
Ceklek!
Nampak Zian keluar dari rumah dengan menenteng kantong kresek sampah ukuran besar untuk di buang ke tempat sampah yang ada di depan sana. Namun langkah kakinya terhenti saat matanya tak sengaja melihat sebuah kotak berukuran sedang dengan hiasan pita di atasnya. Di letakkannya kantong kresek yang ada di tangannya kemudian meraih kotak tersebut.
"Apa ini?" Alis Zian terlihat mengernyit. Di perhatikannya kotak tersebut. Di lihat dari bentuknya seperti sebuah kado? Kemudian Zian meletakkannya kembali lalu segera membuang sampah ke depan. Setelah itu ia kembali ke dalam rumah. Tak lupa di bawanya kotak tersebut dan di tunjukkan kepada istrinya.
"Sayang!"
"Heemm!" Ternyata Anja sedang bersandar di kepala ranjang sembari memainkan HPnya.
"Aku nemu ini di teras." Di sodorkannya kotak tersebut ke arah istrinya. Anja pun nampak bingung, namun ia tetap menerima kotak pemberian dari suaminya itu.
"Apa ini?" Tanya Anja bingung.
"Entahlah, coba buka." Pinta Zian. Anja pun segera menarik simpul pitanya lalu membuka kotak tersebut. Di lihatnya beberapa stel pakaian bayi berwarna pink dan beberapa pasang sepatu bayi. Anja nampak ternganga melihat itu semua. Kemudian di bukanya kertas yang terselip di bagian bawah. "Maaf" Cuma satu kata tersebut yang tertulis tanpa ada nama pengirimnya. Tapi Anja seolah sudah tau siapa pengirim paket tersebut.
"Siapa?" Tanya Zian yang melihat istrinya hanya diam saja dengan pandangan kosong tanpa membacanya. Namun hanya mendapat gelengan kepala dari sang istri. Zian langsung meraih kertas tersebut yang masih di pegang Anja.
"Maaf?" Zian mengernyit. Sepertinya Zian juga sudah tau siapa pengirim paket tersebut.
"Sudah, jangan di pikirkan. Istirahat saja." Zian kemudian meraih kotak tersebut dari pangkuan Anja lalu menutupnya kembali. Di bawanya kotak tersebut keluar dari kamar. Zian harus menjauhkan kotak tersebut dari jangkauan istrinya. Kalau perlu di bakar sekalian. Tanpa pikir panjang, Zian segera mencari korek api di dapur dan keluar menuju halaman rumah. Di bakarnya kotak tersebut tanpa sisa. Tanpa Zian sadari, sejak tadi Anja menyaksikan apa yang di lakukannya dari balik jendela yang tirainya ia singkap sedikit dengan air mata yang sudah berlinang.
"Gue gak akan biarin loe ngerusak kebahagian keluarga kecil gue!" Geram Zian seraya menginjak-nginjak abu yang apinya sudah padam itu. Anja segera masuk ke dalam kamar ketika melihat suaminya berbaik ingin masuk ke dalam rumah. Di usapnya air mata yang sejak tadi membasahi pipinya. Kemudian ia berpura-pura tertidur dengan memeluk guling kesayangannya.
Ceklek!
Zian masuk ke dalam kamar, di lihatnya sang istri yang sudah terlelap. Kemudian ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ceklek!
Zian keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang di lilitkan di pinggangnya. Ia segera naik ke atas ranjang tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Di rebahkannya tubuh polosnya itu di samping sang istri kemudian memeluknya erat dari belakang.
"Sayang!" Zian mulai menciumi tengkuk istrinya dan menggigiti daun telinganya yang membuat Anja meremang. Gagal sudah acara tidur pura-puranya kalau sudah begini.
"Hey girl, ini ayah." Sapa Zian kepada calon anaknya.
Duk!
"Sttttt!" Desis Anja saat merasakan tendangan dari anaknya.
"Eh sayang, sakit ya?" Zian kembali mengelus perut istrinya.
"Hey girl, jangan keras-keras nendangnya. Kasihan bunda kesakitan."
Duk!
"Auuw!" Jerit Anja karena tendangan anaknya semakin kuat.
"Sudah mas, jangan diajak bicara terus. Nanti malah nendang terus-terusan." Omel Anja kepada suaminya. Zian pun langsung terdiam, namun tangannya tetap bergerak mengusap lembut perut istrinya hingga Anja terlelap. Buyar sudah rencana untuk mengunjungi calon anaknya.
*****
*****
*****
*****
*****
Sumpah Zi, emak kemekelen π€£π€£π€£
Tapi juga sakno π€ noh, mizz Lux nganggur ππ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ