
Sudah tiga hari lamanya Seno berada di Surabaya namun ia masih belum berhasil membujuk anaknya untuk pulang ke kampung. Seperti halnya pagi ini, baby Camelia sejak tadi nemplok ke dalam gendongan Laras dan tidak mau turun sama sekali.
"Sayang, kasihan Buna capek gendong Camel. Camel kan udah besar, sudah pasti berat." Seno mencoba merayu anaknya. Saat ini Laras sedang duduk di balik meja kasir seraya memangku baby Camelia yang posisinya menghadap kearah Laras seraya melingkarkan kedua tangan mungilnya ke leher Laras.
"Mel dak mau puyang yah, ayah puyang cendili taja! Mel mau dicini taja cama Buna!" Tolak baby Camelia semakin mengeratkan pelukannya di leher Laras.
"Tapi kan Camel sudah disini lama sayang, kasihan nenek sama kakek kangen sama Camel." Bujuk Seno lagi.
"Huwaaaaa... Mel dak mau puyang." Baby Camel malah menangis kencang.
"Eh," Seno dan Laras sontak saja kaget.
"Cup cup cup, anak Buna yang cantik gak boleh nangis." Laras membelai kepala baby Camelia. "Sudahlah mas, bapak sama ibuk pasti ngerti."
"Tap-tapi kan Camel sudah disini lama Ras, aku cuma gak mau merepotkan kalian."
"Tidak ada yang merasa direpotkan mas, Camel kan anak pinter ya sayang?" Camel mengangguk-angguk dalam pelukan Laras.
"Huuuft, nanti kalau bapak sama ibuk tanya aku harus bilang apa?"
"Ya bilang aja kalau Camel gak mau pulang."
"Sayang, bagaimana kalo kita pulang sebentar. Terus besok ayah anterin lagi kesini." Seno masih kekeh membujuk anaknya.
"Mel mau talo Buna ikut puyang." Teriak baby Camelia lagi.
"Eh," Laras dan Seno kembali kaget dan sontak saling pandang.
"Tapi kan Buna lagi kerja sayang, ayah janji dech besok langsung balik lagi kesini. Kasihan nenek nangis terus karena kangen sama Camel." Nampaknya baby Camelia mulai berfikir, terlihat dari keningnya yang nampak mengkerut.
"Tapi dandi ya yah, betok balik ketini lagi." Baby Camelia mengulurkan jari kelingkingnya yang langsung disambut oleh ayahnya.
"Iya sayang, ayah janji." Seno menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking mungil Putri kecilnya.
Setelah berpamitan kepada Laras dan juga Bu Mayang serta pekerja rumah makan Bu Mayang, akhirnya Seno dan baby Camelia pamit untuk pulang ke desa.
*****
"Cucu Neneeeekk!" Teriak Bu Tutik seraya berlari menghampiri cucu dan menantunya yang baru saja keluar dari mobil.
"Neneeeekk!" Baby Camelia ikut berteriak seraya merentangkan kedua tangannya yang langsung di raih oleh Bu Tutik.
"Cup! Cup! Cup!" Bu Tutik menciumi wajah cucu yang dirindukannya selama sepuluh hari ini. "Camel gak sayang lagi sama nenek?" Bu Tutik pura-pura bersedih.
"Mel tayang tama nenek, Cup!" Baby Camelia mencium pipi sang nenek.
"Sama kakek sayang gak?" Pak Lukman ikut menghampiri cucunya.
"Mel tayang tama tatek, tama nenek, tama ayah, tama Buna, tama Oma, Tama temua." Ucap baby Camelia seraya merentangkan kedua tangannya membuat Bu Tutik dan Pak Lukman serta Seno terkekeh, gemes dengan baby Camelia.
"Ayo kita masuk, kita makan siang sama-sama." Bu Tutik segera masuk ke dalam rumah diikuti oleh Pak Lukman dan juga Seno.
Mereka berempat makan siang bersama dengan suasana ruang makan yang nampak ramai dengan celotehan baby Camelia yang sejak tadi tak henti-hentinya menceritakan segala aktivitas yang dilakukannya bersama bunanya selama di Surabaya.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ