Candamu Canduku

Candamu Canduku
SLC 17



Bu Mayang yang merasa sangat bahagia, siang itu juga menggratiskan semua orang yang datang ke rumah makan tanpa terkecuali sebagai bentuk rasa syukurnya atas kehamilan anaknya. Para tetangga dekat, terutama daerah rumah almarhum Zian berbondong-bondong datang ke rumah makan. Mereka semua ikut bersuka cita menyambut kehamilan Laras.


"Ayah, kok tumben rame banget? Apa jangan-jangan terjadi sesuatu sama Buna?" Camelia dan ayahnya yang baru saja tiba di rumah nampak heran, terutama Seno. Pasalnya saat dirinya tadi berangkat untuk menjemput anaknya, rumah makan belum seramai ini. Seno dan anaknya langsung turun dari mobil dan langsung berlari masuk ke dalam rumah makan. Pikiran Seno sudah tak karu-karuan rasanya membayangkan sesuatu yang terjadi di dalam sana.


"Mbak Sih, ada apa?" Seno langsung menghampiri salah satu karyawan rumah makan mertuanya itu.


"Ada apa?" Mbak Sih yang bingung malah balik bertanya.


"Iya, ada apa kok rame banget?"


"Owh, ini Bu Mayang lagi bagi-bagi makanan gratis sebagai bentuk rasa syukurnya atas kehamilan Laras." Jelas mbak Sih.


"Owh, aku pikir apaan." Seno akhirnya bisa bernafas lega.


"Buna mana yah?" Camelia yang sejak tadi celingukan tak menemukan Bunanya. Biasanya Bunanya itu selalu berada di balik meja kasir. Apalagi saat warung ramai begini.


"Buna lagi istirahat, ayo!" Seno menggandeng tangan anaknya melangkah melewati pintu samping menuju ke rumah.


Tanpa melepas atribut sekolah yang masih menempel di tubuhnya, Camelia langsung menuju ke kamar orang tuanya dan langsung masuk ke dalam karena pintunya tidak dikunci.


"Buna!" Camelia melangkah mendekati ranjang.


"Hey sayang, sudah pulang?" Laras yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidur seraya memainkan ponselnya segera meletakkan ponselnya ke atas nakas.


"Mana dedeknya?" Seno tadi sempat menceritakan tentang kehamilan Laras kepada anaknya saat di perjalanan pulang.


"Dedeknya masih di dalam perut Buna sayang." Laras mengelus perlahan perutnya. "Coba sini tangan kakak." Laras menarik tangan Camelia lalu membawanya ke atas perutnya.


"Kakak?" Beo Camel yang bingung dengan sebutan kakak yang baru saja disematkan oleh bunanya.


"Iya, nanti Camel kan mau jadi kakak. Jadi mulai sekarang, kami semua akan memanggil Camel dengan sebutan kakak. Kakak suka?"


"Ya sudah, ayo ganti baju dulu sekalian makan siang." Laras beranjak dari tempatnya.


"Biar aku saja yang urus kakak sayang." Sergah Seno menahan istrinya agar tidak turun dari tempat tidur. Laras pun menurut.


"Kakak bisa sendiri ayah, kakak kan sudah besar sudah mau punya adik." Camel menolak bantuan ayahnya. Camel langsung keluar dari kamar orang tuanya menuju ke kamar Omanya yang ditempati bersamanya.


"Sudah makan?" Seno mendudukkan dirinya di samping sang istri. Cup! Satu kecupan mendarat di kening Laras.


"Belum!" Laras menggeleng.


"Mau makan di kamar atau di depan?"


"Ayo kita makan di depan saja bareng kakak." Laras beranjak perlahan dari atas tempat tidur di bantu oleh suaminya.


Sesampainya di ruang makan ternyata sudah ada bu Mayang dan Camelia yang menunggu disana. Seno segera menarik kursi untuk diduduki istrinya. Melihat perlakuan Seno kepada anaknya, Bu Mayang merasa sangat bahagia karena anaknya berada di tangan orang yang tepat. Orang yang mencintai dan menyayangi anaknya dengan setulus hati.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ