Candamu Canduku

Candamu Canduku
SLC 09



Dua tahun kemudian......


Camelia sekarang sudah berusia empat setengah tahun dan sudah bersekolah di sekolah PAUD yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah makan Bu Mayang. Dengan berjalan kaki, Laras mengantarkan Camelia pergi ke sekolah, dan menunggunya hingga kelas usai.


Satu tahun yang lalu Seno sempat mengutarakan keinginannya untuk menjadikan Laras sebagai pendamping hidupnya. Namun Laras yang menyadari kekurangan dirinya dengan halus menolak lamaran dari Seno. Padahal Bu Mayang dan juga kedua mertua Seno yang ada di desa sudah memberikan restu kepada mereka berdua. Mungkin Laras masih trauma dengan rumah tangganya bersama Radit dulu. Apalagi dirinya yang sudah divonis oleh dokter akan sulit untuk hamil kembali. Padahal Seno tidak mempermasalahkan itu, apalagi mereka sudah memiliki Camelia sebagai anak mereka.


Hingga saat ini pun Seno masih setia menunggu hingga Laras mau membuka hati untuknya.


"Ayah!" Teriak Camelia saat melihat ayahnya memasuki rumah makan. Camelia yang saat itu sudah siap dengan setelan seragamnya melipat kedua tangannya di dada seraya mengerucutkan bibirnya. Seno segera menghampiri putrinya dan langsung mengangkatnya ke dalam gendongan.


"Putri ayah sudah cantik gini." Seno menciumi wajah cantik putrinya. "Mana Buna sayang?" Seno celingukan mencari Laras.


"Di rumah!" Jawan Camel ketus. "Sejak tadi di tunggu Buna sama Oma buat sarapan bareng, tapi ayah gak datang-datang!"


"Iya maaf! Habisnya nggak ada yang bangunin ayah, jadi ayah bangunnya kesiangan. Ya udah kita ke rumah, let's go!" Dengan menggendong Camelia, Seno melangkah ke rumah melalui pintu samping.


"Siapa suruh ayah nggak tidur di sini aja?" Protes Camelia dalam gendongan ayahnya. Seno menghentikan langkahnya sejenak.


"Makanya Camel bantuin ayah buat bujuk Buna, supaya bunda mau nikah sama ayah. Biar nanti kita bisa bobok bertiga."


"Memangnya Camel nggak pengen bobo bertiga bareng ayah bareng Buna?" Lanjut Seno mengompori pikiran polos anaknya. Sejenak Camelia nampak berpikir, mencerna perkataan ayahnya dalam otak kecilnya.


"Gimana? Camel setuju nggak kalau ayah nikah sama Buna? Kalau ayah nggak cepet nikah sama Buna, nanti takutnya Buna diambil orang." Seno mencoba menakut-nakuti anaknya agar mau membantunya membujuk Laras.


"No! Buna milik Camel!" Pekik Camelia.


"Iya, makanya itu ayah harus nikah sama Buna secepatnya agar nggak ada yang berani mengambil Buna dari kita." Camelia nampak mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan sang ayah.


"Oke, Mel bantu buat bujuk Buna agar Buna mau nikah sama ayah secepatnya."


"Nah, gitu dong. Itu baru putri ayah yang paling cantik namanya." Seno mengangkat tangannya untuk bertos ria dengan anaknya. Camel pun segera membalas tangan ayahnya dengan tepukan keras karena terlalu bersemangat. Seno melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah yang pintunya terbuka lebar.


"Waalaikum salam!" Sahut Bu Mayang yang sudah berada di ruang makan menunggu kedatangan Seno. Seno segera meraih tangan Bu Mayang kemudian menciumnya.


"Laras mana Bu?" Tanya Seno karena tak mendapati Laras ada di sana.


"Tadi habis masak katanya mau mandi dan belum keluar lagi dari kamar." Camelia yang tadi sudah duduk cantik di salah satu kursi yang ada di ruang makan tersebut langsung turun dan berlari menuju ke kamar Laras yang selama ini ditempati olehnya dan bunanya.


Tok.. tok.. tok..


"Buna! Ayah sudah datang ayo kita sarapan bersama." Teriak Camelia dari depan pintu. Tak lama pintu terbuka dan munculah Laras yang sudah terlihat cantik dan siap mengantarkan Camelia berangkat ke sekolah.


Mereka berempat akhirnya sarapan bersama dengan diiringi celotehan Camelia menceritakan tentang kegiatannya saat di sekolah.


*****


*****


*****


*****


*****


Timingnya emak percepat biar sama dengan novel "Luka Hati Luka Diri" dan novel "I Love You My Baby" πŸ€—


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ