang yang ada di dalam kamar ikut tersenyum bahagia.
Seno menyerahkan dua buah testpack tersebut kepada dokter Nuning. Meskipun masih samar-samar, tapi kedua testpack tersebut sudah menunjukkan dua garis merah.
"Selamat ya, Bu, pak!" Ucap dokter Nuning ikut bahagia. "Untuk lebih jelasnya bisa di cek di puskesmas mbak Ri. Kalau di klinik gak ada alat USG-nya. Maklum, fasilitas desa masih belum lengkap. Atau bisa langsung ke rumah sakit di kota saja peralatannya jauh lebih canggih. Tapi menurut saya, di lihat dari kondisi mbak Ri yang sehat, itu tidak perlu. Cukup USG di puskesmas saja." Jelas Bidan Nuning.
Setelah memberikan obat dan vitamin, bidan Nuning pamit undur diri. Begitupun Bu Tutik pak Lukman serta bapaknya Seno juga segera keluar dari kamar. Tertinggal Riani dan Seno di dalam kamar tersebut. Seno langsung memeluk erat istrinya serta menghadiahinya dengan banyak kecupan di kedua pipi, dahi, hidung, kedua mata dan terakhir m3lum@t bibir Riani yang membuat Riani kegelian.
Lagi-lagi kebahagiaan menyelimuti keluarga pak Lukman. Sebulan yang lalu pernikahan anaknya dan sekarang berita kehamilan anaknya. Sungguh nikmat manakah yang ia dustakan?
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ