
"Plis Sha, kita akhiri semua ini. Jangan sampai persahabatan yang sudah kita bangun sejak kecil hancur hanya karena perjodohan sialan ini." Ucap Radit memohon kepada Shasa yang nampak sudah terisak. Saat ini mereka berdua berada di dalam ruang kelas yang sepi, karena baru beberapa menit yang lalu kelas berakhir.
"Hiks.. hiks.. sebenarnya gue salah apa sama loe sich Dit? Kenapa loe gak bisa lihat gue sedikit pun. Gue sayang sama loe." Ucap Shasa terisak.
"Gue juga sayang sama loe, tapi hanya sebagai sahabat. Gak lebih!" Radit meraup wajahnya kasar.
"Gue selama ini udah berusaha sabar nunggu loe buat buka hati loe ke gue, tapi sepertinya apa yang gue lakuin selama ini gak ada artinya buat loe!" Teriak Shasa tepat di depan Radit.
"Hey, ada apa ini?" Laras nampak terkejut mendengar teriakan Shasa. Tadinya ia ingin menghampiri Shasa ke kelasnya, karena tadi mereka sempet janjian akan ke warung bareng untuk mengunjungi Anja.
"Kita pergi!" Ucap Shasa tegas seraya menggandeng tangan Laras setengah menyeretnya. Laras yang tak siap pun hampir saja terjatuh.
"Aaaarrgh!" Teriak Radit frustasi. Ia sandarkan tubuhnya ke atas kursi kemudian menyugar rambutnya ke belakang.
"Gue gak tau dengan perasaan gue saat ini. Gue sayang sama loe Sha, tapi cuma sebagai sahabat. Sedangkan Anja, gue gak tau ini cinta atau kasihan." Radit meraup wajahnya kasar kemudian beranjak.
*****
Keesokan harinya....
Radit tiba di kafe sekitar pukul sepuluh. Di parkirkannya mobilnya ke tempat biasa kemudian langsung masuk ke dalam kafe tanpa menyadari ada sebuah mobil yang terparkir tepat di sebelah mobilnya.
Ceklek!
Radit terlonjak kaget, hampir saja ponsel yang ada di genggamannya jatuh saat ia melihat papa Angga sudah duduk cantik di atas kursi kerjanya.
"Pa-papa kapan datang?" Tanya Radit tergagap. Namun tidak ada jawaban dari papa Angga melainkan tatapan tajam yang mengisyaratkan kemarahan.
"Apa yang kamu lakukan!" Teriak papa Angga murka.
"Mak-maksud papa apa?" Tanya Radit pura-pura bingung. Padahal ia sudah tau kemana arah pertanyaan papanya itu. Pasti Shasa sudah mengadu ke papanya tentang kejadian kemarin, terus papanya Shasa menelpon papanya dan mengadukannya.
Shiiitt!
"Papa tanya sekali lagi, apa yang sudah kamu lakukan kepada Shasa?" Papa Angga mengulang pertanyaannya sekali lagi dengan suara penuh penekanan.
"Plis pa, Radit gak cinta sama Shasa. Mau di bawa kemana rumah tangga kami nanti? Perjodohan sialan ini hanya akan menghancurkan persahabatan kami." Mohon Radit kepada sang papa yang mukanya nampak memerah. Entah karena marah atau karena Radit lupa menyalakan pendingin ruangan. Entahlah....
"Kalau begitu kenapa bukan papa saja yang menjalaninya." Ucap Radit spontan.
"Anak kurang ajar!"
Plaaaaakk!
Tamparan keras mendarat di pipi Radit sebelah kiri hingga membuat sudut bibirnya sedikit sobek dan mengeluarkan darah.
"Berani kamu sama papa. Jangan pernah menganggap kami sebagai orang tua mu lagi kalau kamu tidak mau mendengarkan perkataan papa!" Teriak papa Angga menggema di ruangan Radit.
Braaakk!
Papa Angga keluar dengan membanting pintu keras. Radit hanya bisa mengusap wajahnya kasar kemudian mendudukkan dirinya di atas kursi kerjanya seraya memandang langit-langit ruangannya.
*****
*****
*****
*****
*****
Weew, papa Angga syerem juga kalau lagi marah π€
Emak jadi takut π€ kabur ahh ππππ
Cerita Radit cukup sampai disini ya, entar emak buatkan kamar sendiri π
Sampai jumpa di kamar Radit setelah cerita ini tamat, Love you ππ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ