
Nara nampak gelisah dalam duduknya, berulang kali ia menatap pintu UGD namun belum ada tanda-tanda dokter atau pun perawat yang akan keluar. Padahal sudah dua jam berlalu ia duduk di sana. Nara mengusap kasar wajahnya sekali lagi. Bima yang sejak tadi di hubunginya juga belum menunjukkan batang hidungnya.
Tak.. tak.. tak.. tak..
Terdengar suara sepatu berlarian di koridor rumah sakit. Nampak Seno dan Riani yang berlari mendekat.
Huh.. huh.. huh..
Nafas keduanya terdengar saling memburu. Nara pun segera berdiri dari duduknya. Dikiranya Bima yang datang, ternyata bukan.
"Bagaimana keadaan Anja dan Zian mas?" Tanya Riani dengan mata sembabnya karena tak berhenti menangis sejak tadi kepada Nara setelah berhasil mengatur nafasnya.
"Oh ya, mas siapa?" Lanjut Riani. Nara gelagapan harus menjawab apa. Tapi ia tetap berusaha tenang.
"Sa-saya yang ada di tempat kejadian." Jawab Nara sedikit terbata.
"Yang ada di dalam sana seorang wanita hamil." Nara menunjuk ruang UGD menggunakan dagunya.
"Sedangkan suaminya.....?" Ucap Nara terputus.
"Suaminya kemana?" Tanya Riani menuntut.
"Tenang dulu Ri, mungkin Masnya syok karena melihat kejadiannya langsung." Seno mencoba menenangkan Riani.
"Su-suaminya meninggal di tempat kejadian." Akhirnya Nara melanjutkan kalimatnya yang tadi terputus.
"Apaaa!" Teriak Riani sebelum akhirnya tak sadarkan diri. Seno pun sigap menangkap tubuh Riani sebelum jatuh ke lantai. Di dudukkannya Riani di kursi tunggu dengan kepala di pangkuan Seno.
"Ri, hey sayang bangun." Seno menepuk pipi Riani pelan.
Ceklek!
Suara pintu yang di buka membuat Nara dan Seno reflek menoleh ke arah pintu UGD. Nampak seorang dokter keluar dari sana.
"Sayang bangun, dokter sudah keluar." Bisik Seno di telinga Riani. Tak lama kemudian Riani membuka matanya perlahan.
"Anja!" Teriak Riani ketika tersadar.
"Hey, tenang dulu. Itu dokter mau bicara." Ucap Seno menggenggam tangan Riani. Riani segera bangkit dari duduknya kemudian menghampiri seorang dokter yang bernametag Bella tersebut.
"Bagaimana keadaan Anja dok?" Tanya Riani dengan air mata yang sudah kembali berlinang.
"Alhamdulillah!" Ucap mereka bertiga bersamaan.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit sang dokter.
"Terimakasih dok." Ucap Riani sebelum kemudian dokter Bella berlalu.
Ceklek!
Riani membuka pintu ruang perawatan Anja kemudian masuk ke dalam di ikuti Seno dan Nara yang mengekor di belakangnya. Mereka lalu mendekat ke bed perawatan Anja.
Deg!
Nara tersentak saat melihat siapa yang berbaring di atas bed tersebut. Ya, ternyata wanita itu adalah wanita yang ia jumpai di Mall tadi siang. Rasa bersalahnya semakin besar saat melihat keadaan Anja. Dilihatnya kepala Anja bagian atas yang di tutup perban. Serta beberapa perban yang ada di wajah, leher dan tangannya.
"Mas, mbak, saya permisi dulu. Besok pagi saya kesini lagi untuk membantu proses pemakaman korban." Pamit Nara kepada Seno dan Riani.
"Oh ya, mas namanya siapa?" Tanya Riani kepada Nara.
"Saya Nara mbak!" Jawab Nara.
"Saya Riani, dan ini Seno. Kami temannya Anja dan Zian almarhum suami Anja." Riani mengulurkan tangannya kepada Nara. Nara pun membalas uluran tangan Riani, kemudian beralih menjabat tangan Seno.
"Terimakasih!" Ucap Seno. Nara pun langsung pamit undur diri.
*****
*****
*****
*****
*****
Semoga saja nanti pas bangun Anja gak hilang ingatan π€ππ
Takutnya nanti Nara di kira suaminya kan berabe ππ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ