
Laras hanya mengambil satu kelas saja hari ini. Sebenarnya dia ada kelas lagi jam satu nanti, namun moodnya seketika hancur setelah tadi ia sempat melabrak Radit di kantin kampus. Akhirnya ia putuskan untuk pulang saja dari pada harus mengikuti kelas tapi tidak bisa konsentrasi. Ia juga ingin segera menjelaskan semuanya kepada Anja agar masalah ini tidak berlarut-larut.
"Ri, Anja mana?" Tanya Laras celingak-celinguk seraya menghampiri Riani yang ada di kasir.
"Udah pulang sejak tadi pagi." Jawab Riani tanpa mengalihkan fokusnya pada Hpnya. Sejak tadi Riani memang bertukar pesan dengan Anja.
"Haaahh pulang?" Beo Laras.
"Iya, sebenarnya ada apa sich Ras?" Tanya Riani kepada Laras yang di jawab Laras dengan pertanyaan kembali.
"Anja belum cerita sama loe?"
"Anja gak ngomong apa-apa, ia hanya pamit pulang katanya gak enak badan." Jelas Riani kepada Laras.
"Apa gue ke rumahnya aja ya? gue mau jelasin sesuatu ke dia."
"Sebaiknya jangan dulu dech Ras, Anja masih kelihatan syok tadi. Dia kayak orang linglung. Mending loe tunggu dia tenang dulu baru setelah itu loe temuin dia."
"Atau loe bisa jelasin dulu ke gue, entar gue bantu loe jelasin ke Anja." Imbuh Riani memberi solusi.
Laras pun akhirnya menjelaskan semuanya kepada Riani mulai dari awal ia yang tak sengaja bertabrakan dengan Radit di kampus dan berujung Radit yang meminta nomornya saat di cafe. Tanpa Laras sadari Riani diam-diam menghubungi Anja. Dan Anja pun mendengar semua penjelasan Laras lewat sambungan telepon tersebut.
"Sumpah Ri, gue gak ada maksud apa-apa. Gue cuma di minta Radit buat kasih tau dia kalau terjadi sesuatu dengan Anja. Karena dia takut kalau Shasa si micin itu datang kemari dan nyakitin Anja lagi. Sedangkan dia gak bisa menjaga Anja karena Anja gak mau lagi ketemu sama dia. Awalnya juga gue gak mau, tapi gue melihat cinta yang tulus di matanya akhirnya gue kasihan sama dia." Panjang lebar Laras menjelaskan kepada Riani dengan berlinang air mata. Anja yang mendengar penjelasan Laras pun juga ikut sesenggukan di seberang sana. Ia juga merasa bersalah karena tidak mau mendengarkan penjelasan Laras terlebih dahulu.
*****
Di tempat lain..
"Gue besok libur, Anja minta gue temenin dia seharian di rumah." Ucap Zian kepada Seno yang ada di sampingnya. Saat ini mereka sedang menikmati makan siangnya di mebel bersama para pekerja yang lainnya. Tadi memang pak Raffi menyuruh Seno membeli nasi bungkus buat makan siang para pekerjanya agar tidak usah keluar untuk mencari makan.
"Santai saja, besuk gak ada pengiriman. Gue juga ada janji sama Riani mau ngajak dia jalan." Nampaknya Seno juga sudah mulai beraksi lagi untuk mendapatkan hatinya Riani.
"Lah, terus yang jaga warung siapa ogeb." Zian menonyor kepala Seno yang membuat sang empunya terjengkang ke belakang. Sontak gelak tawa para pekerja lainnya memenuhi ruangan itu.
"Kan ada Laras, besok hari Minggu pasti Laras libur kuliahnya."
*****
Anja nampak duduk termenung diatas ranjang. Ia memang sengaja tak memberi tahu suaminya kalau dirinya gak kerja hari ini. Ia takut membuat suaminya khawatir. Sejak tadi pikirannya di penuhi dengan ucapan Laras.
Apa benar Radit mencintainya?
Apa Radit tidak tau kalau ia sudah bersuami?
"Aaahh!" Anja menjambak rambutnya frustasi. Dia pikir selama ini dia tidak pernah memberi kesempatan pada Radit untuk mendekatinya. Saat di warung juga dia hanya bersikap layaknya penjual dan pembeli.
Terus kenapa bisa jadi begini?
*****
*****
*****
*****
*****
Entahlah.. emak juga ikut pusing Nja π€
Enaknya Radit di apain yaa?? Lama-lama emak gantung juga di pohon toge ππ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ